Bento Syndicate (XI-IPA 5) SMAN 1 BATAM

Selasa, 14 Mei 2013

Syndicate atau kelas XI-IPA 5 SMAN 1 BATAM membawa bento secara bersama-sama dalam pelajaran Bahasa Jepang bersama Sensei Mira Dwi Novrianty, S.Pd. Bento sendiri adalah lunch box yang dihias dengan menarik dalam budaya Jepang. Khasnya, bento atau lunch box itu dihiasi oleh nori (rumput laut kering) yang berwarna hijau kehitam-hitaman.

box

My fucking angry bird oops
Bento
Chantika Karina’s
Bento
Dmitri Andriani’s
Bento
Dwi Putri Julianti’s
Bento
Gilang DelanaPutri’s
Bento
Mila Baarik Iman Sari’s
Bento
Riani Fitrahlia’s
Bento
M. Luqman Hidayat’s
Bento
Haiqal Muhammad’s
Bento
Abid Affandi’s
Bento
Rakadrian Nugraha’s
Bento
Fulristami Zaenab’s
Bento
Hania Rizkieta Hazah’s
Bento
Ika Putri Syawaliani’s
Bento
Rama Fitria Revoni’s
Bento
Andika Dwi Rianita’s
Bento
Dicky’s
Bento
Rofidah Umniyati Hs’
Bento
Peyaaas’
Bento
Prama Ikhsan Anggara’s
Bento
Aulia Riski Molanda’s
Bento
Suci Womantri’s
Bento
Dela Rizkyani’s
Bento
Fiha Ruzieqna’s
Bento
Tresnawati Dyah’s
Bento
Ocatavian Sahat’s
Bento
Fauzan Permana Noor’s
Bento
Rio Rinaldi’s

 

Bento
Faizal Ibrahim’s

 

Bento
Alit Dian Saepudin’s

 

Bento
Devita Rosalina’s

 

Bento
Pieter Mario’s

 

Bento
Edi’s

 

Bento
Ivo Mario’s

Euforia PSP 5 hingga Surat Terbuka untuk Presiden

“Nak, kamu ikut lomba tulis surat terbuka untuk presiden, ya.” this is the beginning. Sabtu, secara tiba-tiba, Bu Yotri, guru bahasa Indonesia di tempat saya bersekolah, SMAN 1 Batam menyarankan agar saya mengikuti lomba yang terbuka untuk seluruh Indonesia itu.

“Oh, iya, Bu” jawab saya singkat sementara neuron dan cerebrum saya masih bersinergi mencerna kata-kata Bu Yotri tadi. Hal pertama yang ada di pikiran saya adalah, mau nulis tentang apa, ya?

Here we go!! Suatu malam, saya terbangun, you know, in the middle of the night, ah cheesy! Oke, ini beneran. Jam dua malam gue bangun antara sadar dan tidak. Mencari-cari HP di nakas dan menyadari bahwa jam masih menunjukkan pukul 2 pagi. I can’t help but scream “WHAT THE HELL AM I SUPPOSE TO DO??”

Automatically, I opened my laptop and starting to write my open letter to Mr. President. Just so you know, tema yang akhirnya gue ambil adalah pendidikan. Sebelumnya, sebuah TV swasta sempat menayangkan bagaimana rapuhnya dunia pendidikan di Indonesia, seperti, sekolah yang sudah rubuh, transportasi ke sekolah yang terputus, dan kisah-kisah lainnya yang semua orang brainless lainnya bakal nganggap itu klasik (baca ini: Benang Kusut Pendidikan di Indonesia dan Kontroversinya)

Jadi, jam dua pagi itu, gue berapi-api menuliskan rapuhnya pendidikan di Indonesia yang mana seyogyanya, pasti bakal dianggap klise sama orang banyak di mana cerebrum gue cuma meneriakkan “WHO CARES?” dan awkward-nya, I can’t stop writing. Batas penulisannya hanya tiga halaman which I want to write it more. Jadilah naskah 3 halaman itu yang saya kirim ke pihak panitia. Setelah membuatnya jam 2 pagi, gileee, itu pure ga ada diubah-ubah lagi. Ga ada proses editing, karena gue langsung kirim ke pihak panitia. Well, that’s it!

