Mengejar McFlurry ke Negeri Cina

Sabtu, 4 Mei 2013

McFlurry oh McFlurry. Haha. Silly banget ini memang. McFlurry… McFlurry (sembah-dewa). Sabtu pagi itu berjalan seperti biasa. Layaknya manusia normal lainnya, gue datang ke sekolah sambil berharap dalam hati bakal ada hujan lebat plus badai serta halilintar, supaya nggak senam pagi di lapangan. Tapi, sepertinya Dewa Angin tengah berlibur sementara ke Maldives dan bersantai di Palm Beach Resort saat gue sedang super-duper membutuhkannya, karena buktinya Sabtu pagi itu terlihat sangat cerah yang nyatanya tidak sesuai dengan harapan. Matahari dengan semangat ’45 menyinari lapangan olahraga pagi itu. Tak pelak, dengan gaya zombie kece, gue setengah berlari bergerak ke lapangan karena tak lama lagi senam pagi akan dimulai. Tapi memang awalnya nggak niat senam, jadi yah gitu aja suer. Senamnya gue kayak orang patah tulang—gerak-gerak dikit.

Pukul 8 pagi pun pelajaran pertama dimulai. Debate. Oh, pelajaran itu berlalu seperti angin. Cepat banget. Gue lagi pengin lama-lama di jam mulok padahal. Jam istirahat pun tiba. Dasar movie-freak, gue sama the folks lainnya, Ika, Haiqal, Fulrisami malah nge-stuck di kelas nonton Wedding Dress—film Korea tersedih yang pernah ada. To be honest, seriusan, gue udah pernah nonton film itu di rumah dan udah tahu jalan ceritanya. Tapi, nggak tahu kenapa, nonton lagi itu tetap buat kita termehek-mehek—over. Ceritanya terlalu sedih sih. Si Haiqal nggak berhenti-henti nanya berulang kali kayak alaram, “sedihnya di bagian mana, sih?”—gue sampai jengah dengernya. Jelas-jelas ceritanya sedih, dianya malah ketawa—tebak siapa yang waras?

Setelah filmnya habis… “Huaaaa! Sedih banget filmnya” (kucek-kucek mata), kata si Haiqal dangdut satu itu. Dasar ga waras. Nah, ini dia permulaannya, saat Haiqal ntah Fulristami yang bilang, “Pengin McFlurry”. Gue jadi pengin to the max juga, “Iya….” (sambil membayangkan McFlurry karamel). “Ayolah, gerak sekarang. Beli McFlurry” Haiqal dangdut berkata. “Ayooooo!” kata gue dengan semangat ’45.

Jadilah kita pergi. Ika bareng Haiqal dan gue bareng Fulristami aka Ipul, naik motor. Rencananya, kita bakal singgah dulu di rumah Ipul buat ambil mobil—jadi ga ribet pakai motor banyak-banyak.  Dalam hati nih.. “WE ARE FREE AS A BIRDS!”. Tiba-tiba, di salah satu  persimpangan di Bengkong—daerah rumah Ipul, nggk tahu gimana ceritanya, tiba-tiba hujan dan jalan turunan itu seketika menjadi licin. Bliz! Gue sendiri nggak tahu lagi kelanjutannya karena tiba-tiba gue dan Ipul udah berserak di aspal—tersungkur, jatuh hingga guling-guling nyium aspal. Berselang beberapa detik kemudian, Ika dan Haiqal pun juga ikut jatuh ke aspal. Dazzz, kita semua berserakan di jalan—yang mana sampai sekarang, gue masih tak henti-hentinya bersyukur, untung nggak ada kendaraan mobil atau motor yang tengah melaju dari arah belakang. Parahnya, jalan turunan tempat kami jatuh itu banyak truk berseliweran. Masih nggak kebayang, gimana kalau ada kendaraan dari arah belakang. Ya Allah, semua itu terjadi tanpa diduga. Gue langsung gemeteran. Anehnya, walaupun lutut, siku, dan tangan berdarah perih gitu, gue sama sekali nggak bisa nangis. Cuma diam sebentar, nahan perih dan akhirnya ketawa gara-gara si Haiqal dangdut itu bilang, “Aduh, cewek banget sih. Biasa aja lagi. Ngapain takut. Cuma jatuh gitu aja pun. Nggak pa-pa. Kita keren kok.” Hhhh, dasar sarap. Itu anak bisa-bisanya santai setelah kita berserakan di aspal karena keadaan jalanan yang licin.

