Trip to Sambu

Aloha December! Bonjour. Ok, belated post. Nah! December 1st, 2013 I went to Sambu Island with my bestfriend, Ika. It’s located on the northwestern side of Batam island. We enjoyed every mins of that and got a lot things to do. Ok, my mistake. 1 thing, perhaps, because all we did over there is taking photo. We took photos every sec, alright every min. Silly and kinky rofl I knew. It such a selfie day for us.

Let me tell ya from the beginning. That day…

Ika, temen gue itu sms. Kira-kira isinya gini

‘Ta, belajar biologi bareng yuk’

‘Boleh. Kapan?’

‘Siang ini.’

Ok! Di mana?’

 ‘Pulau Sambu aja. Kita belajar di pantainya’

‘WHATTTT?!! Ayooooooo!’

‘Serius mau? Yaudah nanti aku jemput di rumah jam 2, ya’

‘Ok dahlingggg’

Jam dua pun tiba. Ika menjemputku di rumahku dengan sepeda motornya. Brum brum brum. Kita membelah jalanan kota Batam yang lumayan padat pada siang Minggu itu. Ceritanya, Senin besok, ada ulangan biologi. Jadi, kami berdua mau belajar di pantai, biar konsentrasi gitu ceritanya.

Grengggggg, Ika masih membelah jalanan kota Batam. Ia menyalip siapapun yang ada di depannya. Aku mengeratkan pelukanku. Ngga lucu aja kalau jatoh terus gue ketinggalan di jalan. Ngga lucu aja. Ika, pembalap profesional tingkat RT itu masih terus konsen ke jalan yang ada di depannya. Gue yang dibonceng di belakangnya bernyanyi riang dengan senangnya. Sambu, we are coming!

Sesampainya di pelabuhan Sekupang, Ika memarkirkan motornya. Oom penjaga parkir di situ datang menyapa.

“Mau nyebrang pulau ya, dek?”

“Iya, Om,”

“Hati-hati dek,”

“Kenapa, Om?”

“Mesin boat-nya tenggelam,”

“Hah, serius, Om??”

“Iya, dek,”

“Gimana ini?”

“Duh, kalau mesinnya ngga tenggelam, boat-nya ngga bisa jalan atuh dek. HAHAHAHAHAHHAHAHAHAHAHA”

HA-HA! Lucu, iye lucu. Garing. Masih kagak percaya gue bisa ketipu sama joke garing kayak gitu. Pengin tujes-tujesin oomnya ke lantai. Rggggh! Akhirnya, gue dan Ika membeli 2 tiket dengan tujuan pulau Sambu. Sepanjang perjalanan ke Sambu, gue ga berhenti-berhentinya ngucap dalam hati. Ini boat rada serem terombang-ambing di tengah lautan, miring kanan miring kiri. Tapi, tetep, foto-fotonya ngga ketinggalan. Sesampainya di Sambu pun, kita malah samasekali ngga ada buka buku bio. Malah foto-fotooooo terus sampai unyu.

2013-12-01 14.51.24

Trip to Sambu Island

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Kantor Syahbandar Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Pulau Sambu
Mesjid Al Muhajirin Pertamina Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Pulau Sambu

Trip to Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Trip to Sambu

Pulau Sambu

2013-12-01 15.25.00

Trip to Sambu

Pulau Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Pantai Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

2013-12-01 15.40.20

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

2013-12-01 16.27.03

Tanpa terasa, jam telah menunjukkan pukul 16.50. Kami bergegas balik ke tepian dermaga untuk balik ke Batam. Gue deg-degan abis. Ternyata boat terakhir yang akan membawa kami pulang ke Batam baru saja pergi. Alhasil, kami berdua pun termangu diam.

“Ret, terus gimana nih?”

“Iya. Padahal kita cuma telat beberapa detik aja,”

“Sekarang kita pulang naik apa dong?”

“Berenang aja yuk,”

“Ret, serius!”

“Iya, mau gimana lagi,”

Kekekeke, guess, enggak kok. Gue sama Ika nggabeneran berenang. Gile aja bro. Kagak mungkinlah. Gue belom minat ikut cast Titanic 2 kok, ngapain nekat berenang segala. ROFL OMFGGGG hahaha. Lucky me and Ika, limabelas menit kemudian, datanglah boat yang menepi.

“Om, ke Batam, ya,” (yehhh, lu kate naik keri Batu Aji)

“Cuma dua orang?!”

“Iya,”

“Kalau dua orang, tiketnya mahal dek,”

“Jangan mahal-mahal la, Om. Kami cuma punya sedikit uang,” (pasang muka sedih)

“Yaudah, ngga usah naik kalau gitu,”

“Om, tapi itu mahal banget, Om,”

“Cari orang dulu yang banyak, baru bisa murah,”

Gue bengong. Ini pulau udah sepi, terus disuruh cari orang dulu, yang sama-sama mau ke Batam, karena kalau cuma dua orang oomnya tak mau anterin. Gimana ceritanyaaaaaaaa. Gue bengong, lagi. Di dalam pikiran gue, ya udahlah, nggak papa. Kalau nggak pulang, jadinya nggak ulangan bio (salah fokus). Luckily (unluckily) tak lama kemudian, datanglah empat orang traveler lainnya yang luckily (unluckily) mau pulang ke Batam juga. Oom sampan yang betingkah tadi menepi lagi melihat setidaknya enam orang yang bakal balik ke Batam. Ia pun memasang muka senang.

“Ayo dek, naik,”

“Berapa jadi ongkosnya, Om?”

“Murah aja kok. Gampang itu,”

Gue bengong lagi. Ini oom lupa minum obat ya tadi pagi? Setelah semuanya naik, boat tersebut pun melaju. Baru beberapa detik boat tersebut membelah lautan, guess what, boat-nya mati. Oomnya menepi lagi.

Gue keringat dingin brooo. Gue menatap oomnya tajam. Apa lagi iniiii. Oh. Ternyata oomnya isi minyak dulu brooo. Gue bengong lagi. Pengin tujes-tujesin oomnya. Beberapa menit kemudian, boat-nya pun akhirnya jalan. Oomnya membelah lautan bak Sinbad di lautan sambil menghisap cerutunya. Sedaaah.

2013-12-01 16.51.40

IMG-20131201-00515

Tak lama kemudian, akhirnya kami tiba di Batam dengan selamat. Gue nyengir lebar akhirnya. Jadi, intinya selama di Sambu, kami nggak ada buka buku bio sedikitpun. Setibanya di Batam, gileeeee brooooh. Lapeeer banget, haus juga. Jam telah menunjukkan pukul 17:40 saat perut gue bernyanyi dengan riangnya. Lalu kami kemudian berinisiatif untuk belajar bareng di rumah Raka, yang kebetulan tidak jauh dari Pelabuhan Sekupang.

Lucky me and Ika, setibanya di rumah Raka, kami langsung disuguhi roti goreng, yang digoreng langsung oleh Raka sendiri (good boy). Alit yang kebetulan juga sedang di rumah Raka geleng-geleng kepala melihat kami yang kelaparan dan kehausan balik dari Sambu.

“Kalian berdua nekat banget sih ke Sambu,”

“Iya, nih. Kalau tadi di laut kalian digigit hiu gimana?”

Gue bengong. ROFL. Alit dan Raka masih heran melihat kami berdua. Gue mah teteup ngunyah, secara laper berat brooo. Setelah kenyang, kami berempat akhirnya belajar bio bareng. Tanpa terasa, jam telah menunjukkan pukul 20.00 saat gue, Ika, dan Alit akhirnya pamit pulang. Nah, gitu bro ceritanya xoxo.