Dan alhamdulillah, tanpa disangka, di malam puncak Pasar Seni Pelajar 5 – SMAN 4 Batam sebagai penyelenggara acara, yang diselenggarakan di Sumatra Convention Centre, Batam, Kepulauan Riau, mengumumkan bahwa open letter that I wrote nyabet ke posisi 9 dari 15 terbaik yang diumumkan. Di mana, 15 penulis terbaik, diberi sertifikat dan karyanya akan dibukukan. Thank, God! I don’t expect You too much but this one is enough for me.

Berikut adalah surat terbuka untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang saya tulis.

Yth, Presiden Republik Indonesia

di Jakarta

“Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?

Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah

Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah

Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah”

 

Bapak presiden yang terhormat, penggalan bait puisi karya Adhie Massardi di atas mungkin terkesan klise bagi sebagian orang. Untaian kata demi kata dari bait puisi sederhana tersebut mungkin saja dipandang sebelah mata. Walau bagaimanapun, puisi tersebut sebenarnya merupakan jeritan hati terdalam dari seorang rakyat biasa yang hidup di era demokrasi seperti sekarang ini. Keluh kesah tersebut tidak lain bagaikan rintihan kawula alit yang berjuang keras memahami keadaan negerinya yang semakin kontras dengan nilai-nilai kestabilan dan kemakmuran yang ada.

Kemiskinan seakan tidak pernah ada habisnya. Permasalahan yang disebabkan oleh garis kemiskinan di negeri ini seakan sudah menjadi hal yang lumrah. Masalah kaum proletar ini semakin memprihatinkan saat Badan Pusat Statistik atau BPS merilis data terbarunya yang menyebutkan sedikitnya terdapat 30 juta lebih penduduk Indonesia yang hidup di garis kemiskinan.

Presiden yang terhormat, imbas dari permasalahan kemiskinan di Indonesia tentu saja mempengaruhi mutu sumber daya manusia yang ada. Setiap tahun jutaan anak Indonesia terpaksa putus sekolah karena kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan. Sebagian dari kita tentu saja khawatir melihat kondisi yang sangat memprihatinkan tersebut. Namun sebagian dari kita mungkin saja bersikap acuh melihat fakta tersebut.

Seyogyanya, hal terpenting untuk menumpas kemiskinan di Indonesia adalah dengan meningkatkan mutu sumber daya manusia yang ada. Peningkatan mutu sumber daya manusia tersebut tentu saja ditingkatkan melalui mutu pendidikan yang tinggi pula. Permasalahan besar yang muncul saat ini adalah seberapa besar kebijakan yang diambil untuk memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia yang terkesan carut-marut dengan berbagai permasalahan yang menghantuinya.

Presiden yang terhormat, rendahnya mutu pendidikan di Indonesia sudah menjadi santapan berita sehari-hari. Anggaran untuk pendidikan yang rendah, jutaan anak Indonesia yang putus sekolah, penyelewengan dana untuk pendidikan oleh oknum tertentu, hingga tidak layaknya bangunan sekolah untuk dijadikan sebagai tempat belajar adalah sebagian kecil di antara problematika yang menghantui dunia pendidikan kita. Contoh sederhananya adalah ketidaklayakan sebagian bangunan sekolah di Indonesia untuk dijadikan sebagai tempat belajar. Bangunan sekolah yang rapuh hingga tidak layak digunakan sebagai tempat belajar sudah seharusnya dianggap sebagai suatu masalah yang serius dan perlu perhatian khusus dari pemerintah. Hal ini dirasa begitu kontras dengan megahnya bangunan gedung-gedung pemerintahan yang ada.