Akhirnya, kita semua tetap ke rumah Ipul, bersihin luka-luka yang ada. Setelahnya, dasar McFlurry-freak, kita semua tetap melanjutkan destinasi ke Mc Donald’s untuk beli McFlurry idaman itu. Gilakkkk, masih nggak habis pikir, baru jatuh lho padahal. Tapi McFlurrynya tetap dong ya hehehe. Tak hanya McFlurry sebenarnya, plus beef burger juga hihi. Kita takeaway sambil makan di mobil. Setelah itu, kita pun lanjut ke rumah Raka untuk latihan musik. Sesampainya, di rumah Raka, yang lain pada menatap heran dengan pandangan heran bercampur bingung saat lihat penampilan kami yang berantakan. Jancuk! Baju olahraga yang putih bersih itu berubah warna jadi hitam karena nyapu aspal. Lame! But it was great.

Haiqal Muhammad
Silly face of Haiqal
Fulristami Zaenab
Fulristami aka Ipul
McDonald's
beef-burger
McFlurry Choco

McDonald’s Part 2

Minggu, 5 Mei 2013

Matahari Minggu pagi itu memang nggak bisa diajak kompromi. Cerah banget. Padahal gue berharap ada hujan lebat plus badai. Gilaaak, nggak mutu banget ye moto hidup gue, tiap hari berharap hujan. Hehehe. Minggu itu gue ada rencana mau latihan musik di rumah Raka bareng anggota musik lainnya, Jeremy, Pieter, Raka, Sahat, Haiqal, Abid, Fauzan, Denis, Fulristami, Fiha, dan Ika. Kata Pieter, “Latihannya jam 11 ya. Eh, nggak jadi, jam 10 aja. Biar nggak ngaret. Tapi mulainya jam 11.” Oke sipppp.

Jam 10, tiba-tiba hujan turun. “Alhamdulillaaaaaaah”, ucap gue dalam hati. Jadilah pas hujan itu gue masih bergelung di bawah selimut sambil membaca novel sastra, Layar Terkembang karya S. Takdir Alisjahbana. Tiba-tiba, ada SMS, tring… 

Ika      : Reta, pergi ke rumah Raka, kan?

Reply: Iya

Ika      : Udah siap-siap?

Reply : Belum

Ika       : Buruan siap-siap. Cepat.

Reply : Errrrr malas

Ika       : Cepat

Reply : Ok

………….sesampainya di rumah Raka

“Hai!” sapa si tuan rumah yang belum mandi yang tengah asik dengan game FIFA-nya. Hohoho, jam telah menunjukkan pukul 12 siang saat anggota yang lain belum pada datang—yang ternyata memang tidak pada datang, kecuali kita berlima plus Raka tentunya sebagai si tuan rumah. Tiba-tiba, teve yang ada di depan mata tengah mengiklankan burger McDonal’s. “Haduh, McDonald’s udah manggil. Aku mandi dulu ya, we. Ntar kita pergi.”

Gue, Ika, Fiha, Fulristami, dan Haiqal langsung manggut-manggut setuju. “Ayoooooo!” kata gue semangat. 15 menit kemudian, Raka pun selesai mandi di mana kemudian kita langsung terjun ke McDonald’s. Kalau kali ini, Raka yang ngidam berat sama McDonald’s. Beberapa belas menit kemudian, kita sampai di McDonald’s—heaven!

