The Big Lunch of Syndicate

Rite, this is Syndicate, class who’ll make you mesmerized, nah! Btw, Syndicate had a big lunch on Wednesday, January 23, 2013. Ngehehe, we had fun on that day. Just so you know, lol. Alright, here we go!!

To be honest, it’s such a silly day for us which ya know, that we had a great time for the umpteenth time especially, in that superb-silly-Biology-class, with our fave teacher, Bu Eldia Gushinta, Bu Ogsfika Yotri, and Bu Nahda.

Reta Riayu Putri's - SMAN 1 Batam
Biologi, Kelompok 6 – SMAN 1 Batam
Reta Riayu Putri's - SMAN 1 Batam
Biologi Kelompok 6 – SMAN 1 Batam
Reta Riayu Putri's - SMAN 1 Batam
Biologi, Kelompok 6 – SMAN 1 Batam
Reta Riayu Putri's - SMAN 1 Batam
Biologi, Kelompok 6 – SMAN 1 Batam
Reta Riayu Putri's - SMAN 1 Batam
Biologi, Kelompok 6 – SMAN 1 Batam
Reta Riayu Putri's - SMAN 1 Batam
Biologi, Kelompok 5 – SMAN 1 Batam
Reta Riayu Putri's - SMAN 1 Batam
Biologi, Kelompok 2 – SMAN 1 Batam
Reta Riayu Putri's - SMAN 1 Batam
Kelompok 2 Biologi
Reta Riayu Putri's
Kelompok Biologi
Reta Riayu Putri's - SMAN 1 Batam
Biologi, Kelompok 1 – SMAN 1 Batam
Reta Riayu Putri's
Biologi Kelompok 3 – SMAN1 Batam
Reta Riayu Putri's
Biologi Kelompok 3 – SMAN 1 Batam
Reta Riayu Putri's
Yayang looks so freakin starving! :p
Reta Riayu Putri's
“look at me”
Reta Riayu Putri's
Dela Rizkyani dan Gilang Delana Putri
Reta Riayu Putri's
Kelompok 6, Biologi
Reta Riayu Putri's
Dela Rizkyani
Reta Riayu Putri's
Kelompok 6, Biologi
Reta Riayu Putri's
Biologi, Kelompok 6
Reta Riayu Putri's
Biologi Kelompok 6
Reta Riayu Putri's
Rofidah Umniyati
Reta Riayu Putri's
Kelompok 5, Biologi
Reta Riayu Putri's
Kelompok 6 Biologi
Reta Riayu Putri's
Biologi Kelompok 2
Reta Riayu Putri's
Biologi Kelompok 6
Reta Riayu Putri's
Biologi
Reta Riayu Putri's
Superb-Salad!!
Reta Riayu Putri's
TAKE IT!!!
Reta Riayu Putri's
NARSISME OF IVO!!
Reta Riayu Putri's
“kekhusyukan saat makan”
Reta Riayu Putri's
Bu Shinta
Reta Riayu Putri's
wut wuttt
Reta Riayu Putri's
Yes, we are starving
Reta Riayu Putri's
Superb-Longorrr!
Reta Riayu Putri's
afterrr
Reta Riayu Putri's
nyehaha
Reta Riayu Putri's
There’s Sun Go Kong!!
Reta Riayu Putri's
Alesana’s plate
Reta Riayu Putri's
lu bosen ga liat ini orang?Reta Riayu Putri's
senasib-sepenanggungan
Reta Riayu Putri's
Mr. want-to-know
Reta Riayu Putri's
It’s time to “beberesan”
Reta Riayu Putri's
who is this?
Reta Riayu Putri's
riang-kenyang-senang
Reta Riayu Putri's
had-a-great-time
Reta Riayu Putri's
salagadoola

Euforia PSP 5 hingga Surat Terbuka untuk Presiden

“Nak, kamu ikut lomba tulis surat terbuka untuk presiden, ya.” this is the beginning. Sabtu, secara tiba-tiba, Bu Yotri, guru bahasa Indonesia di tempat saya bersekolah, SMAN 1 Batam menyarankan agar saya mengikuti lomba yang terbuka untuk seluruh Indonesia itu.