Sebagian dari kita mungkin saja menutup mata melihat rendahnya mutu pendidikan di Indonesia. Namun, tak dapat dipungkiri hal inilah yang menjadi landasan untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa Indonesia yang lebih baik untuk ke depannya. Permasalahan kaum proletar seperti kemiskinan dan lain sebagainya tentu saja berpangkal dari rendahnya mutu pendidikan kita. Permasalahan di dunia pendidikan inilah yang seharusnya lebih diutamakan untuk diselesaikan.

Presiden yang terhormat, masalah serius di dunia pendidikan kita yang semakin memprihatinkan kerap kali dianggap sebagai angin lalu. Sudah saatnya kita mulai berbenah diri menyadari arti penting pendidikan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat sehingga dapat terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. Pendidikan adalah kunci dari semua problematika yang ada di negeri ini. Dengan tingginya mutu pendidikan maka tinggi pula mutu sumber daya manusia yang ada. Sudah saatnya kita membuka mata, hati, dan pikiran kita mencermati secara serius mengenai permasalahan-permasalahan di dunia pendidikan itu sendiri

Indonesia sebagai negara berkembang tentu saja harus menyadari arti penting pendidikan sebagai bekal untuk menyelesaikan berbagai masalah baik politik, sosial, ekonomi, dan lainnya yang mengendap di bumi Indonesia. Tidak pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Indonesia tercinta ini harus mengerahkan sekuat tenaga untuk menyelesaikan berbagai permasalahan negeri ini dengan memperbaiki mutu pendidikan itu sendiri.

Presiden yang terhormat, demikian surat terbuka ini, semoga berkenan membaca dan menindaklanjutinya dalam gerak langkah yang nyata untuk Indonesia yang lebih baik.

1360757234455
Sertifikat Lomba Menulis Surat untuk Presiden – Reta Riayu Putri
Reta Riayu Putri's
Malam Puncak Pasar Seni Pelajar 5 – SMAN 4 Batam
Reta Riayu Putri's
Malam Puncak Pasar Seni Pelajar 5 – SMAN 4 Batam
2013-01-26 22.30.33 (1)
Malam Puncak Pasar Seni Pelajar 5 – SMAN 4 Batam
Reta Riayu Putri's
Malam Puncak Pasar Seni Pelajar 5 – SMAN 4 Batam
Reta Riayu Putri's
Malam Puncak Pasar Seni Pelajar 5 – SMAN 4 Batam
Reta Riayu Putri's
Malam Puncak Pasar Seni Pelajar 5 – SMAN 4 Batam

Kupinang Kau dengan Biskuit

Kupinang Kau dengan Biskuit adalah parodi sinetron Kupinang Kau dengan Bismillah. Film pendek ini dibuat untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia dengan guru pembimbingnya yaitu Ibu Ogsfika Yotri, S.Pd. Film ini dibintangi oleh Chantika Karina, Gilang Delana Putri, Reta Riayu Putri, Fulristami Zaenab, Aulia Riski Molanda, dan Tresnawati Dyah. Film ini merupakan tugas akhir semester 1 kelas XI-IPA 5 (2012-2013) SMAN 1 BATAM.

Pembuatan film pendek ini memakan waktu yang cukup singkat, karena waktu pembuatannya sendiri kurang dari 24 jam, yang dilakukan pada hari Jumat sepulang sekolah. Sebenarnya, pembuatan film pendek ini sendiri telah dimulai sejak hari Kamis, namun karena banyaknya harakiri sana-sini, maka tebaklah apa yang terjadi. Tentu saja syuting film yang dimulai hari Kamis itu kagak kelar-kelar, hehe.

