Bento Syndicate (XI-IPA 5) SMAN 1 BATAM

Selasa, 14 Mei 2013

Syndicate atau kelas XI-IPA 5 SMAN 1 BATAM membawa bento secara bersama-sama dalam pelajaran Bahasa Jepang bersama Sensei Mira Dwi Novrianty, S.Pd. Bento sendiri adalah lunch box yang dihias dengan menarik dalam budaya Jepang. Khasnya, bento atau lunch box itu dihiasi oleh nori (rumput laut kering) yang berwarna hijau kehitam-hitaman.

box

My fucking angry bird oops
Bento
Chantika Karina’s
Bento
Dmitri Andriani’s
Bento
Dwi Putri Julianti’s
Bento
Gilang DelanaPutri’s
Bento
Mila Baarik Iman Sari’s
Bento
Riani Fitrahlia’s
Bento
M. Luqman Hidayat’s
Bento
Haiqal Muhammad’s
Bento
Abid Affandi’s
Bento
Rakadrian Nugraha’s
Bento
Fulristami Zaenab’s
Bento
Hania Rizkieta Hazah’s
Bento
Ika Putri Syawaliani’s
Bento
Rama Fitria Revoni’s
Bento
Andika Dwi Rianita’s
Bento
Dicky’s
Bento
Rofidah Umniyati Hs’
Bento
Peyaaas’
Bento
Prama Ikhsan Anggara’s
Bento
Aulia Riski Molanda’s
Bento
Suci Womantri’s
Bento
Dela Rizkyani’s
Bento
Fiha Ruzieqna’s
Bento
Tresnawati Dyah’s
Bento
Ocatavian Sahat’s
Bento
Fauzan Permana Noor’s
Bento
Rio Rinaldi’s

 

Bento
Faizal Ibrahim’s

 

Bento
Alit Dian Saepudin’s

 

Bento
Devita Rosalina’s

 

Bento
Pieter Mario’s

 

Bento
Edi’s

 

Bento
Ivo Mario’s

The Big Lunch of Syndicate

Rite, this is Syndicate, class who’ll make you mesmerized, nah! Btw, Syndicate had a big lunch on Wednesday, January 23, 2013. Ngehehe, we had fun on that day. Just so you know, lol. Alright, here we go!!

To be honest, it’s such a silly day for us which ya know, that we had a great time for the umpteenth time especially, in that superb-silly-Biology-class, with our fave teacher, Bu Eldia Gushinta, Bu Ogsfika Yotri, and Bu Nahda.