“Oh, iya, Bu” jawab saya singkat sementara neuron dan cerebrum saya masih bersinergi mencerna kata-kata Bu Yotri tadi. Hal pertama yang ada di pikiran saya adalah, mau nulis tentang apa, ya?

Here we go!! Suatu malam, saya terbangun, you know, in the middle of the night, ah cheesy! Oke, ini beneran. Jam dua malam gue bangun antara sadar dan tidak. Mencari-cari HP di nakas dan menyadari bahwa jam masih menunjukkan pukul 2 pagi. I can’t help but scream “WHAT THE HELL AM I SUPPOSE TO DO??”

Automatically, I opened my laptop and starting to write my open letter to Mr. President. Just so you know, tema yang akhirnya gue ambil adalah pendidikan. Sebelumnya, sebuah TV swasta sempat menayangkan bagaimana rapuhnya dunia pendidikan di Indonesia, seperti, sekolah yang sudah rubuh, transportasi ke sekolah yang terputus, dan kisah-kisah lainnya yang semua orang brainless lainnya bakal nganggap itu klasik (baca ini: Benang Kusut Pendidikan di Indonesia dan Kontroversinya)

Jadi, jam dua pagi itu, gue berapi-api menuliskan rapuhnya pendidikan di Indonesia yang mana seyogyanya, pasti bakal dianggap klise sama orang banyak di mana cerebrum gue cuma meneriakkan “WHO CARES?” dan awkward-nya, I can’t stop writing. Batas penulisannya hanya tiga halaman which I want to write it more. Jadilah naskah 3 halaman itu yang saya kirim ke pihak panitia. Setelah membuatnya jam 2 pagi, gileee, itu pure ga ada diubah-ubah lagi. Ga ada proses editing, karena gue langsung kirim ke pihak panitia. Well, that’s it!

Dan alhamdulillah, tanpa disangka, di malam puncak Pasar Seni Pelajar 5 – SMAN 4 Batam sebagai penyelenggara acara, yang diselenggarakan di Sumatra Convention Centre, Batam, Kepulauan Riau, mengumumkan bahwa open letter that I wrote nyabet ke posisi 9 dari 15 terbaik yang diumumkan. Di mana, 15 penulis terbaik, diberi sertifikat dan karyanya akan dibukukan. Thank, God! I don’t expect You too much but this one is enough for me.

Berikut adalah surat terbuka untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang saya tulis.

Yth, Presiden Republik Indonesia

di Jakarta

“Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?

Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah

Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah

Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah”

 

Bapak presiden yang terhormat, penggalan bait puisi karya Adhie Massardi di atas mungkin terkesan klise bagi sebagian orang. Untaian kata demi kata dari bait puisi sederhana tersebut mungkin saja dipandang sebelah mata. Walau bagaimanapun, puisi tersebut sebenarnya merupakan jeritan hati terdalam dari seorang rakyat biasa yang hidup di era demokrasi seperti sekarang ini. Keluh kesah tersebut tidak lain bagaikan rintihan kawula alit yang berjuang keras memahami keadaan negerinya yang semakin kontras dengan nilai-nilai kestabilan dan kemakmuran yang ada.

Kemiskinan seakan tidak pernah ada habisnya. Permasalahan yang disebabkan oleh garis kemiskinan di negeri ini seakan sudah menjadi hal yang lumrah. Masalah kaum proletar ini semakin memprihatinkan saat Badan Pusat Statistik atau BPS merilis data terbarunya yang menyebutkan sedikitnya terdapat 30 juta lebih penduduk Indonesia yang hidup di garis kemiskinan.

Presiden yang terhormat, imbas dari permasalahan kemiskinan di Indonesia tentu saja mempengaruhi mutu sumber daya manusia yang ada. Setiap tahun jutaan anak Indonesia terpaksa putus sekolah karena kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan. Sebagian dari kita tentu saja khawatir melihat kondisi yang sangat memprihatinkan tersebut. Namun sebagian dari kita mungkin saja bersikap acuh melihat fakta tersebut.

Seyogyanya, hal terpenting untuk menumpas kemiskinan di Indonesia adalah dengan meningkatkan mutu sumber daya manusia yang ada. Peningkatan mutu sumber daya manusia tersebut tentu saja ditingkatkan melalui mutu pendidikan yang tinggi pula. Permasalahan besar yang muncul saat ini adalah seberapa besar kebijakan yang diambil untuk memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia yang terkesan carut-marut dengan berbagai permasalahan yang menghantuinya.

