Midnight Memories

ROFL

Sabtu, 16 November 2013 itu rasanya tidak ada yang berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Aku tengah menghabiskan sore itu dengan melahap novel The Litigators-nya John Grisham saat tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar. Papa ternyata, yang memberitahukan bahwa temanku sudah menunggu di bawah. Akupun mengerutkan kening. Siapa? pikirku dalam hati. Segera aku berlari menuruni dua anak tangga sekaligus dengan cekatan. Setibanya di bawah, aku mendapati Ika berdiri di sana dengan cengirannya yang khas. Ternyata ia ke rumahku untuk kembali membicarakan rencana yang telah kami susun siang tadi. Ah, hampir saja aku lupa.

Sabtu siang tadi, kami telah menyusun rencana ajaib bin kece untuk pergi keluar berdua malam Minggu ini. Akhirnya, kami memutuskan untuk menonton film. Langsung saja aku mengecek jadwal film hari itu. Akhirnya, kami berdua memutuskan untuk menonton film Carrie, horor klasik yang dibintangi Chloë Moretz. Setelah bersiap-siap untuk pergi, terlintas di benakku betapa super-duper garingnya malam Minggu ini jika hanya nonton berdua saja. Kelihatan banget kan jomblonya. Udah jomblo, ngenes lagi. Pengin rasanya aku menjedutkan kepalaku ke dinding untuk mengingatkan betapa ngenesnya nasib si jomblo akut ini. Oke, setelah kelamaan berpikir, tanpa terasa jam telah menunjukkan pukul 19:15. Lima belas menit lagi filmnya akan dimulai dan kami belum bergerak sedikitpun. Jika Vios bisa terbang sekalipun rasanya tak akan sempat untuk mengantarkan kami ke Bisokop XXI di Mega Mall dalam waktu 15 menit.

Aku membenamkan mukaku di tumpukan bantal yang ada di kamarku. Sedangkan Ika berusaha menghubungi siapapun yang bersedia menemani kami berdua nonton di malam Minggu itu. Kami mencoba menghubungi Ivo, tapi saat itu ia sedang tidak bisa keluar karena sedang berusaha mejadi anak yang baik dengan dalih menjaga Mamanya di rumah. Tak putus asa, kami mencoba mengajak Rio, yang langsung menyetujui untuk ikut menonton. Sebelumnya, kami juga menghubungi Luqman, yang juga bersedia untuk ikut menonton dengan kami, para jomblo tersedih di dunia. Rio menjemputku dan Ika di rumahku. Setelahnya, kita langsung bergegas meluncur ke Mega Mall. Di perjalanan, Rio menyanyakan alasan kami mengapa mengajaknya nonton secara tiba-tiba.

“Bosan di rumah”, jawabku dan Ika kompak.

“Memang kenapa? Ada acara?” tanyaku balik.

“Nggak kok. Aku juga bosan di rumah”, jawabnya.

Sepanjang perjalanan, Rio mencoba menyalip siapapun yang ada di depannya. Seriusan, Rio nyetirnya udah mirip kayak di Need For Speed, sampai Ika harus mengingatkan, “Rio, hati-hati. Lo bawa dua cewek cantik nih, bro.” Dengan gaya andalannya, Rio hanya bisa nyengir sambil mingkem, oke, bayangin sendiri aja ya, nyengir sambil mingkem itu gimana.

Escape Plan (film)

Jam telah menunjukkan pukul 19:30 ketika aku, Rio, dan Ika masih berjibaku untuk keluar dari kemacetan yang memenuhi jalan menuju Mega Mall. Aku menatap pasrah jam yang semakin cepat berlalu. 30 menit kemudian, aku, Rio, dan Ika sampai di Mega Mall, dan Rio akhirnya dapat memarkirkan mobilnya setelah keliling mencari lahan parkir yang kosong, mengingat ramainya Mega Mall pada malam itu. Setibanya di dalam bioskop, Luqman, telah menunggu kami di sana. Bisa ditebak, kami terlambat hampir satu jam. Rasanya sia-sia jika memaksakan untuk tetap menonton Carrie. Akhirnya, kami memutuskan untuk menonton film Escape Plan yang jam tayangnya 21:35. Jam masih menunjukkan pukul setengah sembilan yang mana artinya, kami masih harus menunggu satu jam lagi. Akhirnya, kami memutuskan untuk ke toko buku Karisma sekadar melihat-lihat, daripada mati gaya nggak tahu harus ngapain. Tak lama kemudian, Rio berkata jika ia ingin ke Hypermart untuk membeli beberapa camilan. Kemudian, kami bergegas ke Hypermart. Ceritanya, para jomblo akut ini membeli banyak cokelat dan minuman bersoda serta makanan ringan lainnya. Alhasil, camilan kami berempat, aku, Rio, Ika, dan Luqman sepanjang film bukanlah popcorn melainkan cokelat Cadbury, Pocky, Lays, Milo, dan Cocacola zero.

Cocacola zero and Cadbury

Kami mengikuti setiap alur film dengan cermat sambil sesekali tertawa atau sekadar mengomentari suatu hal yang ada di suatu scene. Di tengah-tengah film, mamaku menelepon. Jujur saja, malas sangat rasanya nak jawab telepon di dalam bioskop. Tapi, akhirnya, telepon Mama yang kesekian kali itu kuangkat, namun aku memilih tidak berbicara sepatah katapun hehe. Dalam hati, ini nyokap mau ngomong apa sih? Tak lama, sambungan terputus. Mungkin bukan terputus, tapi diputus kali, ya. Secara, sambungan telepon antar beda operator kan mahal banget. Maaf, Ma. Nggak bermaksud hehe. Tak lama kemudian, sebuah pesan dari Mama masuk ke HP-ku, yang kurang lebih isinya berbunyi:

“Kak, jangan ketiduran, ya.