Reta Riayu Putri's - SMAN 1 Batam
Biologi, Kelompok 6 – SMAN 1 Batam
Reta Riayu Putri's - SMAN 1 Batam
Biologi Kelompok 6 – SMAN 1 Batam
Reta Riayu Putri's - SMAN 1 Batam
Biologi, Kelompok 6 – SMAN 1 Batam
Reta Riayu Putri's - SMAN 1 Batam
Biologi, Kelompok 6 – SMAN 1 Batam
Reta Riayu Putri's - SMAN 1 Batam
Biologi, Kelompok 6 – SMAN 1 Batam
Reta Riayu Putri's - SMAN 1 Batam
Biologi, Kelompok 5 – SMAN 1 Batam
Reta Riayu Putri's - SMAN 1 Batam
Biologi, Kelompok 2 – SMAN 1 Batam
Reta Riayu Putri's - SMAN 1 Batam
Kelompok 2 Biologi
Reta Riayu Putri's
Kelompok Biologi
Reta Riayu Putri's - SMAN 1 Batam
Biologi, Kelompok 1 – SMAN 1 Batam
Reta Riayu Putri's
Biologi Kelompok 3 – SMAN1 Batam
Reta Riayu Putri's
Biologi Kelompok 3 – SMAN 1 Batam
Reta Riayu Putri's
Yayang looks so freakin starving! :p
Reta Riayu Putri's
“look at me”
Reta Riayu Putri's
Dela Rizkyani dan Gilang Delana Putri
Reta Riayu Putri's
Kelompok 6, Biologi
Reta Riayu Putri's
Dela Rizkyani
Reta Riayu Putri's
Kelompok 6, Biologi
Reta Riayu Putri's
Biologi, Kelompok 6
Reta Riayu Putri's
Biologi Kelompok 6
Reta Riayu Putri's
Rofidah Umniyati
Reta Riayu Putri's
Kelompok 5, Biologi
Reta Riayu Putri's
Kelompok 6 Biologi
Reta Riayu Putri's
Biologi Kelompok 2
Reta Riayu Putri's
Biologi Kelompok 6
Reta Riayu Putri's
Biologi
Reta Riayu Putri's
Superb-Salad!!
Reta Riayu Putri's
TAKE IT!!!
Reta Riayu Putri's
NARSISME OF IVO!!
Reta Riayu Putri's
“kekhusyukan saat makan”
Reta Riayu Putri's
Bu Shinta
Reta Riayu Putri's
wut wuttt
Reta Riayu Putri's
Yes, we are starving
Reta Riayu Putri's
Superb-Longorrr!
Reta Riayu Putri's
afterrr
Reta Riayu Putri's
nyehaha
Reta Riayu Putri's
There’s Sun Go Kong!!
Reta Riayu Putri's
Alesana’s plate
Reta Riayu Putri's
lu bosen ga liat ini orang?Reta Riayu Putri's
senasib-sepenanggungan
Reta Riayu Putri's
Mr. want-to-know
Reta Riayu Putri's
It’s time to “beberesan”
Reta Riayu Putri's
who is this?
Reta Riayu Putri's
riang-kenyang-senang
Reta Riayu Putri's
had-a-great-time
Reta Riayu Putri's
salagadoola

Euforia PSP 5 hingga Surat Terbuka untuk Presiden

“Nak, kamu ikut lomba tulis surat terbuka untuk presiden, ya.” this is the beginning. Sabtu, secara tiba-tiba, Bu Yotri, guru bahasa Indonesia di tempat saya bersekolah, SMAN 1 Batam menyarankan agar saya mengikuti lomba yang terbuka untuk seluruh Indonesia itu.

“Oh, iya, Bu” jawab saya singkat sementara neuron dan cerebrum saya masih bersinergi mencerna kata-kata Bu Yotri tadi. Hal pertama yang ada di pikiran saya adalah, mau nulis tentang apa, ya?

Here we go!! Suatu malam, saya terbangun, you know, in the middle of the night, ah cheesy! Oke, ini beneran. Jam dua malam gue bangun antara sadar dan tidak. Mencari-cari HP di nakas dan menyadari bahwa jam masih menunjukkan pukul 2 pagi. I can’t help but scream “WHAT THE HELL AM I SUPPOSE TO DO??”

Automatically, I opened my laptop and starting to write my open letter to Mr. President. Just so you know, tema yang akhirnya gue ambil adalah pendidikan. Sebelumnya, sebuah TV swasta sempat menayangkan bagaimana rapuhnya dunia pendidikan di Indonesia, seperti, sekolah yang sudah rubuh, transportasi ke sekolah yang terputus, dan kisah-kisah lainnya yang semua orang brainless lainnya bakal nganggap itu klasik (baca ini: Benang Kusut Pendidikan di Indonesia dan Kontroversinya)

Jadi, jam dua pagi itu, gue berapi-api menuliskan rapuhnya pendidikan di Indonesia yang mana seyogyanya, pasti bakal dianggap klise sama orang banyak di mana cerebrum gue cuma meneriakkan “WHO CARES?” dan awkward-nya, I can’t stop writing. Batas penulisannya hanya tiga halaman which I want to write it more. Jadilah naskah 3 halaman itu yang saya kirim ke pihak panitia. Setelah membuatnya jam 2 pagi, gileee, itu pure ga ada diubah-ubah lagi. Ga ada proses editing, karena gue langsung kirim ke pihak panitia. Well, that’s it!