Presiden yang terhormat, rendahnya mutu pendidikan di Indonesia sudah menjadi santapan berita sehari-hari. Anggaran untuk pendidikan yang rendah, jutaan anak Indonesia yang putus sekolah, penyelewengan dana untuk pendidikan oleh oknum tertentu, hingga tidak layaknya bangunan sekolah untuk dijadikan sebagai tempat belajar adalah sebagian kecil di antara problematika yang menghantui dunia pendidikan kita. Contoh sederhananya adalah ketidaklayakan sebagian bangunan sekolah di Indonesia untuk dijadikan sebagai tempat belajar. Bangunan sekolah yang rapuh hingga tidak layak digunakan sebagai tempat belajar sudah seharusnya dianggap sebagai suatu masalah yang serius dan perlu perhatian khusus dari pemerintah. Hal ini dirasa begitu kontras dengan megahnya bangunan gedung-gedung pemerintahan yang ada.

Sebagian dari kita mungkin saja menutup mata melihat rendahnya mutu pendidikan di Indonesia. Namun, tak dapat dipungkiri hal inilah yang menjadi landasan untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa Indonesia yang lebih baik untuk ke depannya. Permasalahan kaum proletar seperti kemiskinan dan lain sebagainya tentu saja berpangkal dari rendahnya mutu pendidikan kita. Permasalahan di dunia pendidikan inilah yang seharusnya lebih diutamakan untuk diselesaikan.

Presiden yang terhormat, masalah serius di dunia pendidikan kita yang semakin memprihatinkan kerap kali dianggap sebagai angin lalu. Sudah saatnya kita mulai berbenah diri menyadari arti penting pendidikan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat sehingga dapat terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. Pendidikan adalah kunci dari semua problematika yang ada di negeri ini. Dengan tingginya mutu pendidikan maka tinggi pula mutu sumber daya manusia yang ada. Sudah saatnya kita membuka mata, hati, dan pikiran kita mencermati secara serius mengenai permasalahan-permasalahan di dunia pendidikan itu sendiri

Indonesia sebagai negara berkembang tentu saja harus menyadari arti penting pendidikan sebagai bekal untuk menyelesaikan berbagai masalah baik politik, sosial, ekonomi, dan lainnya yang mengendap di bumi Indonesia. Tidak pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Indonesia tercinta ini harus mengerahkan sekuat tenaga untuk menyelesaikan berbagai permasalahan negeri ini dengan memperbaiki mutu pendidikan itu sendiri.

Presiden yang terhormat, demikian surat terbuka ini, semoga berkenan membaca dan menindaklanjutinya dalam gerak langkah yang nyata untuk Indonesia yang lebih baik.

1360757234455
Sertifikat Lomba Menulis Surat untuk Presiden – Reta Riayu Putri
Reta Riayu Putri's
Malam Puncak Pasar Seni Pelajar 5 – SMAN 4 Batam
Reta Riayu Putri's
Malam Puncak Pasar Seni Pelajar 5 – SMAN 4 Batam
2013-01-26 22.30.33 (1)
Malam Puncak Pasar Seni Pelajar 5 – SMAN 4 Batam
Reta Riayu Putri's
Malam Puncak Pasar Seni Pelajar 5 – SMAN 4 Batam
Reta Riayu Putri's
Malam Puncak Pasar Seni Pelajar 5 – SMAN 4 Batam
Reta Riayu Putri's
Malam Puncak Pasar Seni Pelajar 5 – SMAN 4 Batam

FORMAT RESENSI BUKU

by Reta Riayu Putri (retariayu.wordpress.com)

Got it! My favourite teacher, Bu Yotri (muah-peluk-cium-Bu-Yotri, I love Bu Yotri) just gave me bit task untuk meresensi novel, baik terjemahan atau asli Indonesia. Especially for my friends in XI-Science 5 (2012-2013) SMAN 1 Batam or Syndicate and all of you guys that wanna know how to make that “resensi”. Here we go!!