Tiba-tiba, Abid anggota musik lainnya muncul juga di McDonald’s—yang sampai sekarang gue nggak ngerti dia muncul tiba-tiba gitu darimana. Akhirnya kita semua serentak pesan Panas Special McDonlad’s beserta coke-nya. Tadi, kita perginya pakai dua mobil. Mobil Haiqal dan Fulrisami. Karena Fulristami aka Ipul langsung balik ke rumahnya yang dekat dengan McDonald’s, gue barenga Raka, Ika, an Fiha berpikir keras gimana caranya kita balik lagi ke rumah Raka, karena semua barang-barang kita ada di rumahnya Raka. Haiqal—yang sebenarnya ada acara lagi sehabis di McDonald’s tentunya tidak dapat mengantarkan kami lagi balik ke rumah Raka. Setelah bepikir keras mencari solusi, akhirnya Haiqal dangdut itu berbaik hati mengantari kami sampai halte depan Rumah Sakit Awal Bros, sehinga kami yang kecehhh ini bisa naik busway ke rumah Raka di Jalan Palapa. Akhirnya, dengan membayar Rp. 12.000,- kita berempat—gua, Fiha, Raka, Ika, sampai dengan selamat di rumah Raka berkat bantuan dari oom supir busway yang punya kumis kece tersebut. Sipppp, perut kenyang hati pun senang. Jadi, intinya hari itu kami tidak jadi latihan musik hehehe.

McDonald’s Part 3 with Momma and Paprock

Senin, 6 Mei 2013

Sepulang sekolah, gua langsung latihan musik di rumah Raka, which ya know, we… yes too much rambling there at Raka’s but it was good, anyway. Nah, pas selesai latihan sekitar jam 5, gue…. tidak langsung pulang ke rumah sodarah-sodaraaaah, melainkan singgah ke McDonald’s dulu sama momma & paprock. Yippi, McDonald’s all the time. Si papa… biasa… kangen McD udah kayak orang ngidam. So, we had an early dinner there xoxo.

McDonald's

Legit Pictures 2013

Rabu, 8 Mei 2013

Rabu ialah hari terkece di dunia. Kami, XI-IPA 5—SMAN 1 Batam menampakkan euforia kemenangan akan libur 1 hari pada hari Kamis yang akan datang. “Yayyyyy!” Jadi, di hari yang berbahagia itu, gue dan the folks yang merasa takaran gilanya sama kayak gua mengambil beberapa foto yang bisa dijadikan sebagai album dalam kenangan manis SMA di hari Rabu yang cerah. Here we go!

Rakadrian Nugraha dan Haiqal Muhammad
Jack dan Rose wannabe by Haiql Muhammad and Rakadrian Nugraha
Haiqal Muhammad
Dablo by Haiqal dangdut
Ivo Mario
Super Mario Brossss, Ivo!
Rakadrian Nugraha
sleeping beauty

Cinema with Momma and Paprock

Kamis, 9 Mei 2013

Yihaaaaa! Tanggal merah yang satu ini memang harus dinikmati dengan sungguh-sungguh. Santai sejenak dari rutinitas sehari-hari rasanya tidak ada yang salah hehehe. Jadi, pada Kamis yang legit itu, gua ngajak mama sama papa untuk nonton 9 Summers 10 Autumns di bioskop 21, Nagoya Hill. 

9 summers 10 autumns (3)
9 Summers 10 Autumns the movie
9 Summers 10 Autumns
poster

9 Summers 10 Autumns

Guess what? Gue berani bilang bahwa ini film Indonesia yang sangat inspirasional yang pernah ada. Gue rasa ini film yang wajib ditonton oleh kita semua anak Indonesia yang kadang merasa jenuh atau putus asa dengan kehidupan. Perasaan gue setelah nonton film 9 Summers 10 Autumns adalah lega. Iya, lega. Lega bahwa akhirnya gue yakin dengan sepenuh hati, hidup ini hanya butuh keberanian. Usaha dan kerja keras adalah pelengkapnya. Intinya adalah sebuah keberanian. Film ini sukses bikin gue termehek-mehek, nangis, you know, beneran nagis tersedu-sedu tapi juga bisa tertawa dalam waktu yang bersamaan. Film ini bikin gue sadar kalau hidup ini tidak pantas untuk dikeluhi barang sebentar. Hidup ini hanya untuk dijalani, bukan dikeluhi. I rated this movie 10/10. Ini adalah film Indonesia terbaik yang pernah ada.