Dan alhamdulillah, tanpa disangka, di malam puncak Pasar Seni Pelajar 5 – SMAN 4 Batam sebagai penyelenggara acara, yang diselenggarakan di Sumatra Convention Centre, Batam, Kepulauan Riau, mengumumkan bahwa open letter that I wrote nyabet ke posisi 9 dari 15 terbaik yang diumumkan. Di mana, 15 penulis terbaik, diberi sertifikat dan karyanya akan dibukukan. Thank, God! I don’t expect You too much but this one is enough for me.

Berikut adalah surat terbuka untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang saya tulis.

Yth, Presiden Republik Indonesia

di Jakarta

“Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?

Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah

Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah

Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah”

 

Bapak presiden yang terhormat, penggalan bait puisi karya Adhie Massardi di atas mungkin terkesan klise bagi sebagian orang. Untaian kata demi kata dari bait puisi sederhana tersebut mungkin saja dipandang sebelah mata. Walau bagaimanapun, puisi tersebut sebenarnya merupakan jeritan hati terdalam dari seorang rakyat biasa yang hidup di era demokrasi seperti sekarang ini. Keluh kesah tersebut tidak lain bagaikan rintihan kawula alit yang berjuang keras memahami keadaan negerinya yang semakin kontras dengan nilai-nilai kestabilan dan kemakmuran yang ada.

Kemiskinan seakan tidak pernah ada habisnya. Permasalahan yang disebabkan oleh garis kemiskinan di negeri ini seakan sudah menjadi hal yang lumrah. Masalah kaum proletar ini semakin memprihatinkan saat Badan Pusat Statistik atau BPS merilis data terbarunya yang menyebutkan sedikitnya terdapat 30 juta lebih penduduk Indonesia yang hidup di garis kemiskinan.

Presiden yang terhormat, imbas dari permasalahan kemiskinan di Indonesia tentu saja mempengaruhi mutu sumber daya manusia yang ada. Setiap tahun jutaan anak Indonesia terpaksa putus sekolah karena kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan. Sebagian dari kita tentu saja khawatir melihat kondisi yang sangat memprihatinkan tersebut. Namun sebagian dari kita mungkin saja bersikap acuh melihat fakta tersebut.

Seyogyanya, hal terpenting untuk menumpas kemiskinan di Indonesia adalah dengan meningkatkan mutu sumber daya manusia yang ada. Peningkatan mutu sumber daya manusia tersebut tentu saja ditingkatkan melalui mutu pendidikan yang tinggi pula. Permasalahan besar yang muncul saat ini adalah seberapa besar kebijakan yang diambil untuk memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia yang terkesan carut-marut dengan berbagai permasalahan yang menghantuinya.

Presiden yang terhormat, rendahnya mutu pendidikan di Indonesia sudah menjadi santapan berita sehari-hari. Anggaran untuk pendidikan yang rendah, jutaan anak Indonesia yang putus sekolah, penyelewengan dana untuk pendidikan oleh oknum tertentu, hingga tidak layaknya bangunan sekolah untuk dijadikan sebagai tempat belajar adalah sebagian kecil di antara problematika yang menghantui dunia pendidikan kita. Contoh sederhananya adalah ketidaklayakan sebagian bangunan sekolah di Indonesia untuk dijadikan sebagai tempat belajar. Bangunan sekolah yang rapuh hingga tidak layak digunakan sebagai tempat belajar sudah seharusnya dianggap sebagai suatu masalah yang serius dan perlu perhatian khusus dari pemerintah. Hal ini dirasa begitu kontras dengan megahnya bangunan gedung-gedung pemerintahan yang ada.