Benang Kusut Pendidikan di Indonesia dan Kontroversinya

Posted by Reta Riayu Putri

Pendidikan, hal yang begitu penting untuk kelangsungan hidup manusia ini terkadang disepelekan oleh sebagian orang yang menganggapnya memang seperti itu. Lalu, bagaimana jika kita bicara tentang mutu? Tidak banyak yang mau membuka matanya dan mengatakan dengan lantang bahwa pendidikan kita di Indonesia masih jauh dari kata layak, jika berkaca dari banyaknya sekolah dasar di Indonesia yang bahkan tidak bisa disebut sebagai tempat proses belajar mengajar yang baik.

Permasalahan pendidikan di Indonesia kian kompleks dengan banyaknya berita carut-marut penyelewengan terhadap dana pendidikan baik di tingkat pusat maupun daerah. Jika di luar sana sebagian dari kita sibuk membicarakan tentang sistem UN yang dirasa memberatkan dan tidak efisien, sebenarnya ada masalah yang lebih urgent ketimbang memikirkan seberapa efisien sistem UN tiap tahun bagi senior di tingkat SD, SMP, dan SMA. Hal yang dirasa lebih pantas dipermasalahkan adalah tidak layaknya sebagian besar pendidikan di tingkat dasar. Entahlah, Indonesia seakan semakin terpuruk dalam kompeksitas permasalahan yang tiada hentinya.

Pernahkah Anda membayangkan, ada lebih dari ribuan anak sekolah dasar di daerah pedalaman sana yang setiap hari berjuang keras untuk dapat pergi ke sekolah? Contoh sederhananya, apa yang Anda pikirkan ketika melihat anak-anak SD di Sulawesi menempuh jarak 10 km untuk sampai ke sekolahnya hanya dengan berjalan kaki? Mereka berangkat mulai pukul 3 pagi agar tidak terlambat sampai di sekolahnya yang sangat jauh dari rumahnya? Sementara, realitas di kota besar lainnya, banyak pejabat dan pemegang kekuasaan di instansi pemerintah yang pergi kerja mendapat fasilitas berbagai kendaraan tapi sering lalai dalam tugasnya, seperti membolos saat masuk kerja setelah libur panjang atau bahkan tidur saat rapat sedang berlangsung?

Hal seperti itu mungkin terlihat klise bagi sebagian orang! Termasuk Anda yang membacanya, bukan? Tapi, tidakkah itu suatu ironi yang sangat mengkhawatirkan? Contoh lainnya, banyak juga anak SD yang harus menyebrangi sungai yang deras terlebih dahulu agar bisa sampai ke sekolahnya? Ini ironis!!! Apa kita semua sudah tidak punya hati? Ke mana mata hati kita? Hal itu belum seberapa, jika melihat banyaknya bangunan sekolah di Indonesia yang bahkan jauh dari kata layak, bahkan tidak bisa disebut sebagai tempat belajar yang baik?

Anda mungkin tengah tertawa sekarang melihat tulisan yang mungkin saja Anda anggap sampah pada saat ini. Tulisan anak SMA yang tidak tahu apa-apa, mungkin? Bukan begitu? Baiklah, tulisan ini hanya sebagian keluh-kesah saya melihat ironi pendidikan di Indonesia yang mungkin tidak berarti apa-apa untuk sebagian orang. Tulisan sampah, bukan begitu? But at least, I have my own opinion. 

Teman saya mengatakan (entah masih bisa dianggap teman atau tidak), “bukan cuma 1 masalah yang harus diselesaikan pemerintah….. jangan melulu menyalahkan mereka… kayak gak berpendidikan aja” -entah siapa namanya saya juga sudah lupa.