Jadi, film 9 Summers 10 Autumns adalah film yang mengisahkan tentang seorang anak supir angkot yang dengan segala keterbatasan orangtuanya dapat menggapai New York dengan kerjakeras dan kesungguhan hatinya. Iwan, dikisahkan sebagai anak supir angkot di daerah Batu, Malang yang hidup dengan serba kekurangan, tapi berlimpah kasih sayang dari kedua orangtuanya, ibu dan bapak. Ibu, tak pernah menyerah untuk berjuang membesarkan anaknya dengan suaminya yang hanya bekerja sebagai supir angkot dengan kelima anaknya. Iwan adalah anak ketiga dari bapak dan ibu, anak lelaki satu-satunya yang bapak harapkan dapat menjadi penerusnya sebagai kepala keluarga dengan bekerja sebagai supir angkot.

Tapi, jalan kadang tak sesuai dengan yang telah terpetakan saat Iwan mendapat beasiswa kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB). Iwan memiliki tekad yang kuat untuk meneruskan kuliahnya dengan beasiswa prestasi tersebut, namun dilema muncul saat sang bapak bersikeras agar anaknya tetap tinggal di Batu dan membantunya mencari nafkah sebagai supir angkot. Iwan mengurungkan niatnya sejenak untuk kuliah. Namun dalam hati, api semangat untuk kuliah itu tak pernah padam dalam hatinya.

Suatu hari, bapak pun luluh hatinya saat melihat tekad anaknya bersungguh-sungguh untuk meneruskan kuliahnya. Bapak pun menjual angkotnya untuk membiayai keperluan sehari-hari Iwan di Bogor. Bagian ini buat gue nangis tersedu-sedu, saat sang bapak memutuskan untuk menjual angkotnya agar dapat membiayai keperluan anaknya sehari-hari saat kuliah di Bogor.

Perjuangan bapak rasanya tak sia-sia saat Iwan akhirnya lulus dengan predikat cum laude. Setelah lulus kuliah, ia pun mulai bekerja di Jakarta sebagai data analis. 3 tahun kerja kerasnya sebagai data analis di Jakart rasanya terbayar dengan tawaran kerja di New York yang didapatnya beerkat kerja kerasnya itu. Di New York, karirnya pun melesat cepat hingga tak terasa telah 9 musim panas dan 10 musim gugur ia lewati di New York dengan posisi terakhir sebagai Director Internal Client Management Data Analysis and Consulting Nielsen Consumer Research New York, Amerika Serikat. Setelahnya, ia sempat ditawari posisi direktur di Eropa  saat akhirnya ia memutuskan untuk menolaknya dan memilih balik ke Indonesia setelah melewati 9 musim panas 10 musim gugur di negeri Paman Sam tersebut.

Film ini pantas direkomendasikan untuk wajib ditonton oleh semua kalangan. Film Indonesia inspirasional yang satu ini sangat sarat makna. Film 9 Summers 10 Autumns ini diangkat dari novel yang berjudul sama, yang diangkat dari kisah nyata, yaitu kisah asli penulisnya sendiri yaitu Iwan Setyawan. It was perfectly good! You gotta see! Here… some pictures of the movie.

9 Summers 10 Autumns
part of the movie
9 Summers 10 AUtumns
part of the movie
9 Summers 10 Autumns
part of the movie

McDonald’s Part 4

Jumat, 10 Mei 2013

Hehehehehe, iya. I’m addicted to McDd’s. Untuk kesekian kalinya dalam minggu ini, gue ke McDonald’s lagi. Kali ini bareng Haiqal, Abid, dan Fulristami aka Ipul. Gua pesan Big Mac yang super-duper jumbo dan kembali ke sekolah lagi dengan perut super kenyang tepat sebelum shalat Jumat dimulai, karena Haiqal dan Abid harus shalat Jumat, hihi.