Sebagian dari kita mungkin saja menutup mata melihat rendahnya mutu pendidikan di Indonesia. Namun, tak dapat dipungkiri hal inilah yang menjadi landasan untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa Indonesia yang lebih baik untuk ke depannya. Permasalahan kaum proletar seperti kemiskinan dan lain sebagainya tentu saja berpangkal dari rendahnya mutu pendidikan kita. Permasalahan di dunia pendidikan inilah yang seharusnya lebih diutamakan untuk diselesaikan.

Presiden yang terhormat, masalah serius di dunia pendidikan kita yang semakin memprihatinkan kerap kali dianggap sebagai angin lalu. Sudah saatnya kita mulai berbenah diri menyadari arti penting pendidikan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat sehingga dapat terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. Pendidikan adalah kunci dari semua problematika yang ada di negeri ini. Dengan tingginya mutu pendidikan maka tinggi pula mutu sumber daya manusia yang ada. Sudah saatnya kita membuka mata, hati, dan pikiran kita mencermati secara serius mengenai permasalahan-permasalahan di dunia pendidikan itu sendiri

Indonesia sebagai negara berkembang tentu saja harus menyadari arti penting pendidikan sebagai bekal untuk menyelesaikan berbagai masalah baik politik, sosial, ekonomi, dan lainnya yang mengendap di bumi Indonesia. Tidak pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Indonesia tercinta ini harus mengerahkan sekuat tenaga untuk menyelesaikan berbagai permasalahan negeri ini dengan memperbaiki mutu pendidikan itu sendiri.

Presiden yang terhormat, demikian surat terbuka ini, semoga berkenan membaca dan menindaklanjutinya dalam gerak langkah yang nyata untuk Indonesia yang lebih baik.

1360757234455
Sertifikat Lomba Menulis Surat untuk Presiden – Reta Riayu Putri
Reta Riayu Putri's
Malam Puncak Pasar Seni Pelajar 5 – SMAN 4 Batam
Reta Riayu Putri's
Malam Puncak Pasar Seni Pelajar 5 – SMAN 4 Batam
2013-01-26 22.30.33 (1)
Malam Puncak Pasar Seni Pelajar 5 – SMAN 4 Batam
Reta Riayu Putri's
Malam Puncak Pasar Seni Pelajar 5 – SMAN 4 Batam
Reta Riayu Putri's
Malam Puncak Pasar Seni Pelajar 5 – SMAN 4 Batam
Reta Riayu Putri's
Malam Puncak Pasar Seni Pelajar 5 – SMAN 4 Batam

Benang Kusut Pendidikan di Indonesia dan Kontroversinya

Posted by Reta Riayu Putri

Pendidikan, hal yang begitu penting untuk kelangsungan hidup manusia ini terkadang disepelekan oleh sebagian orang yang menganggapnya memang seperti itu. Lalu, bagaimana jika kita bicara tentang mutu? Tidak banyak yang mau membuka matanya dan mengatakan dengan lantang bahwa pendidikan kita di Indonesia masih jauh dari kata layak, jika berkaca dari banyaknya sekolah dasar di Indonesia yang bahkan tidak bisa disebut sebagai tempat proses belajar mengajar yang baik.

Permasalahan pendidikan di Indonesia kian kompleks dengan banyaknya berita carut-marut penyelewengan terhadap dana pendidikan baik di tingkat pusat maupun daerah. Jika di luar sana sebagian dari kita sibuk membicarakan tentang sistem UN yang dirasa memberatkan dan tidak efisien, sebenarnya ada masalah yang lebih urgent ketimbang memikirkan seberapa efisien sistem UN tiap tahun bagi senior di tingkat SD, SMP, dan SMA. Hal yang dirasa lebih pantas dipermasalahkan adalah tidak layaknya sebagian besar pendidikan di tingkat dasar. Entahlah, Indonesia seakan semakin terpuruk dalam kompeksitas permasalahan yang tiada hentinya.