Advertisements

Syndicate on Vacation

Sabtu, 6 Juli 2013

Hurray—Syndicate on vacation. Sabtu, 5 Juli 2013 lalu akhirnya Syndicate (IPA 5) SMAN 1 Batam merayakan kenaikan kelas atau pergantian title kelas dari kelas XI-IPA 5 menjadi XII-IPA 5 yehaha. Setelah melalui diskusi panjang dari hari ke hari—ceritanye, akhirnya kami pun memutuskan untuk menghabiskan Sabtu-Minggu yang magnificent itu di tempat yang cozy, yaitu The Acacia Hotel, Sekupang, Batam—nyang kagak jauh dari sekolah ntu wahaha. Thanks for those amazing 2 days, guys. I love you.

The Acacia Hotel

The Acacia Hotel Batam

The Acacia Hotel Batam

The Acacia Hotel Batam

The Acacia Hotel Batam

The Acacia Hotel Batam

The Acacia Hotel Batam

Jam menunjukkan pukul dua siang saat anak Sydnicate yang lain belum pada datang. Alhasil, baru hanya ada kita berlima, Gilang, Haiqal, Ika, Mila, dan gue tentunya. Selama menunggu yang lain, kita langsung curi-curi waktu untuk foto, ceritanya, photo shoot dulu gitu. Iya, gitu.

Reta Riayu Putri, Gilang Delana Putri, Ika Putri Syawaliani, Millla Baarik Iman Sari - SMAN 1 BATAM
First photo shoot
Haiqal Muhammad, Reta Riayu Putri, Ika Putri Syawaliani
with Ika & Haiqal

Ika Putri Syawaliani

Ika Putri Syawaliani, Mila Baarik Iman Sari

Gilang Delana Putri

Ika Putri Syawaliani, Reta Riayu Putri, Mila Baarik Iman Sari, Gilang Delana Putri

Gilang Delana Putri, Haiqal Muhammad
Happy family

Tak lama kemudian, sekitar setengah jam-an, baru deh rombongan yang lain pada muncul. Diiringi dengan adegan rebutan kamar, dan lain-lainnya, akhirnya para Syndicate, meletakkan tasnya asal. Ceritanya, kami, yang cewe, ingin menempati kamar yang diklaim para cowo sebagai miliknya duluan. Kita yang cewe rada jealous, sama kamar cowo yang terdiri dari king bed and still have no idea why, kayaknya kamar cowo itu lebih adem, lega, besar. Padahal sekilas, hampir sama dan setipe dengan kamar yang ditempati para cewe. Weird, kan. Tapi, beginilah kami, rofl. Selanjutnya, sembari menunggu swimming part jam 4 sore, kami menghabiskan waktu dengan pelbagai kegiatan, di antaranya, main kartu, nonton film, dan lempar-lemparan kulit kacang (yang terkahir ini beneran awkward, kan ya). Akhirnya, sekitar jam empat lewat, barulah para Syndicate turun ke swimming pool, buat berenang. So, here we go!

Hania Rizkieta Hazah, Chantika Karina

Hania Rizkieta Hazah, Chantika Karina, Rakadrian Nugraha

Rio Rinaldi, Abid Affandi Wedatama

Chantika Karina, Rama Fitria Revoni

Hania Rizkieta Hazah, Chantika Karina, Rama Fitria Revoni

Mila Baarik Iman Sari, Hania Rizkieta Hazah, Chantika Karina, Rama Fitria Revoni

Mila Baarik Iman Sari, Aulia Riski Molanda

Mila Baarik Iman Sari

Mila Baarik Iman Sari, Chantika Karina, Hania Rizkieta Hazah, Aulia Riski Molanda, Rama Fitria Revoni

Aulia Riski Molanda, Chantika Karina, Rama Fitria Revoni, Mila Baarik Iman Sari
Rofl

Mila Baarik Iman Sari, Aulia Riski Molanda, Chantika Karina, Rama Fitria Revoni, Hania Rizkieta Hazah

Jeremy Woosnam Prasetyo
Lonely boy

Gilang Delana Putri

Swimming

Part 1

IMG_9783

IMG_9785

IMG_9789

IMG_9794

Alit Dian Saepudin, Rakadrian Nugraha

Alit Dian Saepudin, Rakadrian Nugraha
I’m sexy and I know it
Rakadrian Nugraha
WHAT?!

Pieter Mario, Alit Dian Saepudin, Rakadrian Nugraha

IMG_9812

IMG_9818

Rakadrian Nugraha
Calvin Klein wannabe

Abid Affadi Wedatama

IMG_9838  IMG_9839

IMG_9840  IMG_9842

IMG_9843  IMG_9845

IMG_9846

Pieter Mario   Fauzan Permana Noor

Fauzan Permana Noor

Ivo Mario Purba
Running Man
Haiqal Muhammad
Yeah, man!

Abid Affandi Wedatama

Haiqal Muhammad   Rakadrian Nugraha

Ika Putri Syawaliani

Chantika Karina, Fauzan Permana Noor

Chantika Karina, Fauzan Permana Noor

Abid Affandi Wedatama

Haiqal Muhammad, Fauzan Permana Noor

Alit Dian Saepudin, Chantika Kariana, Haiqal Muhammad, Fauzan Permana Noor, Pieter Mario, Abid Affandi Wedatama

Chantika Karina
Dududufufu

IMG_9950

IMG_9951

Alit Dian Saepudin, Fauzan Permana Noor, Rakadrian Nugraha, Pieter Mario, Rio Rinaldi, Abid Affandi Wedatama, Haiqal Muhammad