1.    Judul Resensi

  1. judul resensi harus menarik
  2. melingkupi keseluruhan tulisan/resensi tsb

2.    Data Buku

  1. judul buku
  2. pengarang
  3. penerbit beserta edisi cetakan
  4. tahun terbit
  5. tebal buku (jumlah halaman)
  6. harga buku

3.    Kalimat Pembuka Resensi

  1. dapat berisi pembahasan tentang penagarang, kaya dan prestasi
  2. membandingkan buku yang sejenis
  3. memaparkan kekhasan/sosok pengarang
  4. memaparkan keunikan buku
  5. tema : memaparkan kritiksn terhadap buku
  6. memperkenalkan penerbit
  7. mengajukan pertanyaan
  8. membuka dialog

4.    Tubuh atau Isi Resensi

  1. synopsis (ringakasan isi)
  2. ulasan singkat
  3. keunggulan buku
  4. kelemahan buku
  5. kerangka buku
  6. tinjauan bahasa
  7. kesalahan cetak
  8. penutup resensi : biasanya berisi simpulan bahwa buku tsb penting untuk siapa dan mengapa

Cerpen “Melukis Pelangi” oleh Reta Riayu Putri

… speechless!

Yes, absolutely! I don’t know what to say except thank, God. Really thank for all. 

1) I have no expectation untuk cerpen saya yang berjudul “Melukis Pelangi” tersebut.

2) Cerpen “Melukis Pelangi” yang saya buat pada bulan Desember 2011 itu sebenarnya adalah tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan guru pembimbing Ibu Yotri (beliau memberi tugas seisi kelas —X-D [2011-2012] SMAN 1 Batam— untuk membuat cepen).

3) And thank, God. Cerpen saya termasuk kategori terbaik di kelas pada waktu itu.

4) Iseng-iseng, saya mengirimkan cerpen “Melukis Pelangi” kepada redaksi Xpresi Batam Pos melalui e-mail pada tanggal 18 Desember 2011.

5) Minggu, 19 Februari 2012 pukul 14:40 WIB saya menerima pesan singkat dari teman sekelas saya, Rismawati.

          |  “Reta cerpenmu ada di Batam Pos” |

6) Masih tidak menyadari apa maksudnya. Lantas saya membalas pesannya.

         | “Cerpen siapa?” |

7) Dengan polosnya, saya menunggu balasan dari Risma kemudian. Sepersekian detik kemudian…

       | “Cerpenmu. Judulnya Melukis Pelangi.” |

8) SHOCK, masbro!! Wkwkwk. Ini beneran? Ujar saya dalam hati.

9) Dengan langkah cepat saya menuruni anak tangga untuk memberitahu Mama.

      | Saya: “Ma, cerpen kakak masuk koran.” |

      | Mama: “Beneran, Kak?” |

      | Saya: “Iya.” |

      | Mama: “Ntar ya Mama beli (koran Batam Pos, red) dulu.” |

 10) 20 menit kemudian saya telah duduk tegap di kursi membaca koran yang baru saja Mama beli sementara Mama sedang bertelepon ria dengan Papa memberitahu tentang cerpen saya yang baru saja di-publish oleh Batam Pos.

Nah! Guys, kalian semua juga bisa seperti itu. Pertama, kalau misalnya cuma iseng pengin coba nulis, buat aja dulu satu paragraf. Lalu, besok disambung jadi dua paragraf. Dan, lihatlah di hari-hari ke depannya, kumpulan paragraf itu bisa jadi sebuah karya yang indah untuk dibaca. Semua dimulai dari diri kita sendiri. Berusahalah melakukan yang terbaik di segala hal. Galilah potensi yang kita miliki dan syukuri akan segala yang telah kita punya pada saat ini. God is good.

Baik, di bawah ini adalah cerpen saya yang di-publish oleh koran Batam Pos pada hari Minggu, 19 Februari 2012.

MELUKIS PELANGI

OLEH: Reta Riayu Putri

 

Goresan awan kelabu menghias bentangan langit yang tadinya berwarna biru. Petir yang menyala-nyala seakan menegaskan kembali bahwa hujan akan segera turun dengan derasnya. Arnes mempercepat langkahnya menyusuri jalan setapak melewati lorong kecil di sebuah gang yang sempit.

“Kak Arnes,” panggil seorang anak kecil berpakaian lusuh dari belakang.