Nanti ditinggal temannya”

Aku menahan ketawa ketika membaca pesan Mama di tengah-tengah film. Ini emak gue lucu banget ya. Kirain nelepon tadi mau bilang apa, ternyata oh ternyata. Tapi, nggak heran juga sih, mengingat sebelumnya, ketika menonton film midnight tepat jam 12 malam di bioskop, aku hanya menonton sekitar 10 menit di awal, karena sisanya aku hanya tidur. Parah banget kan, ya. Jadi mengingat hal itu, rasanya wajar jika Mama mengingatkan seperti itu.

Tanpa terasa film pun usai. Sylvester Stallone menunjukkan kemampuan aktingnya secara total di film Escape Plan yang kami tonton. Jam telah menunjukkan pukul setengah dua belas malam ketika kami keluar dari bioskop. Perutku berbunyi nyaring bagaikan terompet marcing band di Istana Negara. Lapar tengah malam menyergapku. Seriusan, ini perut nggak bisa diajak kompromi banget dah. Cadbury yang sepanjang film tadi kumakan rasanya tak cukup untuk mengganjal perutku. Luqman kemudian bertanya mengenai destinasi selanjutnya.

“Mau ke mana lagi nih?” tanya Luqman.

“Terserah” jawab Rio.

“Jam berapa sih memang?” tanya Ika.

“Jam setengah dua belas” jawabku.

“McD’s aja yuk”, usulku berikutnya.

“Lapar”, aku menambahkan dengan menunjukkan puppy’s eyes terbaikku.

Akhirnya Rio, Ika dan Luqman langsung menyetujui usulku. Kami berempat kemudian bergegas ke McD’s menggunakan mobil Luqman, sementara mobil Rio tetap ditinggal di parkiran atas Mega Mall. Tak butuh waktu lama untuk menembus jalanan yang dapat dikatakan lengang di dini hari itu. Tak lama kemudian, tibalah kami di McD’s. Namun, karena penuhnya parkiran, lagi dan lagi, akhirnya kami terpaksa memarkirkan mobil di seberang  jalan yang cukup jauh dari McD’s. Hal itu sayangnya tak menyurutkan semangat kami, khususnya aku untuk menyerbu McD’s.

Rio dan Luqman memesan Happy Meal burger dan french fries, sementara aku dan Ika memilih memesan porsi besar Panas Spesial. Rio menatapku heran ketika melihat pesananku sembari menanyakan pertanyaan terjujur yang pernah kudengar,

“Nggak takut gendut, Ret?” tanyanya polos. Aku kemudian memerhatikan makanan yang kupesan. Lalu aku bertanya balik,

“Memang aku gendut, ya?” tanyaku balik.

“Enggak kok, kurus”, jawabnya yang membuat hati ini seketika menjadi tenang. Lu kate bro.

Tapi, memang namanya lapar mata, alhasil, aku tidak dapat menghabiskan makananku yang masih banyak. Rio menatapku kasihan.

“Kubantu ya”, ujar Rio.

McDonald's

Saking kompaknya, Ika pun juga tidak dapat menghabiskan makanannya. Kami berdua seketika menjadi kenyang. Jadilah, Rio dan Luqman membantu aku dan Ika menghabiskan Panas Spesial yang tidak sanggup kami habiskan itu. Aku memerhatikan bule paruh baya di sampingku yang tengah menggigit burger-nya dengan lahap sementara menunggu Rio menghabiskan Panas Spesialku. Oke, ini agak ajaib bin ngakak. Ini double date tergagal yang pernah ada kan, ya. Ketika empat jombo berkumpul menghabiskan Sabtu malam dengan menonton film yang dilanjutkan dengan sarapan dini hari di McD’s. Duh, udah jomblo, ngenes lagi (jedutin kepala ke dinding). Jam tanpa terasa telah menunjukkan pukul satu pagi, ketika kami masih duduk di McD’s bercerita tentang apa saja. Dasar bocah random. Hingga akhirnya, aku berdiri dan memutuskan untuk memesan McFlurry. Rio, lagi-lagi menatapku heran sembari bertanya untuk kesekian kalinya,

“Nggak takut gendut, Ret?” Ih, nih akan pengin aku tujes-tujesin ke lantai. Pertanyaannya itu loooh, minta dikekep banget kan. Seketika aku mengurungkan niatku. Lalu ia kemudian memberikan cengiran terbaiknya dengan memamerkan deretan giginya,

“Nggak kok nggak gendut. Beli aja gih sana”, ujarnya polos. Seketika aku kembali berdiri dan tanpa ragu lagi membeli McFlurry. Sekitar pukul jam setengah dua pagi, akhirnya kami memutuskan untuk kembali lagi ke Mega Mall, mengambil mobil Rio yang masih terparkir di atas sana.

Di perjalanan, Rio menatapku yang masih melahap McFlurry dengan pandangan takjub.

“Kenapa?” tanyaku yang mulai jengah dilihatin begitu.

“Mau?” tawarku.

“Enggak. Udah kenyang”, jawabnya sambil memamerkan deretan giginya dan menatapku maklum. Akhirnya, kami harus berpisah setelah itu dengan Luqman sementara Rio mengantarkan aku dan Ika pulang, di mana Ika akhirnya memutuskan untuk setuju menginap di rumahku. Jadi, itulah akhir kisah jomblo ngenes yang menghabiskan malam Sabtunya hingga Minggu dini hari. Asli jomblo kok. Sedikit ngenes, tapi keren kan, ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s