IMG_9956

IMG_9957

M. Luqman Hidayat, Faizal Ibrahim, Rakadrian Nugraha
Marimar (telenovela) photo shoot

Ivo Mario Purba

Rakadrian Nugraha

Fauzan Permana Noor

IMG_9960

IMG_9963

IMG_9975

IMG_9977

IMG_9978

After

Rio Rinaldi

M. Luqman Hidayat
Baby photo shoot

Ivo Mario Purba

Hania Rizkieta Hazah, Ika Putri Syawaliani, Reta Riayu Putri
with Ika & Hania

Hania Rizkieta Hazah, Ika Putri Syawaliani, Reta Riayu Putri

Hania Rizkieta Hazah, Reta Riayu Putri, Ika Putri Syawaliani

Hania Rizkieta Hazah, Reta Riayu Putri, Ika Putri Syawaliani

Ika Putri Syawaliani, Reta Riayu Putri, M. Luqman Hidayat
with Ika & Luqman

BBQ PARTY

Malamnya, yang juga bertepatan dengan malam Minggu, kita memilih barbeque-an dengan bahan yang sudah disediakan. Jarang-jarang nih, bisa malam Minggu-an tanpa membedakan sekat-sekat jomblo dan yang tidak, lol. Bahan-bahan yang kita bakar sih masih yang normal-normal kok. Mulai dari ayam, sotong, hingga sosis. Setidaknya, kami belum berniat membakar yang lain, rumah, perhaps. Setelah barbeque-an, sekitar jam sebelas, kita naik ke kamar, tapi bukan ke kamar masing-masing, secara saat itu yang sedang dijadikan markas besarnya adalah main room-nya cewe. Mulai dari jam sebelesan hingga duabelas, kita sibuk cerita horror dengan lampu kamar yang dimatikan. Sebagian dari kita bercerita secara bergantian tentang kejadian horror, yang pernah mereka alami, which is, belum tentu 100 % kebenarannya menurut gue. Muka gue sih beneran flat abis. Well, rada takut dikit sih, ya. But, believe it or not, dalam hati gue masih sempat nge-request, kalaupun ntar ada hantu yang muncul di itu kamar, gue berharap itu hantunya Michael Jackson. Biar kece aja gitu ceritanya, lol. So, sekitar satu jam kemudian, kita akhirnya ganti topik. Kali ini lampu kamarnya telah dinyalakan. Ceritanya berganti menjadi topik seputar kelas. Sharing anything, selama satu tahun belakangan ini, hal-hal yang terjadi di kelas, dan semua-semuanya. Jadi gitu dah kira-kira. Selesainya sekitar jam dua-an. Nah, jam dua itupun, sebagian anak cowo masih tetep di kamar cewe, belum mau bergerak ke kamarnya. Setelah dipaksa, barulah akhirnya mereka kembali ke kamarnya masing-masing dengan membawa hasil jajahan berupa snack dari kamar cewe. Akhirnya, kami yang cewe, yang terdiri dari 8 kalau ngga salah, tidur dalam satu kamar yang tadi dijadikan markas oleh Syndicate untuk sharing  satu sama lain. We had a great night, ya know. Saat sebagian mulai terlelap, gue sama Hania dan Chika, masih belum bisa tidur. Alhasil, kita memutuskan untuk nonton film Mr. & Mrs. Smith yang dibintangi oleh Brad Pitt dan Angelina Jolie. Gue ngga tau lagi gimana kelanjutannya, karena kayaknya gue udah tepar ngga sadarkan diri sebelum filmnya habis, rofl!

Rakadrian Nugraha, Abid Affandi Wedatama

Haiqal Muhammad

Fauzan Permana Noor, M. Luqman Hidayat

IMG_0098

IMG_0101

IMG_0103

Ika Putri Syawaliani   Ika Putri Syawaliani

Alit Dian Saepudin, Reta Riayu Putri
with Alit

Fauzan Permana Noor, Jeremy Woosnam Prasetyo

Rakadrian Nugraha

Gilang Delana Putri, Rakadrian Nugraha

IMG_0128

IMG_0130

IMG_0131

IMG_0133

IMG_0136

Rio Rinaldi

M. Luqman Hidayat

Haiqal Muhammad, M. Luqman Hidayat

Ika Putri Syawaliani

IMG_0146

Fauzan Permana Noor

Fauzan Permana Noor
Rock, man!

IMG_0158

Pieter Mario

Fiha Ruzieqna

Rio Rinaldi

Haiqal Muhammad, Abid Affandi Wedatama

Gilang Delana Putri

Reta Riayu Putri, Gilang Delana Putri

Faizal Ibrahim, M. Luqman Hidayat, Hania Rizkieta Hazah

Reta Riayu Putri, Fiha Ruzieqna
with Fiha

IMG_0178

Hot-chicks
Hot-chicks

Ika Putri Syawaliani, Mila Baarik Iman Sari, Haiqal Muhammad

M. Luqman Hidayat, Hania Rizkieta Hazah

Fauzan Permana Noor

Swimming

Part 2

Minggu, 7 Juli 2013

Nah, ini dia. Keesokan paginya lagi, setelah bangun tidur, kita mulai berenang lagi. Sebenernya, kemarin malam kita juga udah berencana berenang lagi (kita di sini maksudnya, gue, Fiha, Ivo, Rio, etc) tengah malam kemarin. Tapi karena ngga memungkinkan, pupuslah rencana itu. Rada creepy juga kalau harus berenang di tengah malam gitu. Awalnya sih, tingkat keberanian gue ngalah-ngalahin James Bond yang ngejar musuhnya, Silva di tengah keramaian kota London, tapi setelah mendengar cerita horror lainnya dari Pieter, wah nyali gue jadinya entah menguap ke mana. Akhirnya, pagi keesokannya, kita bangun jam 6, lebih pagi dari anak cowo yang masih pada tidur. Alhasil, pagi-pagi itu, gue, Ika, Fiha, dan Gilang memutuskan berenang lagi. Tak lama, saat jam breakfast, rata-rata semuanya telah bangun, saat mamanya Raka, sangat berbaik hati membawakan kami sarapan. Dari hotelnya dapat sih, tapi ngga sreg aja rasanya. Jadilah kami menyantap sarapan yang dibawakan mamanya Raka dengan lahapnya. Ini beneran dari dalam lubuk hati Syndicate ingin mengucapkan, “Makasih banyak, taaaaan!” (senyum-lebar). Usai sarapan, anggota Syndicate lainnya, juga ikutan berenang. Tanpa terasa, kita berenang hingga pukul 11 siang, di mana, tak lama kemudian, kita udah harus check-out dari hotelnya sekitar pukul 12. Rada sedih sih.  Mereka bilang, ntar pas kelas tiga, kita harus nginap 3 hari 2 malam, ada juga yang bilang, ntar kita kelas tiga, ke Bali, dan yang lain berharap dalam hati semoga liburan kelas tiga nanti lebih seru dari sebelumnya. Semoga kesampaian ya guys. Thanks for those amazing 2 days. Love you so much!

IMG_0307

IMG_0308

M. Luqman Hidayat

Alit Dian Saepudin

IMG_0314

Gilang Delana Putri, Fiha Ruzieqna

Haiqal Muhammad

IMG_0320

Reta Riayu Putri, Hania Rizkieta Hazah

IMG_0329

Reta Riayu Putri, Hania Rizkieta Hazah, Ika Putri Syawaliani

IMG_0334

IMG_0336

Reta Riayu Putri, Gilang Delana Putri

IMG_0346

Rakadrian Nugraha

Rakadrian Nugraha, Haiqal Muhammad

Haiqal Muhammad

Alit Dian Saepudin, M. Luqman Hidayat

Alit Dian Saepudin, M. Luqman Hidayat

IMG_0402

Haiqal Muhammad, Chantika Karina, Fiha Ruzieqna

Haiqal Muhammad, Chantika Karina, Fiha Ruzieqna

IMG_0408

Haiqal Muhammad, Chantika Karina

Mengejar McFlurry ke Negeri Cina

Sabtu, 4 Mei 2013

McFlurry oh McFlurry. Haha. Silly banget ini memang. McFlurry… McFlurry (sembah-dewa). Sabtu pagi itu berjalan seperti biasa. Layaknya manusia normal lainnya, gue datang ke sekolah sambil berharap dalam hati bakal ada hujan lebat plus badai serta halilintar, supaya nggak senam pagi di lapangan. Tapi, sepertinya Dewa Angin tengah berlibur sementara ke Maldives dan bersantai di Palm Beach Resort saat gue sedang super-duper membutuhkannya, karena buktinya Sabtu pagi itu terlihat sangat cerah yang nyatanya tidak sesuai dengan harapan. Matahari dengan semangat ’45 menyinari lapangan olahraga pagi itu. Tak pelak, dengan gaya zombie kece, gue setengah berlari bergerak ke lapangan karena tak lama lagi senam pagi akan dimulai. Tapi memang awalnya nggak niat senam, jadi yah gitu aja suer. Senamnya gue kayak orang patah tulang—gerak-gerak dikit.