Apa yang ada dipikiran Anda ketika melihat komentar itu? Tentu saja ia benar. Tidak hanya satu masalah yang harus diselesaikan pemerintah. Tapi, apakah masalah pendidikan itu tidak masuk dalam daftar prioritas? Padahal, pendidikan adalah salah satu hal yang penting untuk menjalankan suatu sistem pemerintahan itu sendiri. Lalu untuk statement selanjutnya, tidak, tidak ada yang menyalahkan pemerintah sama sekali. Malahan kita semua sangat mendukung program kerja pemerintah dengan menyoroti masalah-masalah yang dirasa vital dan harus diperbaiki untuk kelangsungan hidup kita ke depannya. Apa gunanya media pers jika kita hanya menyoroti hal-hal baik yang tersistematis tanpa melihat program lain yang seakan “terbengkalai”? Inilah gunanya pers, bukan?

Statement terakhir, pertanyaan yang muncul adalah, apa semua orang yang mengkritisi program kerja pemerintah termasuk pers dan rakyat itu sendiri dianggap orang yang tidak berpendidikan? Respon saya saat melihat komentar yang dituliskan oleh seseorang tersebut di jejaring sosial adalah well mungkin saya hanya dapat tertawa mengasihani sang komentator tersebut dalam ketidaktahuannya. Kesimpulan yang bisa diambil, tentu saja ia orang yang tidak tahu aturan berpendapat di dunia maya. Ia berdalih setiap orang bebas berpendapat termasuk komentar “kayak orang ga berpendidikan saja”-nya itu. Hal yang saya hormati ialah, ya mungkin saja itu memang pendapat sang komentator tersebut. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan apalagi dibesar-besarkan. Hanya yah mungkin ia hanya, seperti yang saya katakan di awal tadi, terlampau dumb  untuk berpendapat di suatu jejaring sosial.

Kembali lagi ke topik awal, saya tahu tidak semua dari Anda yang membaca tulisan ini pada saat ini setuju dengan apa yang saya uraikan. Intinya, Indonesia ini tidak kalah dari negara-negara besar lainnya seperti Amerika, Jerman, dll. Kita hanya perlu mawas diri dalam mengemban amanah mencerdaskan kehidupan bangsa. Indonesia hanya perlu berbenah diri dalam mencapai visi serta misi mewujudkan negara yang makmur dengan tingkat SDM yang berkualitas tinggi. Indonesia bisa lebih baik lagi atau tidak untuk ke depannya sebenarnya sudah tercermin dalam sikap generasi mudanya pada saat ini. Selama masih ada generasi muda yang membuat menyontek sebagai budayanya, selama itu pula bangsa kita masih akan terbelenggu dalam masalah-masalah kompleks lainnya baik di bidang pemerintahan maupun pendidikan.

Posted by Reta Riayu Putri

FORMAT RESENSI BUKU

by Reta Riayu Putri (retariayu.wordpress.com)

Got it! My favourite teacher, Bu Yotri (muah-peluk-cium-Bu-Yotri, I love Bu Yotri) just gave me bit task untuk meresensi novel, baik terjemahan atau asli Indonesia. Especially for my friends in XI-Science 5 (2012-2013) SMAN 1 Batam or Syndicate and all of you guys that wanna know how to make that “resensi”. Here we go!!

1.    Judul Resensi

  1. judul resensi harus menarik
  2. melingkupi keseluruhan tulisan/resensi tsb

2.    Data Buku

  1. judul buku
  2. pengarang
  3. penerbit beserta edisi cetakan
  4. tahun terbit
  5. tebal buku (jumlah halaman)
  6. harga buku

3.    Kalimat Pembuka Resensi

  1. dapat berisi pembahasan tentang penagarang, kaya dan prestasi
  2. membandingkan buku yang sejenis
  3. memaparkan kekhasan/sosok pengarang
  4. memaparkan keunikan buku
  5. tema : memaparkan kritiksn terhadap buku
  6. memperkenalkan penerbit
  7. mengajukan pertanyaan
  8. membuka dialog

4.    Tubuh atau Isi Resensi

  1. synopsis (ringakasan isi)
  2. ulasan singkat
  3. keunggulan buku
  4. kelemahan buku
  5. kerangka buku
  6. tinjauan bahasa
  7. kesalahan cetak
  8. penutup resensi : biasanya berisi simpulan bahwa buku tsb penting untuk siapa dan mengapa

Sunny Weekends

Weekends! It was such a big big day! Tired of hectic Monday-Friday. Aaaah, that’s pathetic! I spent weekends with my mom, dad, and my lil sister. We went to cinema and saw midnight movie, and on Sunday, we went to bookstore and yup cinema again. It was simply just for fun and we love it!