Pernahkah Anda membayangkan, ada lebih dari ribuan anak sekolah dasar di daerah pedalaman sana yang setiap hari berjuang keras untuk dapat pergi ke sekolah? Contoh sederhananya, apa yang Anda pikirkan ketika melihat anak-anak SD di Sulawesi menempuh jarak 10 km untuk sampai ke sekolahnya hanya dengan berjalan kaki? Mereka berangkat mulai pukul 3 pagi agar tidak terlambat sampai di sekolahnya yang sangat jauh dari rumahnya? Sementara, realitas di kota besar lainnya, banyak pejabat dan pemegang kekuasaan di instansi pemerintah yang pergi kerja mendapat fasilitas berbagai kendaraan tapi sering lalai dalam tugasnya, seperti membolos saat masuk kerja setelah libur panjang atau bahkan tidur saat rapat sedang berlangsung?

Hal seperti itu mungkin terlihat klise bagi sebagian orang! Termasuk Anda yang membacanya, bukan? Tapi, tidakkah itu suatu ironi yang sangat mengkhawatirkan? Contoh lainnya, banyak juga anak SD yang harus menyebrangi sungai yang deras terlebih dahulu agar bisa sampai ke sekolahnya? Ini ironis!!! Apa kita semua sudah tidak punya hati? Ke mana mata hati kita? Hal itu belum seberapa, jika melihat banyaknya bangunan sekolah di Indonesia yang bahkan jauh dari kata layak, bahkan tidak bisa disebut sebagai tempat belajar yang baik?

Anda mungkin tengah tertawa sekarang melihat tulisan yang mungkin saja Anda anggap sampah pada saat ini. Tulisan anak SMA yang tidak tahu apa-apa, mungkin? Bukan begitu? Baiklah, tulisan ini hanya sebagian keluh-kesah saya melihat ironi pendidikan di Indonesia yang mungkin tidak berarti apa-apa untuk sebagian orang. Tulisan sampah, bukan begitu? But at least, I have my own opinion. 

Teman saya mengatakan (entah masih bisa dianggap teman atau tidak), “bukan cuma 1 masalah yang harus diselesaikan pemerintah….. jangan melulu menyalahkan mereka… kayak gak berpendidikan aja” -entah siapa namanya saya juga sudah lupa.

Apa yang ada dipikiran Anda ketika melihat komentar itu? Tentu saja ia benar. Tidak hanya satu masalah yang harus diselesaikan pemerintah. Tapi, apakah masalah pendidikan itu tidak masuk dalam daftar prioritas? Padahal, pendidikan adalah salah satu hal yang penting untuk menjalankan suatu sistem pemerintahan itu sendiri. Lalu untuk statement selanjutnya, tidak, tidak ada yang menyalahkan pemerintah sama sekali. Malahan kita semua sangat mendukung program kerja pemerintah dengan menyoroti masalah-masalah yang dirasa vital dan harus diperbaiki untuk kelangsungan hidup kita ke depannya. Apa gunanya media pers jika kita hanya menyoroti hal-hal baik yang tersistematis tanpa melihat program lain yang seakan “terbengkalai”? Inilah gunanya pers, bukan?

Statement terakhir, pertanyaan yang muncul adalah, apa semua orang yang mengkritisi program kerja pemerintah termasuk pers dan rakyat itu sendiri dianggap orang yang tidak berpendidikan? Respon saya saat melihat komentar yang dituliskan oleh seseorang tersebut di jejaring sosial adalah well mungkin saya hanya dapat tertawa mengasihani sang komentator tersebut dalam ketidaktahuannya. Kesimpulan yang bisa diambil, tentu saja ia orang yang tidak tahu aturan berpendapat di dunia maya. Ia berdalih setiap orang bebas berpendapat termasuk komentar “kayak orang ga berpendidikan saja”-nya itu. Hal yang saya hormati ialah, ya mungkin saja itu memang pendapat sang komentator tersebut. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan apalagi dibesar-besarkan. Hanya yah mungkin ia hanya, seperti yang saya katakan di awal tadi, terlampau dumb  untuk berpendapat di suatu jejaring sosial.