Seketika Arnes tersenyum lebar. “Hai,” katanya sembari menghentikan langkahnya menunggu anak kecil yang sedang berlari ke arahnya tersebut.

“Kamu sendirian?” tanya Arnes dengan tersenyum ramah setelah anak kecil itu berhasil menyamai langkahnya.

Anak kecil itu menganggukkan kepalanya sebelum kemudian berkata, “Iya, Kak. Karena yang lainnya udah pada nunggu duluan di Verde Casa,” jawab anak kecil itu sambil menatap ke arah Arnes. Verde Casa adalah tempat yang selalu ia singgahi setiap harinya sepulang sekolah. Verde Casa itu sendiri merupakan bahasa Italia yang artinya Rumah Hijau. Arnes menamainya demikian karena memang tempat itu sangat sejuk dengan nuansa hijau alami dari rerumputan dan pohon yang tumbuh di sekitarnya.

“Baiklah. Ayo, sudah mau hujan,” kata Arnes kemudian lalu menggamit tangan anak kecil itu menuju Verde Casa.

Hujan baru turun setibanya mereka di Verde Casa. Untungnya tempat ini dapat melindungi mereka di saat hujan seperti sekarang ini. Rumah kecil yang berada di tepi sungai Bertuah di bawah jembatan Tiban tersebut merupakan rumah milik salah satu penduduk sekitar yang bersedia rumah liar kecilnya itu dijadikan tempat untuk belajar bersama.

“Baiklah. Hari ini siapa yang bisa memahami pelajaran yang Kak Arnes berikan, akan dapat hadiah cokelat. Mau tidak?” kata Arnes sembari bertanya saat semua anak kecil yang putus sekolah itu telah duduk rapi di hadapannya siap untuk menerima pelajaran yang akan ia berikan pada sore hari ini.

Mata mereka berbinar-binar memancarkan semangat yang mereka miliki, “Mauuuuuuu!” teriak mereka kompak.

Arnes tersenyum lalu berkata, “Nah! Maka dari itu, dengarkan baik-baik apa yang akan Kak Arnes sampaikan ya. Kalau kalian dapat mengerti pelajaran yang Kak Arnes berikan, semuanya akan dapat hadiah cokelat.”

“Horeeeeee!” teriak mereka lagi secara bersama-sama.

Kemudian, anak-anak itu memperhatikan dengan serius pelajaran yang diberikan oleh Arnes.

“Jadi, jika kita sudah mempunyai dua buah apel, lalu membelinya lagi sebanyak lima buah, maka dengan begitu total apel yang kita miliki saat ini adalah tujuh buah. “ jelas Arnes kepada anak-anak kecil yang memerhatikannya dengan saksama.

Tiba-tiba, seorang anak kecil mengangkat tangannya untuk bertanya, “Kak, jadi kalau kita membelinya lagi maka hasilnya akan bertambah ya? Lalu, kapan buah-buah apel itu berkurang?” tanyanya polos.

Dengan senang hati, Arnes menerangkannya. “Buah apel yang kita miliki tersebut akan berkurang jika kita menguranginya. Misalnya, kita mempunyai lima buah apel, lalu memakannya sebanyak dua buah. Dengan begitu, buah apel yang kita miliki saat ini tinggal tiga buah dan begitu untuk seterusnya,” terang Arnes.

Semua anak kecil itu menganggukkan kepalanya secara bersama-sama pertanda mereka memahami materi yang baru saja disampaikan Arnes.

Arnes berjalan ke meja kecil yang ada di belakangnya lalu mengambil bungkusan plastik besar yang berisi cokelat. “Nah! Ini untuk kalian semua, “ kata Arnes sambil membagikannya kepada anak-anak kecil itu secara rata.

“Makasih, Kak Arneeeeessss!” seru mereka senang.

Arnes mengamati mereka yang sedang bersorak riang karena baru saja diberi cokelat. Ia melihat jam yang ada di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 17:30 WIB yang sekaligus menandakan berakhirnya pertemuannya dengan anak-anak kecil yang putus sekolah itu hari ini.

“Baik, terimakasih semuanya. Hari ini cukup sekian dari Kak Arnes. Sampai jumpa besok, semuanya.” tutup Arnes mengakhiri pertemuan mereka hari ini.