Pukul 8 pagi pun pelajaran pertama dimulai. Debate. Oh, pelajaran itu berlalu seperti angin. Cepat banget. Gue lagi pengin lama-lama di jam mulok padahal. Jam istirahat pun tiba. Dasar movie-freak, gue sama the folks lainnya, Ika, Haiqal, Fulrisami malah nge-stuck di kelas nonton Wedding Dress—film Korea tersedih yang pernah ada. To be honest, seriusan, gue udah pernah nonton film itu di rumah dan udah tahu jalan ceritanya. Tapi, nggak tahu kenapa, nonton lagi itu tetap buat kita termehek-mehek—over. Ceritanya terlalu sedih sih. Si Haiqal nggak berhenti-henti nanya berulang kali kayak alaram, “sedihnya di bagian mana, sih?”—gue sampai jengah dengernya. Jelas-jelas ceritanya sedih, dianya malah ketawa—tebak siapa yang waras?

Setelah filmnya habis… “Huaaaa! Sedih banget filmnya” (kucek-kucek mata), kata si Haiqal dangdut satu itu. Dasar ga waras. Nah, ini dia permulaannya, saat Haiqal ntah Fulristami yang bilang, “Pengin McFlurry”. Gue jadi pengin to the max juga, “Iya….” (sambil membayangkan McFlurry karamel). “Ayolah, gerak sekarang. Beli McFlurry” Haiqal dangdut berkata. “Ayooooo!” kata gue dengan semangat ’45.

Jadilah kita pergi. Ika bareng Haiqal dan gue bareng Fulristami aka Ipul, naik motor. Rencananya, kita bakal singgah dulu di rumah Ipul buat ambil mobil—jadi ga ribet pakai motor banyak-banyak.  Dalam hati nih.. “WE ARE FREE AS A BIRDS!”. Tiba-tiba, di salah satu  persimpangan di Bengkong—daerah rumah Ipul, nggk tahu gimana ceritanya, tiba-tiba hujan dan jalan turunan itu seketika menjadi licin. Bliz! Gue sendiri nggak tahu lagi kelanjutannya karena tiba-tiba gue dan Ipul udah berserak di aspal—tersungkur, jatuh hingga guling-guling nyium aspal. Berselang beberapa detik kemudian, Ika dan Haiqal pun juga ikut jatuh ke aspal. Dazzz, kita semua berserakan di jalan—yang mana sampai sekarang, gue masih tak henti-hentinya bersyukur, untung nggak ada kendaraan mobil atau motor yang tengah melaju dari arah belakang. Parahnya, jalan turunan tempat kami jatuh itu banyak truk berseliweran. Masih nggak kebayang, gimana kalau ada kendaraan dari arah belakang. Ya Allah, semua itu terjadi tanpa diduga. Gue langsung gemeteran. Anehnya, walaupun lutut, siku, dan tangan berdarah perih gitu, gue sama sekali nggak bisa nangis. Cuma diam sebentar, nahan perih dan akhirnya ketawa gara-gara si Haiqal dangdut itu bilang, “Aduh, cewek banget sih. Biasa aja lagi. Ngapain takut. Cuma jatuh gitu aja pun. Nggak pa-pa. Kita keren kok.” Hhhh, dasar sarap. Itu anak bisa-bisanya santai setelah kita berserakan di aspal karena keadaan jalanan yang licin.

Akhirnya, kita semua tetap ke rumah Ipul, bersihin luka-luka yang ada. Setelahnya, dasar McFlurry-freak, kita semua tetap melanjutkan destinasi ke Mc Donald’s untuk beli McFlurry idaman itu. Gilakkkk, masih nggak habis pikir, baru jatuh lho padahal. Tapi McFlurrynya tetap dong ya hehehe. Tak hanya McFlurry sebenarnya, plus beef burger juga hihi. Kita takeaway sambil makan di mobil. Setelah itu, kita pun lanjut ke rumah Raka untuk latihan musik. Sesampainya, di rumah Raka, yang lain pada menatap heran dengan pandangan heran bercampur bingung saat lihat penampilan kami yang berantakan. Jancuk! Baju olahraga yang putih bersih itu berubah warna jadi hitam karena nyapu aspal. Lame! But it was great.

Haiqal Muhammad
Silly face of Haiqal
Fulristami Zaenab
Fulristami aka Ipul
McDonald's
beef-burger
McFlurry Choco

McDonald’s Part 2

Minggu, 5 Mei 2013

Matahari Minggu pagi itu memang nggak bisa diajak kompromi. Cerah banget. Padahal gue berharap ada hujan lebat plus badai. Gilaaak, nggak mutu banget ye moto hidup gue, tiap hari berharap hujan. Hehehe. Minggu itu gue ada rencana mau latihan musik di rumah Raka bareng anggota musik lainnya, Jeremy, Pieter, Raka, Sahat, Haiqal, Abid, Fauzan, Denis, Fulristami, Fiha, dan Ika. Kata Pieter, “Latihannya jam 11 ya. Eh, nggak jadi, jam 10 aja. Biar nggak ngaret. Tapi mulainya jam 11.” Oke sipppp.

Jam 10, tiba-tiba hujan turun. “Alhamdulillaaaaaaah”, ucap gue dalam hati. Jadilah pas hujan itu gue masih bergelung di bawah selimut sambil membaca novel sastra, Layar Terkembang karya S. Takdir Alisjahbana. Tiba-tiba, ada SMS, tring… 

Ika      : Reta, pergi ke rumah Raka, kan?

Reply: Iya

Ika      : Udah siap-siap?

Reply : Belum

Ika       : Buruan siap-siap. Cepat.

Reply : Errrrr malas

Ika       : Cepat

Reply : Ok

………….sesampainya di rumah Raka

“Hai!” sapa si tuan rumah yang belum mandi yang tengah asik dengan game FIFA-nya. Hohoho, jam telah menunjukkan pukul 12 siang saat anggota yang lain belum pada datang—yang ternyata memang tidak pada datang, kecuali kita berlima plus Raka tentunya sebagai si tuan rumah. Tiba-tiba, teve yang ada di depan mata tengah mengiklankan burger McDonal’s. “Haduh, McDonald’s udah manggil. Aku mandi dulu ya, we. Ntar kita pergi.”

Gue, Ika, Fiha, Fulristami, dan Haiqal langsung manggut-manggut setuju. “Ayoooooo!” kata gue semangat. 15 menit kemudian, Raka pun selesai mandi di mana kemudian kita langsung terjun ke McDonald’s. Kalau kali ini, Raka yang ngidam berat sama McDonald’s. Beberapa belas menit kemudian, kita sampai di McDonald’s—heaven!

Tiba-tiba, Abid anggota musik lainnya muncul juga di McDonald’s—yang sampai sekarang gue nggak ngerti dia muncul tiba-tiba gitu darimana. Akhirnya kita semua serentak pesan Panas Special McDonlad’s beserta coke-nya. Tadi, kita perginya pakai dua mobil. Mobil Haiqal dan Fulrisami. Karena Fulristami aka Ipul langsung balik ke rumahnya yang dekat dengan McDonald’s, gue barenga Raka, Ika, an Fiha berpikir keras gimana caranya kita balik lagi ke rumah Raka, karena semua barang-barang kita ada di rumahnya Raka. Haiqal—yang sebenarnya ada acara lagi sehabis di McDonald’s tentunya tidak dapat mengantarkan kami lagi balik ke rumah Raka. Setelah bepikir keras mencari solusi, akhirnya Haiqal dangdut itu berbaik hati mengantari kami sampai halte depan Rumah Sakit Awal Bros, sehinga kami yang kecehhh ini bisa naik busway ke rumah Raka di Jalan Palapa. Akhirnya, dengan membayar Rp. 12.000,- kita berempat—gua, Fiha, Raka, Ika, sampai dengan selamat di rumah Raka berkat bantuan dari oom supir busway yang punya kumis kece tersebut. Sipppp, perut kenyang hati pun senang. Jadi, intinya hari itu kami tidak jadi latihan musik hehehe.