Kembali lagi ke topik awal, saya tahu tidak semua dari Anda yang membaca tulisan ini pada saat ini setuju dengan apa yang saya uraikan. Intinya, Indonesia ini tidak kalah dari negara-negara besar lainnya seperti Amerika, Jerman, dll. Kita hanya perlu mawas diri dalam mengemban amanah mencerdaskan kehidupan bangsa. Indonesia hanya perlu berbenah diri dalam mencapai visi serta misi mewujudkan negara yang makmur dengan tingkat SDM yang berkualitas tinggi. Indonesia bisa lebih baik lagi atau tidak untuk ke depannya sebenarnya sudah tercermin dalam sikap generasi mudanya pada saat ini. Selama masih ada generasi muda yang membuat menyontek sebagai budayanya, selama itu pula bangsa kita masih akan terbelenggu dalam masalah-masalah kompleks lainnya baik di bidang pemerintahan maupun pendidikan.

Posted by Reta Riayu Putri

FORMAT RESENSI BUKU

by Reta Riayu Putri (retariayu.wordpress.com)

Got it! My favourite teacher, Bu Yotri (muah-peluk-cium-Bu-Yotri, I love Bu Yotri) just gave me bit task untuk meresensi novel, baik terjemahan atau asli Indonesia. Especially for my friends in XI-Science 5 (2012-2013) SMAN 1 Batam or Syndicate and all of you guys that wanna know how to make that “resensi”. Here we go!!

1.    Judul Resensi

  1. judul resensi harus menarik
  2. melingkupi keseluruhan tulisan/resensi tsb

2.    Data Buku

  1. judul buku
  2. pengarang
  3. penerbit beserta edisi cetakan
  4. tahun terbit
  5. tebal buku (jumlah halaman)
  6. harga buku

3.    Kalimat Pembuka Resensi

  1. dapat berisi pembahasan tentang penagarang, kaya dan prestasi
  2. membandingkan buku yang sejenis
  3. memaparkan kekhasan/sosok pengarang
  4. memaparkan keunikan buku
  5. tema : memaparkan kritiksn terhadap buku
  6. memperkenalkan penerbit
  7. mengajukan pertanyaan
  8. membuka dialog

4.    Tubuh atau Isi Resensi

  1. synopsis (ringakasan isi)
  2. ulasan singkat
  3. keunggulan buku
  4. kelemahan buku
  5. kerangka buku
  6. tinjauan bahasa
  7. kesalahan cetak
  8. penutup resensi : biasanya berisi simpulan bahwa buku tsb penting untuk siapa dan mengapa

Sunny Weekends

Weekends! It was such a big big day! Tired of hectic Monday-Friday. Aaaah, that’s pathetic! I spent weekends with my mom, dad, and my lil sister. We went to cinema and saw midnight movie, and on Sunday, we went to bookstore and yup cinema again. It was simply just for fun and we love it!

My little sister (posted by Reta Riayu Putri)

My little sister (posted by Reta Riayu Putri)

My little sister (posted by Reta Riayu Putri)

My little sister (posted by Reta Riayu Putri)and then…My little sister (posted by Reta Riayu Putri)WOW!! WHAT’S UP?? Haha, we have no idea. She yelled for coke, LOL!

Posted by Reta Riayu PutriFrench fries was not too bad.

Posted by Reta Riayu Putri

Posted by Reta Riayu Putri
Ayam Penyet

Posted by Reta Riayu Putri
Under rench fries…

Posted by Reta Riayu Putri

Posted by Reta Riayu Putri
Ice Blended Chocolate at Bistro Godiva

That’s all. And pals, did you know, this is bit random stuff while I’m getting bored. Chatting, watching, listening music, reading novel and magazine, etc with my Android.