Tiga puluh menit berikutnya, Arnes telah sampai di rumahnya. Dengan malas ia berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai atas. Saat-saat seperti ini memang tidak ada siapa-siapa di rumahnya selain dirinya sendiri. Orangtuanya selalu sibuk dengan urusan masing-masing dan tidak pernah punya waktu luang untuk anak mereka sendiri. Terkadang, Arnes benci dengan keadaan rumahnya yang tidak pernah ada kehangatan keluarga di dalamnya.

Hingga pukul sebelas malam, orangtuanya belum juga pulang. Namun, tak lama kemudian terdengar suara mesin mobil dengan nyala lampu yang terlihat dari balkon kamarnya. Arnes hendak turun dari kamarnya untuk menemui kedua orangtuanya sekedar bertukar kabar tentang hari mereka masing-masing. Namun, niat itu ia urungkan saat mendengar keributan dari kedua orangtuanya.

“Papa pikir mama bekerja siang malam untuk siapa? Semuanya itu juga untuk Arnes!” mendengar teriakan mamanya seperti itu Arnes menahan kakinya agar tidak melangkah turun. Arnes memang sangat benci kondisi di mana orangtuanya terlibat pertengkaran hebat seperti sekarang ini.

“Mama pikir papa tidak?! Papa juga bekerja siang malam hanya untuk Arnes dan mama sendiri. Untuk apa lagi mama bekerja siang malam dan menelantarkan Arnes seperti itu setiap harinya? Lebih baik mama berhenti bekerja dan fokus dengan urusan rumah!”

Sepertinya di antara mereka berdua tidak ada yang mau mengalah. “Arnes sudah besar! Pasti ia bisa mengurus dirinya sendiri. Mama tidak perlu repot-repot mengantarnya ke sekolah di pagi hari lalu menjemputnya di siang hari. Arnes sudah kelas tiga SMA!” tekan mamanya yang seperti tidak mau mengakhiri pertengkaran mereka malam ini.

Arnes berlari menuju kamarnya lalu mengunci pintunya. Ia benar-benar tidak kuat melihat pertengkaran hebat kedua orangtuanya malam ini. Menurutnya tidak ada yang salah dengan kesibukan yang mereka miliki masing-masing. Asalkan, kedua orangtuanya itu bisa memberikan kasih sayangnya sebagai orangtua kepadanya di atas kesibukan yang mereka miliki.

Selama ini, ia memilih untuk meluangkan waktunya setiap pulang sekolah di Verde Casa selain untuk membantu anak-anak kecil yang putus sekolah itu, juga untuk membunuh rasa kesepiannya di tengah kesibukan kedua orangtuanya. Mengajari mereka berhitung, membaca, dan menulis adalah hal tulus yang ia lakukan dengan ikhlas untuk membantu anak-anak putus sekolah tersebut.

Namun, pada akhirnya Arnes tahu bahwa ia seharusnya bersyukur masih memiliki orangtua seperti papa dan mamanya yang masih bisa menyekolahkannya selama ini. Ia seharusnya bersyukur karena masih banyak anak-anak lain yang tidak dapat duduk di bangku sekolah. Kini, ia tidak lagi menyalahkan kedua orangtuanya seperti dulu yang selalu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing karena akhirnya ia tahu bahwa semua yang dilakukan oleh kedua orangtuanya itu semata-mata hanya untuk masa depannya. Waktu di mana ia merasa terpuruk akan kurangnya kasih sayang diberikan oleh kedua orangtuanya telah lewat dengan diisi keseriusannya dalam belajar agar dapat membanggakan kedua orangtuanya. Sekarang ia mengerti akan makna sebenarnya di balik semua itu.

Kini, Arnes sangat bahagia dengan ditemani kedua orangtuanya ia mendapatkan gelar sarjananya di Universitas Oxford, perguruan tinggi di Britania Raya. Ia percaya, segala sesuatu yang dilakukan jika dengan sungguh-sungguh dan bekerja keras pasti bisa terwujud. Bagaikan melukis pelangi, yang akan muncul setelah turunnya rintik-rintih hujan. Seperti itulah kesuksesan yang akan didapat setelah perjuangan yang dilakukan.

Catatan: Kebijakan para pembaca disarankan. No copyleft 🙂