My little sister (posted by Reta Riayu Putri)

My little sister (posted by Reta Riayu Putri)

My little sister (posted by Reta Riayu Putri)

My little sister (posted by Reta Riayu Putri)and then…My little sister (posted by Reta Riayu Putri)WOW!! WHAT’S UP?? Haha, we have no idea. She yelled for coke, LOL!

Posted by Reta Riayu PutriFrench fries was not too bad.

Posted by Reta Riayu Putri

Posted by Reta Riayu Putri
Ayam Penyet

Posted by Reta Riayu Putri
Under rench fries…

Posted by Reta Riayu Putri

Posted by Reta Riayu Putri
Ice Blended Chocolate at Bistro Godiva

That’s all. And pals, did you know, this is bit random stuff while I’m getting bored. Chatting, watching, listening music, reading novel and magazine, etc with my Android.

Wallpaper of my Android (Samsung Galaxy Mini) Posted by Reta Riayu Putri Posted by Reta Riayu Putri

Posted by Reta Riayu Putri

Watching video on Youtube (The All American Rejects – Dirty Little Secret)

Posted by Reta Riayu Putri
Reading Detik magazine
Posted by Reta Riayu Putri
The Hunger Games (novel)
Posted by Reta Riayu Putri
Memory Motel by The Rolling Stones

Posted by Reta Riayu Putri
Reading entertainment, sports, etc
Posted by Reta Riayu Putri
Online Twitter

 

Posted by Reta Riayu Putri
Line Messenger
Posted by Reta Riayu Putri
Line-ing (Line Messenger with my friend, Agni)
Posted by Reta Riayu Putri
WhatsApp-ing with my friend, Fauzian.

Cara Mengatur Jarak Spasi di MS Word

Baiklah. Artikel ini berkaitan dengan double spasi atau spasi ganda. Saya akan menjelaskan dari awal. Jarak spasi yang dimaksud di sini adalah jarak antar baris dalam suatu tulisan atau paragraph. Semakin besar spasinya, maka jarak antara baris tulisan diatas dan dibawahnya akan menjadi lebih besar.
Secara default Microsoft Word mengatur spasi dengan ukuran spasi 1 (single). Kita bisa mengatur jarak spasi menjadi 1,5 atau double (2). Namun demikian kita masih bisa untuk mengatur sendiri jarak spasi yang kita inginkan, sperti 1,3 ; 1,7 ; atau yang lainnya.Untuk mengatur jarak spasi di MS Word, yang dilakukan adalah:
  • Sebelum menulis dilembar kerja, kita bisa langsung mengatur jarak spasi. Atau bisa juga mengetik dahulu kemudian baru diatur jarak spasinya, tentu saja sebelum diatur jarak spasinya, ketikan harus diblok terlebih dahulu.
  • Klik menu Home kemudian pilih tanda panah dipojok kanan bawah pada group menu Paragraph

.

  • Klik tab Indents and Spacing, pada pilihan Line Spacing klik tombol dropdown di sebelah tulisan single.
  • Pilih salah satu pilihan spasi yang tersedia single, 1,5 atau double

  • Jika Anda menginginkan spasi sendiri, maka setelah menekan tombol dropdown pilihlah pilihan multiple.
  • Disebelah kanannya terdapat pilihan At. Dan isilah sesuai yang Anda inginkan, missal spasi 1,3 ; 1,7 ; 2,2 atau yang lainnya.

  • Klik OK.

Continue reading “Cara Mengatur Jarak Spasi di MS Word”