McDonald's Big Mac Burger
Big Mac Burger-nya McDonald’s
Glass
Pesan Big Mac Burger dapat gelas cantik ini dari CocaCola

McDonald’s Part 5

Sabtu, 11 Mei 2013

Hehehehe, yesssss, you’re right. Gue pergi lagi ke McD’s hari Sabtu itu hehehe. Kali ini gue pergi bareng Raka, Alit, Haiqal, Gilang Delana aka Yayang, Fulristami aka Ipul. Tak lama sesampainya di McD’s, tiba-tiba Ivo menelepon Alit, mengatakan bahwa ia akan menyusul juga ke McD’s bareng yang lain. Tak lama, Ivo dan yang lain, di antaranya Hania, Mila, Suci, Dwi Putri, Rio, Luqman menyusul ke McDonald’s. So, there we go, had lunch and lil bit rambling about 2-3 hours and then we went to school again hehehe. Here… some photos of our silly-faces.

Haiqal Muhammad, Gilang Delana Putri, dan Rakadrian Nugraha Gilang Delana Putri, dan Rakadrian Nugraha Reta Riayu Putri dan Fulristami Zaenab Haiqal Muhammad dan Gilang Delana Putri Gilang Delana Putri dan Rakadrian Nugraha Fulristami Zaenab, Reta Riayu Putri, Haiqal Muhammad, Gilang Delana Putri, Dwi Putri Julianti, Mila Baarik Iman Sari Fulristami Zaenab, Reta Riayu Putri, Gilang Delana Putri, Mila Baarik Iman Sari Gilang Delana Putri dan Mila Baarik Iman Sari Reta Riayu Putri dan Fulristami Zaenab Gilang Delana Putri, Dwi Putri Julianti, Suci Womantri, Reta Riayu Putri, dan Fulristami Zaenab Mila Baarik Iman Sari, Fulristami Zaenab, Reta Riayu Putri, Hania Rizkieta Hazah, Suci Womantri, Dwi Putri Julianti, dan Gilang Delana Putri. Mila Baarik Iman Sari, Fulristami Zaenab, Reta Riayu Putri, Hania Rizkieta Hazah, M. Luqman Hidayat, Suci Womantri, Dwi Putri Julianti, dan Gilang Delana Putri. Mila Baarik Iman Sari, Fulristami Zaenab, Hania Rizkieta Hazah, dan Haiqal Muhammad Mila Baarik Iman Sari, Fulristami Zaenab, Reta Riayu Putri, Hania Rizkieta Hazah, Dwi Putri Julianti dan Haiqal Muhammad Mila Baarik Iman Sari, Fulristami Zaenab, Reta Riayu Putri, Suci Womantri, Hania Rizkieta Hazah, Dwi Putri Julianti, Haiqal Muhammad, dan Gilang Delana Putri Mila Baarik Iman Sari, Fulristami Zaenab, Reta Riayu Putri, Suci Womantri, Hania Rizkieta Hazah, Dwi Putri Julianti, dan Gilang Delana Putri Mila Baarik Iman Sari, Fulristami Zaenab, Reta Riayu Putri, Suci Womantri, Hania Rizkieta Hazah, dan Gilang Delana Putri Mila Baarik Iman Sari, Fulristami Zaenab, Reta Riayu Putri, Suci Womantri, Hania Rizkieta Hazah, Dwi Putri Julianti dan Haiqal Muhammad Mila Baarik Iman Sari, Fulristami Zaenab, Reta Riayu Putri, Hania Rizkieta Hazah, M. Luqman Hidayat, Suci Womantri, Dwi Putri Julianti dan Gilang Delana Putrii + Raka's mouth

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s