McDonald’s Part 3 with Momma and Paprock

Senin, 6 Mei 2013

Sepulang sekolah, gua langsung latihan musik di rumah Raka, which ya know, we… yes too much rambling there at Raka’s but it was good, anyway. Nah, pas selesai latihan sekitar jam 5, gue…. tidak langsung pulang ke rumah sodarah-sodaraaaah, melainkan singgah ke McDonald’s dulu sama momma & paprock. Yippi, McDonald’s all the time. Si papa… biasa… kangen McD udah kayak orang ngidam. So, we had an early dinner there xoxo.

McDonald's

Legit Pictures 2013

Rabu, 8 Mei 2013

Rabu ialah hari terkece di dunia. Kami, XI-IPA 5—SMAN 1 Batam menampakkan euforia kemenangan akan libur 1 hari pada hari Kamis yang akan datang. “Yayyyyy!” Jadi, di hari yang berbahagia itu, gue dan the folks yang merasa takaran gilanya sama kayak gua mengambil beberapa foto yang bisa dijadikan sebagai album dalam kenangan manis SMA di hari Rabu yang cerah. Here we go!

Rakadrian Nugraha dan Haiqal Muhammad
Jack dan Rose wannabe by Haiql Muhammad and Rakadrian Nugraha
Haiqal Muhammad
Dablo by Haiqal dangdut
Ivo Mario
Super Mario Brossss, Ivo!
Rakadrian Nugraha
sleeping beauty

Cinema with Momma and Paprock

Kamis, 9 Mei 2013

Yihaaaaa! Tanggal merah yang satu ini memang harus dinikmati dengan sungguh-sungguh. Santai sejenak dari rutinitas sehari-hari rasanya tidak ada yang salah hehehe. Jadi, pada Kamis yang legit itu, gua ngajak mama sama papa untuk nonton 9 Summers 10 Autumns di bioskop 21, Nagoya Hill. 

9 summers 10 autumns (3)
9 Summers 10 Autumns the movie
9 Summers 10 Autumns
poster

9 Summers 10 Autumns

Guess what? Gue berani bilang bahwa ini film Indonesia yang sangat inspirasional yang pernah ada. Gue rasa ini film yang wajib ditonton oleh kita semua anak Indonesia yang kadang merasa jenuh atau putus asa dengan kehidupan. Perasaan gue setelah nonton film 9 Summers 10 Autumns adalah lega. Iya, lega. Lega bahwa akhirnya gue yakin dengan sepenuh hati, hidup ini hanya butuh keberanian. Usaha dan kerja keras adalah pelengkapnya. Intinya adalah sebuah keberanian. Film ini sukses bikin gue termehek-mehek, nangis, you know, beneran nagis tersedu-sedu tapi juga bisa tertawa dalam waktu yang bersamaan. Film ini bikin gue sadar kalau hidup ini tidak pantas untuk dikeluhi barang sebentar. Hidup ini hanya untuk dijalani, bukan dikeluhi. I rated this movie 10/10. Ini adalah film Indonesia terbaik yang pernah ada.

Jadi, film 9 Summers 10 Autumns adalah film yang mengisahkan tentang seorang anak supir angkot yang dengan segala keterbatasan orangtuanya dapat menggapai New York dengan kerjakeras dan kesungguhan hatinya. Iwan, dikisahkan sebagai anak supir angkot di daerah Batu, Malang yang hidup dengan serba kekurangan, tapi berlimpah kasih sayang dari kedua orangtuanya, ibu dan bapak. Ibu, tak pernah menyerah untuk berjuang membesarkan anaknya dengan suaminya yang hanya bekerja sebagai supir angkot dengan kelima anaknya. Iwan adalah anak ketiga dari bapak dan ibu, anak lelaki satu-satunya yang bapak harapkan dapat menjadi penerusnya sebagai kepala keluarga dengan bekerja sebagai supir angkot.

Tapi, jalan kadang tak sesuai dengan yang telah terpetakan saat Iwan mendapat beasiswa kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB). Iwan memiliki tekad yang kuat untuk meneruskan kuliahnya dengan beasiswa prestasi tersebut, namun dilema muncul saat sang bapak bersikeras agar anaknya tetap tinggal di Batu dan membantunya mencari nafkah sebagai supir angkot. Iwan mengurungkan niatnya sejenak untuk kuliah. Namun dalam hati, api semangat untuk kuliah itu tak pernah padam dalam hatinya.

Suatu hari, bapak pun luluh hatinya saat melihat tekad anaknya bersungguh-sungguh untuk meneruskan kuliahnya. Bapak pun menjual angkotnya untuk membiayai keperluan sehari-hari Iwan di Bogor. Bagian ini buat gue nangis tersedu-sedu, saat sang bapak memutuskan untuk menjual angkotnya agar dapat membiayai keperluan anaknya sehari-hari saat kuliah di Bogor.

Perjuangan bapak rasanya tak sia-sia saat Iwan akhirnya lulus dengan predikat cum laude. Setelah lulus kuliah, ia pun mulai bekerja di Jakarta sebagai data analis. 3 tahun kerja kerasnya sebagai data analis di Jakart rasanya terbayar dengan tawaran kerja di New York yang didapatnya beerkat kerja kerasnya itu. Di New York, karirnya pun melesat cepat hingga tak terasa telah 9 musim panas dan 10 musim gugur ia lewati di New York dengan posisi terakhir sebagai Director Internal Client Management Data Analysis and Consulting Nielsen Consumer Research New York, Amerika Serikat. Setelahnya, ia sempat ditawari posisi direktur di Eropa  saat akhirnya ia memutuskan untuk menolaknya dan memilih balik ke Indonesia setelah melewati 9 musim panas 10 musim gugur di negeri Paman Sam tersebut.

Film ini pantas direkomendasikan untuk wajib ditonton oleh semua kalangan. Film Indonesia inspirasional yang satu ini sangat sarat makna. Film 9 Summers 10 Autumns ini diangkat dari novel yang berjudul sama, yang diangkat dari kisah nyata, yaitu kisah asli penulisnya sendiri yaitu Iwan Setyawan. It was perfectly good! You gotta see! Here… some pictures of the movie.

9 Summers 10 Autumns
part of the movie
9 Summers 10 AUtumns
part of the movie
9 Summers 10 Autumns
part of the movie

McDonald’s Part 4

Jumat, 10 Mei 2013

Hehehehehe, iya. I’m addicted to McDd’s. Untuk kesekian kalinya dalam minggu ini, gue ke McDonald’s lagi. Kali ini bareng Haiqal, Abid, dan Fulristami aka Ipul. Gua pesan Big Mac yang super-duper jumbo dan kembali ke sekolah lagi dengan perut super kenyang tepat sebelum shalat Jumat dimulai, karena Haiqal dan Abid harus shalat Jumat, hihi.

McDonald's Big Mac Burger
Big Mac Burger-nya McDonald’s
Glass
Pesan Big Mac Burger dapat gelas cantik ini dari CocaCola

McDonald’s Part 5

Sabtu, 11 Mei 2013

Hehehehe, yesssss, you’re right. Gue pergi lagi ke McD’s hari Sabtu itu hehehe. Kali ini gue pergi bareng Raka, Alit, Haiqal, Gilang Delana aka Yayang, Fulristami aka Ipul. Tak lama sesampainya di McD’s, tiba-tiba Ivo menelepon Alit, mengatakan bahwa ia akan menyusul juga ke McD’s bareng yang lain. Tak lama, Ivo dan yang lain, di antaranya Hania, Mila, Suci, Dwi Putri, Rio, Luqman menyusul ke McDonald’s. So, there we go, had lunch and lil bit rambling about 2-3 hours and then we went to school again hehehe. Here… some photos of our silly-faces.