Wallpaper of my Android (Samsung Galaxy Mini) Posted by Reta Riayu Putri Posted by Reta Riayu Putri

Posted by Reta Riayu Putri

Watching video on Youtube (The All American Rejects – Dirty Little Secret)

Posted by Reta Riayu Putri
Reading Detik magazine
Posted by Reta Riayu Putri
The Hunger Games (novel)
Posted by Reta Riayu Putri
Memory Motel by The Rolling Stones

Posted by Reta Riayu Putri
Reading entertainment, sports, etc
Posted by Reta Riayu Putri
Online Twitter

 

Posted by Reta Riayu Putri
Line Messenger
Posted by Reta Riayu Putri
Line-ing (Line Messenger with my friend, Agni)
Posted by Reta Riayu Putri
WhatsApp-ing with my friend, Fauzian.

Can a Film Ever Truly Beat a Good Book?

Image

It has long been debated whether a film adaptation of a really popular novel can ever truly live up to the reader’s expectations and equal its paperback’s sucess. I started thinking about this whilst in Waterstones purchasing the Help when the store assistant enthusiastically announced that the film version was almost as good as the book, as though this was some sort of revelation. What really struck me was her emphasis on ‘almost’, as though it was never a point in question that the film could rival the book, but it was to be applauded that it had even come close.

As a self-confessed book-worm I’m concerned I might be approaching this debate with a slightly biased opinion (as you can probably tell from the title of the post) as, for me, there’s nothing better than those rare moments when you find yourself in possession of a book you just can’t put down, I’m talking about the kind of book you unashamedly read in a queue or on a 5 minute bus journey despite the fact you might only be able to squeeze in a few pages. Such books are hard to find and it’s a tough task to create films that live up to them. As they say, there’s nothing more powerful than the imagination, which is the true beauty of a well-written book, it’s almost as though you’ve dived into the page and you’re there with the characters – Elizabeth Bennett isn’t just the annoying Kiera Knightly playing the typical upper-class heroine you watched her play last week in Pirates of the Caribbean, she’s the character you’ve created in your mind, the one you feel like you know, she’s Elizabeth Bennett only. For this reason, I tend to prefer a good book over a good film.

Musing over this, I decided to buy the film version of the Help as well as the book and also started thinking about some of the nation’s favourite novels in comparison to their on-screen partners. Perhaps the most obvious – Harry Potter, the little wizard who many of us grew up alongside, his school years echoing our own, who is now a worldwide phenomenon, a massive Hollywood franchise and a brand in his own right. For me, however, this success is all attributable to the books. Whilst the films are undoubtedly addictive and highly watchable, they never quite capture the true magic that J K Rowling created in the books. A similar sensation a few years ago was the Da Vinci Code, one of those novels (much like 50 shades today) which was everywhere! Too mainstream and over-hyped to please the critics, the Da Vinci Code was never going to be an award-winner but it was literally un-putdownable and I found myself eagerly anticipating the film but left hugely disappointed. Tom Hanks just didn’t seem to fit the bill and his performance as Robert Langdon felt flat, a character who in the book had much more of an edge and oozed charisma and sex appeal. After reading the book I found myself googling the Holy Grail and Mary Magdalene keen to know more, however the movie lacked depth and seemed to skim over many of the issues and ideas raised by the novel leaving me dissatisfied and wishing I’d never watched it. Another favourite of mine a few years ago was the Other Boleyn Girl, the highly scandalous story of Anne Boleyn and her sister Mary and their relationship with the infamous Henry VIII. A big fan of period dramas and historic novels, I couldn’t wait for the film to be released, but as I think many will agree it was a poor adaptation, departing in many places from the book and failing to capture the charm and shock-factor of the novel despite casting the brilliant Natalie Portman and gorgeous Scarlett Johansson as the female leads.

Continue reading “Can a Film Ever Truly Beat a Good Book?”