Haiqal Muhammad, Gilang Delana Putri, dan Rakadrian Nugraha Gilang Delana Putri, dan Rakadrian Nugraha Reta Riayu Putri dan Fulristami Zaenab Haiqal Muhammad dan Gilang Delana Putri Gilang Delana Putri dan Rakadrian Nugraha Fulristami Zaenab, Reta Riayu Putri, Haiqal Muhammad, Gilang Delana Putri, Dwi Putri Julianti, Mila Baarik Iman Sari Fulristami Zaenab, Reta Riayu Putri, Gilang Delana Putri, Mila Baarik Iman Sari Gilang Delana Putri dan Mila Baarik Iman Sari Reta Riayu Putri dan Fulristami Zaenab Gilang Delana Putri, Dwi Putri Julianti, Suci Womantri, Reta Riayu Putri, dan Fulristami Zaenab Mila Baarik Iman Sari, Fulristami Zaenab, Reta Riayu Putri, Hania Rizkieta Hazah, Suci Womantri, Dwi Putri Julianti, dan Gilang Delana Putri. Mila Baarik Iman Sari, Fulristami Zaenab, Reta Riayu Putri, Hania Rizkieta Hazah, M. Luqman Hidayat, Suci Womantri, Dwi Putri Julianti, dan Gilang Delana Putri. Mila Baarik Iman Sari, Fulristami Zaenab, Hania Rizkieta Hazah, dan Haiqal Muhammad Mila Baarik Iman Sari, Fulristami Zaenab, Reta Riayu Putri, Hania Rizkieta Hazah, Dwi Putri Julianti dan Haiqal Muhammad Mila Baarik Iman Sari, Fulristami Zaenab, Reta Riayu Putri, Suci Womantri, Hania Rizkieta Hazah, Dwi Putri Julianti, Haiqal Muhammad, dan Gilang Delana Putri Mila Baarik Iman Sari, Fulristami Zaenab, Reta Riayu Putri, Suci Womantri, Hania Rizkieta Hazah, Dwi Putri Julianti, dan Gilang Delana Putri Mila Baarik Iman Sari, Fulristami Zaenab, Reta Riayu Putri, Suci Womantri, Hania Rizkieta Hazah, dan Gilang Delana Putri Mila Baarik Iman Sari, Fulristami Zaenab, Reta Riayu Putri, Suci Womantri, Hania Rizkieta Hazah, Dwi Putri Julianti dan Haiqal Muhammad Mila Baarik Iman Sari, Fulristami Zaenab, Reta Riayu Putri, Hania Rizkieta Hazah, M. Luqman Hidayat, Suci Womantri, Dwi Putri Julianti dan Gilang Delana Putrii + Raka's mouth

The Big Lunch of Syndicate

Rite, this is Syndicate, class who’ll make you mesmerized, nah! Btw, Syndicate had a big lunch on Wednesday, January 23, 2013. Ngehehe, we had fun on that day. Just so you know, lol. Alright, here we go!!

To be honest, it’s such a silly day for us which ya know, that we had a great time for the umpteenth time especially, in that superb-silly-Biology-class, with our fave teacher, Bu Eldia Gushinta, Bu Ogsfika Yotri, and Bu Nahda.

Reta Riayu Putri's - SMAN 1 Batam
Biologi, Kelompok 6 – SMAN 1 Batam
Reta Riayu Putri's - SMAN 1 Batam
Biologi Kelompok 6 – SMAN 1 Batam
Reta Riayu Putri's - SMAN 1 Batam
Biologi, Kelompok 6 – SMAN 1 Batam
Reta Riayu Putri's - SMAN 1 Batam
Biologi, Kelompok 6 – SMAN 1 Batam
Reta Riayu Putri's - SMAN 1 Batam
Biologi, Kelompok 6 – SMAN 1 Batam
Reta Riayu Putri's - SMAN 1 Batam
Biologi, Kelompok 5 – SMAN 1 Batam
Reta Riayu Putri's - SMAN 1 Batam
Biologi, Kelompok 2 – SMAN 1 Batam
Reta Riayu Putri's - SMAN 1 Batam
Kelompok 2 Biologi
Reta Riayu Putri's
Kelompok Biologi
Reta Riayu Putri's - SMAN 1 Batam
Biologi, Kelompok 1 – SMAN 1 Batam
Reta Riayu Putri's
Biologi Kelompok 3 – SMAN1 Batam
Reta Riayu Putri's
Biologi Kelompok 3 – SMAN 1 Batam
Reta Riayu Putri's
Yayang looks so freakin starving! :p
Reta Riayu Putri's
“look at me”
Reta Riayu Putri's
Dela Rizkyani dan Gilang Delana Putri
Reta Riayu Putri's
Kelompok 6, Biologi
Reta Riayu Putri's
Dela Rizkyani
Reta Riayu Putri's
Kelompok 6, Biologi
Reta Riayu Putri's
Biologi, Kelompok 6
Reta Riayu Putri's
Biologi Kelompok 6
Reta Riayu Putri's
Rofidah Umniyati
Reta Riayu Putri's
Kelompok 5, Biologi
Reta Riayu Putri's
Kelompok 6 Biologi
Reta Riayu Putri's
Biologi Kelompok 2
Reta Riayu Putri's
Biologi Kelompok 6
Reta Riayu Putri's
Biologi
Reta Riayu Putri's
Superb-Salad!!
Reta Riayu Putri's
TAKE IT!!!
Reta Riayu Putri's
NARSISME OF IVO!!
Reta Riayu Putri's
“kekhusyukan saat makan”
Reta Riayu Putri's
Bu Shinta
Reta Riayu Putri's
wut wuttt
Reta Riayu Putri's
Yes, we are starving
Reta Riayu Putri's
Superb-Longorrr!
Reta Riayu Putri's
afterrr
Reta Riayu Putri's
nyehaha
Reta Riayu Putri's
There’s Sun Go Kong!!
Reta Riayu Putri's
Alesana’s plate
Reta Riayu Putri's
lu bosen ga liat ini orang?Reta Riayu Putri's
senasib-sepenanggungan
Reta Riayu Putri's
Mr. want-to-know
Reta Riayu Putri's
It’s time to “beberesan”
Reta Riayu Putri's
who is this?
Reta Riayu Putri's
riang-kenyang-senang
Reta Riayu Putri's
had-a-great-time
Reta Riayu Putri's
salagadoola

Euforia PSP 5 hingga Surat Terbuka untuk Presiden

“Nak, kamu ikut lomba tulis surat terbuka untuk presiden, ya.” this is the beginning. Sabtu, secara tiba-tiba, Bu Yotri, guru bahasa Indonesia di tempat saya bersekolah, SMAN 1 Batam menyarankan agar saya mengikuti lomba yang terbuka untuk seluruh Indonesia itu.

“Oh, iya, Bu” jawab saya singkat sementara neuron dan cerebrum saya masih bersinergi mencerna kata-kata Bu Yotri tadi. Hal pertama yang ada di pikiran saya adalah, mau nulis tentang apa, ya?

Here we go!! Suatu malam, saya terbangun, you know, in the middle of the night, ah cheesy! Oke, ini beneran. Jam dua malam gue bangun antara sadar dan tidak. Mencari-cari HP di nakas dan menyadari bahwa jam masih menunjukkan pukul 2 pagi. I can’t help but scream “WHAT THE HELL AM I SUPPOSE TO DO??”

Automatically, I opened my laptop and starting to write my open letter to Mr. President. Just so you know, tema yang akhirnya gue ambil adalah pendidikan. Sebelumnya, sebuah TV swasta sempat menayangkan bagaimana rapuhnya dunia pendidikan di Indonesia, seperti, sekolah yang sudah rubuh, transportasi ke sekolah yang terputus, dan kisah-kisah lainnya yang semua orang brainless lainnya bakal nganggap itu klasik (baca ini: Benang Kusut Pendidikan di Indonesia dan Kontroversinya)

Jadi, jam dua pagi itu, gue berapi-api menuliskan rapuhnya pendidikan di Indonesia yang mana seyogyanya, pasti bakal dianggap klise sama orang banyak di mana cerebrum gue cuma meneriakkan “WHO CARES?” dan awkward-nya, I can’t stop writing. Batas penulisannya hanya tiga halaman which I want to write it more. Jadilah naskah 3 halaman itu yang saya kirim ke pihak panitia. Setelah membuatnya jam 2 pagi, gileee, itu pure ga ada diubah-ubah lagi. Ga ada proses editing, karena gue langsung kirim ke pihak panitia. Well, that’s it!

Dan alhamdulillah, tanpa disangka, di malam puncak Pasar Seni Pelajar 5 – SMAN 4 Batam sebagai penyelenggara acara, yang diselenggarakan di Sumatra Convention Centre, Batam, Kepulauan Riau, mengumumkan bahwa open letter that I wrote nyabet ke posisi 9 dari 15 terbaik yang diumumkan. Di mana, 15 penulis terbaik, diberi sertifikat dan karyanya akan dibukukan. Thank, God! I don’t expect You too much but this one is enough for me.

Berikut adalah surat terbuka untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang saya tulis.

Yth, Presiden Republik Indonesia

di Jakarta

“Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?

Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah

Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah

Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah”

 

Bapak presiden yang terhormat, penggalan bait puisi karya Adhie Massardi di atas mungkin terkesan klise bagi sebagian orang. Untaian kata demi kata dari bait puisi sederhana tersebut mungkin saja dipandang sebelah mata. Walau bagaimanapun, puisi tersebut sebenarnya merupakan jeritan hati terdalam dari seorang rakyat biasa yang hidup di era demokrasi seperti sekarang ini. Keluh kesah tersebut tidak lain bagaikan rintihan kawula alit yang berjuang keras memahami keadaan negerinya yang semakin kontras dengan nilai-nilai kestabilan dan kemakmuran yang ada.

Kemiskinan seakan tidak pernah ada habisnya. Permasalahan yang disebabkan oleh garis kemiskinan di negeri ini seakan sudah menjadi hal yang lumrah. Masalah kaum proletar ini semakin memprihatinkan saat Badan Pusat Statistik atau BPS merilis data terbarunya yang menyebutkan sedikitnya terdapat 30 juta lebih penduduk Indonesia yang hidup di garis kemiskinan.

Presiden yang terhormat, imbas dari permasalahan kemiskinan di Indonesia tentu saja mempengaruhi mutu sumber daya manusia yang ada. Setiap tahun jutaan anak Indonesia terpaksa putus sekolah karena kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan. Sebagian dari kita tentu saja khawatir melihat kondisi yang sangat memprihatinkan tersebut. Namun sebagian dari kita mungkin saja bersikap acuh melihat fakta tersebut.

Seyogyanya, hal terpenting untuk menumpas kemiskinan di Indonesia adalah dengan meningkatkan mutu sumber daya manusia yang ada. Peningkatan mutu sumber daya manusia tersebut tentu saja ditingkatkan melalui mutu pendidikan yang tinggi pula. Permasalahan besar yang muncul saat ini adalah seberapa besar kebijakan yang diambil untuk memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia yang terkesan carut-marut dengan berbagai permasalahan yang menghantuinya.

Presiden yang terhormat, rendahnya mutu pendidikan di Indonesia sudah menjadi santapan berita sehari-hari. Anggaran untuk pendidikan yang rendah, jutaan anak Indonesia yang putus sekolah, penyelewengan dana untuk pendidikan oleh oknum tertentu, hingga tidak layaknya bangunan sekolah untuk dijadikan sebagai tempat belajar adalah sebagian kecil di antara problematika yang menghantui dunia pendidikan kita. Contoh sederhananya adalah ketidaklayakan sebagian bangunan sekolah di Indonesia untuk dijadikan sebagai tempat belajar. Bangunan sekolah yang rapuh hingga tidak layak digunakan sebagai tempat belajar sudah seharusnya dianggap sebagai suatu masalah yang serius dan perlu perhatian khusus dari pemerintah. Hal ini dirasa begitu kontras dengan megahnya bangunan gedung-gedung pemerintahan yang ada.

Sebagian dari kita mungkin saja menutup mata melihat rendahnya mutu pendidikan di Indonesia. Namun, tak dapat dipungkiri hal inilah yang menjadi landasan untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa Indonesia yang lebih baik untuk ke depannya. Permasalahan kaum proletar seperti kemiskinan dan lain sebagainya tentu saja berpangkal dari rendahnya mutu pendidikan kita. Permasalahan di dunia pendidikan inilah yang seharusnya lebih diutamakan untuk diselesaikan.

Presiden yang terhormat, masalah serius di dunia pendidikan kita yang semakin memprihatinkan kerap kali dianggap sebagai angin lalu. Sudah saatnya kita mulai berbenah diri menyadari arti penting pendidikan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat sehingga dapat terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. Pendidikan adalah kunci dari semua problematika yang ada di negeri ini. Dengan tingginya mutu pendidikan maka tinggi pula mutu sumber daya manusia yang ada. Sudah saatnya kita membuka mata, hati, dan pikiran kita mencermati secara serius mengenai permasalahan-permasalahan di dunia pendidikan itu sendiri

Indonesia sebagai negara berkembang tentu saja harus menyadari arti penting pendidikan sebagai bekal untuk menyelesaikan berbagai masalah baik politik, sosial, ekonomi, dan lainnya yang mengendap di bumi Indonesia. Tidak pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Indonesia tercinta ini harus mengerahkan sekuat tenaga untuk menyelesaikan berbagai permasalahan negeri ini dengan memperbaiki mutu pendidikan itu sendiri.

Presiden yang terhormat, demikian surat terbuka ini, semoga berkenan membaca dan menindaklanjutinya dalam gerak langkah yang nyata untuk Indonesia yang lebih baik.

1360757234455
Sertifikat Lomba Menulis Surat untuk Presiden – Reta Riayu Putri
Reta Riayu Putri's
Malam Puncak Pasar Seni Pelajar 5 – SMAN 4 Batam
Reta Riayu Putri's
Malam Puncak Pasar Seni Pelajar 5 – SMAN 4 Batam
2013-01-26 22.30.33 (1)
Malam Puncak Pasar Seni Pelajar 5 – SMAN 4 Batam
Reta Riayu Putri's
Malam Puncak Pasar Seni Pelajar 5 – SMAN 4 Batam
Reta Riayu Putri's
Malam Puncak Pasar Seni Pelajar 5 – SMAN 4 Batam
Reta Riayu Putri's
Malam Puncak Pasar Seni Pelajar 5 – SMAN 4 Batam

Kupinang Kau dengan Biskuit

Kupinang Kau dengan Biskuit adalah parodi sinetron Kupinang Kau dengan Bismillah. Film pendek ini dibuat untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia dengan guru pembimbingnya yaitu Ibu Ogsfika Yotri, S.Pd. Film ini dibintangi oleh Chantika Karina, Gilang Delana Putri, Reta Riayu Putri, Fulristami Zaenab, Aulia Riski Molanda, dan Tresnawati Dyah. Film ini merupakan tugas akhir semester 1 kelas XI-IPA 5 (2012-2013) SMAN 1 BATAM.

Pembuatan film pendek ini memakan waktu yang cukup singkat, karena waktu pembuatannya sendiri kurang dari 24 jam, yang dilakukan pada hari Jumat sepulang sekolah. Sebenarnya, pembuatan film pendek ini sendiri telah dimulai sejak hari Kamis, namun karena banyaknya harakiri sana-sini, maka tebaklah apa yang terjadi. Tentu saja syuting film yang dimulai hari Kamis itu kagak kelar-kelar, hehe.

Benang Kusut Pendidikan di Indonesia dan Kontroversinya

Posted by Reta Riayu Putri

Pendidikan, hal yang begitu penting untuk kelangsungan hidup manusia ini terkadang disepelekan oleh sebagian orang yang menganggapnya memang seperti itu. Lalu, bagaimana jika kita bicara tentang mutu? Tidak banyak yang mau membuka matanya dan mengatakan dengan lantang bahwa pendidikan kita di Indonesia masih jauh dari kata layak, jika berkaca dari banyaknya sekolah dasar di Indonesia yang bahkan tidak bisa disebut sebagai tempat proses belajar mengajar yang baik.

Permasalahan pendidikan di Indonesia kian kompleks dengan banyaknya berita carut-marut penyelewengan terhadap dana pendidikan baik di tingkat pusat maupun daerah. Jika di luar sana sebagian dari kita sibuk membicarakan tentang sistem UN yang dirasa memberatkan dan tidak efisien, sebenarnya ada masalah yang lebih urgent ketimbang memikirkan seberapa efisien sistem UN tiap tahun bagi senior di tingkat SD, SMP, dan SMA. Hal yang dirasa lebih pantas dipermasalahkan adalah tidak layaknya sebagian besar pendidikan di tingkat dasar. Entahlah, Indonesia seakan semakin terpuruk dalam kompeksitas permasalahan yang tiada hentinya.

Pernahkah Anda membayangkan, ada lebih dari ribuan anak sekolah dasar di daerah pedalaman sana yang setiap hari berjuang keras untuk dapat pergi ke sekolah? Contoh sederhananya, apa yang Anda pikirkan ketika melihat anak-anak SD di Sulawesi menempuh jarak 10 km untuk sampai ke sekolahnya hanya dengan berjalan kaki? Mereka berangkat mulai pukul 3 pagi agar tidak terlambat sampai di sekolahnya yang sangat jauh dari rumahnya? Sementara, realitas di kota besar lainnya, banyak pejabat dan pemegang kekuasaan di instansi pemerintah yang pergi kerja mendapat fasilitas berbagai kendaraan tapi sering lalai dalam tugasnya, seperti membolos saat masuk kerja setelah libur panjang atau bahkan tidur saat rapat sedang berlangsung?

Hal seperti itu mungkin terlihat klise bagi sebagian orang! Termasuk Anda yang membacanya, bukan? Tapi, tidakkah itu suatu ironi yang sangat mengkhawatirkan? Contoh lainnya, banyak juga anak SD yang harus menyebrangi sungai yang deras terlebih dahulu agar bisa sampai ke sekolahnya? Ini ironis!!! Apa kita semua sudah tidak punya hati? Ke mana mata hati kita? Hal itu belum seberapa, jika melihat banyaknya bangunan sekolah di Indonesia yang bahkan jauh dari kata layak, bahkan tidak bisa disebut sebagai tempat belajar yang baik?

Anda mungkin tengah tertawa sekarang melihat tulisan yang mungkin saja Anda anggap sampah pada saat ini. Tulisan anak SMA yang tidak tahu apa-apa, mungkin? Bukan begitu? Baiklah, tulisan ini hanya sebagian keluh-kesah saya melihat ironi pendidikan di Indonesia yang mungkin tidak berarti apa-apa untuk sebagian orang. Tulisan sampah, bukan begitu? But at least, I have my own opinion. 

Teman saya mengatakan (entah masih bisa dianggap teman atau tidak), “bukan cuma 1 masalah yang harus diselesaikan pemerintah….. jangan melulu menyalahkan mereka… kayak gak berpendidikan aja” -entah siapa namanya saya juga sudah lupa.

Apa yang ada dipikiran Anda ketika melihat komentar itu? Tentu saja ia benar. Tidak hanya satu masalah yang harus diselesaikan pemerintah. Tapi, apakah masalah pendidikan itu tidak masuk dalam daftar prioritas? Padahal, pendidikan adalah salah satu hal yang penting untuk menjalankan suatu sistem pemerintahan itu sendiri. Lalu untuk statement selanjutnya, tidak, tidak ada yang menyalahkan pemerintah sama sekali. Malahan kita semua sangat mendukung program kerja pemerintah dengan menyoroti masalah-masalah yang dirasa vital dan harus diperbaiki untuk kelangsungan hidup kita ke depannya. Apa gunanya media pers jika kita hanya menyoroti hal-hal baik yang tersistematis tanpa melihat program lain yang seakan “terbengkalai”? Inilah gunanya pers, bukan?

Statement terakhir, pertanyaan yang muncul adalah, apa semua orang yang mengkritisi program kerja pemerintah termasuk pers dan rakyat itu sendiri dianggap orang yang tidak berpendidikan? Respon saya saat melihat komentar yang dituliskan oleh seseorang tersebut di jejaring sosial adalah well mungkin saya hanya dapat tertawa mengasihani sang komentator tersebut dalam ketidaktahuannya. Kesimpulan yang bisa diambil, tentu saja ia orang yang tidak tahu aturan berpendapat di dunia maya. Ia berdalih setiap orang bebas berpendapat termasuk komentar “kayak orang ga berpendidikan saja”-nya itu. Hal yang saya hormati ialah, ya mungkin saja itu memang pendapat sang komentator tersebut. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan apalagi dibesar-besarkan. Hanya yah mungkin ia hanya, seperti yang saya katakan di awal tadi, terlampau dumb  untuk berpendapat di suatu jejaring sosial.

Kembali lagi ke topik awal, saya tahu tidak semua dari Anda yang membaca tulisan ini pada saat ini setuju dengan apa yang saya uraikan. Intinya, Indonesia ini tidak kalah dari negara-negara besar lainnya seperti Amerika, Jerman, dll. Kita hanya perlu mawas diri dalam mengemban amanah mencerdaskan kehidupan bangsa. Indonesia hanya perlu berbenah diri dalam mencapai visi serta misi mewujudkan negara yang makmur dengan tingkat SDM yang berkualitas tinggi. Indonesia bisa lebih baik lagi atau tidak untuk ke depannya sebenarnya sudah tercermin dalam sikap generasi mudanya pada saat ini. Selama masih ada generasi muda yang membuat menyontek sebagai budayanya, selama itu pula bangsa kita masih akan terbelenggu dalam masalah-masalah kompleks lainnya baik di bidang pemerintahan maupun pendidikan.

Posted by Reta Riayu Putri