Unrequited Case

large (1)

Everything just stopped. I’m nothing to you after all these years. I tried to ignore it. I kept telling myself to hold it but I just can’t. It feels like a suckerpunch every single time, and I never see it coming. Which makes the friendships that do hold out, the ones that make it through countless breakdowns and breakthroughs and changes and years, so damn important. I was the only one who did it. You’re the one who bring it down again and again.

I don’t want to talk about the things that happened, because that’s just that, it already happened. We can’t change it, we can’t fix it, it’s done, and it’s over. We can’t triumph over this. I cannot even begin to fathom how you can possibly justify… anything… that you’re currently doing or saying or thinking. I’m sorry that I can’t do anything right. I’m sorry that everything I touch lately seems to turn to shit. I’m sorry that I keep making these little mistakes that end up being a big deal. But mostly I’m sorry that I just don’t know how to fix this between us.

I’m turning into this hugely emotional mess over these mistakes I didn’t even know I was making and I’m tired. I don’t know how to stop my opposing-midas touch and I’m oh so tired of being this apparent screw up. It’s hard to admit the fact that you are gone and you’re not coming back. You got a new best friend. I’m just another your old friend. Popularity is everything to you. As you know, I’m just your old friend aka ex friend. We had our ups and downs, but this is the worse its ever gotten. Now, I would give everything I have to erase you from my mind, but I cannot. I like to think I’m stronger because of it, but I don’t know if that’s true. If anything, perhaps I’m just more heartless.

It’s been over a month now, and I’m still trying to figure out how I feel about everything. You’re no longer a part of my life, and that fact does indeed break my heart. I wouldn’t ever tell you that though. Not that I even have the option of being able to tell you anything, but even if I did, I would never.

I learned to put a smile on this face, and deal. Yes. Deal. I deal like a pro, I don’t need a stigma on my ass or back or my arms to tell anyone I am still here. I learned the grimace to make everyone think, hey hi. I don’t know what is wrong with me. I’m just so…tired all the time

Right now, I’m living in my darkest fear. My head hurts. I can’t stop the ringin in my ear. It feels like I’m crying blood instead of tears. All I feel is the pain. I’m dead inside. Dear, you there. It’s been a great 3 years, but it’s time to say goodbye. I never thought it would end like this. I think I have grown a bit as a person. I’m ok, I guess. I don’t care about your new friends, or your popularity. You’ll always be my bestfriend even I’m just an ex-friend to you.

Hours with Syndicate

Happy Hours, ROFL. Kamis, 26 Desember, secara tiba-tiba, Dmitri mengatakan di group Line Syndicate (IPA 5 SMAN 1 Batam), kira-kira isinya begini

We hari ini kita nonton Hours di Blitz Kepri Mall jam 13:40. Dateng ya

Unluckily, banyak yang nggak bisa, saat beberapa orang membalas,

Gabisa we maaf

Aku juga gak bisa we maaf

Nggak bisa juga

Gue jadi ragu mau ikut atau engga. Saat akhirnya, sekitar jam 12.30, barulah gue memutuskan untuk ikut nonton, daripada sendirian di rumah. Dengan segera, gue langsung byar byir byur ke kamar mandi, secara dari tadi seharian samasekali belum mandi. Gue jadi mikir, kalau misalnya Syndicate nggak ngajak jalan, mungkin gue nggak bakalan mandi seharian itu.

Tak lama kemudian, Mamah tercinta pulang dan bertanya keheranan,

“Kamu mau ke mana, Kak? Tumben mandi”

“Mau nonton sama anak kelas, Ma”

“Yaudah hati-hati, ya,”

Tak lama kemudian, Kopong pun tiba di depan rumah. She gemme a drive tho xoxo. Akhirnya, kami berdua segera meluncur ke Kepri Mall. Sesampainya di sana, ternyata yang lain sudah pada masuk ke dalam teater. Kemudian kami berdua langsung memesan tiket film Hours untuk row F seat 8 dan 9, sembari membeli popcorn dan coke, as always.

hours-movie-poster

Sesampainya di dalam, Paul Walker sedang kebingungan dengan pemadaman listrik yang menimpa rumah sakit yang merawat bayinya. Agak absurd sebenernya nonton film yang tokoh utamanya baru saja meninggal kemarin, tapi tak apalah. Mas Paulnya masih teteup ganteng kok di filmnya, walau agak creepy dan sedih juga sebenernya karena dia udah nggak ada. Ya sudahlah. Kamipun akhirnya menonton dengan hikmat.

Gue pun bertanya pada Ani di sela-sela film,

“Ni, anak kelas yang lain pada duduk di mana?”

“Nggak ada, Ret. Cuma deretan ini aja,”

“HAH?! Serius?”

“Iya, cuma kita berlapan aja,”

“Jadi cuma delapan orang aja yang ikut? Yang lainnya ke mana?”

“Pada nggak bisa,”

Film Hours ini pemerannya dikit banget, tapi filmnya lumayan dapetlah makna yang ingin disampaikannya. Tak lain, mengenai pengorbanan dan semangat pantang menyerah. Terbukti saat Paul Walker, yang baru saja ditinggal mati istrinya saat melahirkan bayi mereka, tetap bertahan di rumah sakit tanpa listrik selama 48 jam untuk menjaga bayinya yang masih berada dalam inkubator. Saat itu badai Katrina tengah menerjang wilayah Amerika. Hingga di akhir film, tim rescue akhirnya datang menyelamatkan Paul Walker beserta bayinya. Ngga tau deh itu bayi siapa di film Hours, tapi lucu amet. Seriusan.

Tanpa terasa, film berdurasi kurang dari dua jam itu usai. Apapun hasilnya, bagus ataupun buruk, kita akan selamanya selalu mengenang Hours sebagai film terkahir Paul Walker. Seperti yang kita tahu, aktor tampan pemeran polisi rahasia Brian O’connor dalam franchise aksi populer Fast & Furious ini tewas mengenaskan dalam kecelakaan lalu lintas tragis di awal Desember lalu. Sebuah berita sedih nan mengejutkan yang meninggalkan duka mendalam buat semua orang, tetapi ironisnya, secara tidak langsung juga menjadi sebuah marketing bagus buat Hours, sebuah drama thriller kecil berbudget minim yang mungkin berpotensi lebih banyak dilewatkannya jika saja Walker masih hidup.

Jam masih menunjukkan pukul empat kurang saat kami akhirnya keluar dari bioskop. Kami berdelapan, gue, Voni, Riani, Dmitri, Abid, Faizal, Luqman, dan Fauzan kehabisan ide mau ke mana selanjutnya. Hingga akhirnya kamipun sepakat ke Ocarina. Karena bingung mau ngapain, akhirnya kami berdelapan foto-foto sesekali diiringi celetukan Faizal yang selalu bikin kami sakit perut. We all died laughing. It’s fun. Tons of laughing. Love these guys.

Syndicate SMAN 1 Batam

M. Luqman Hidayat

Faizal Ibrahim

Riani Fitrahlia

M. Luqman Hidayat

SMAN 1 Batam

Dmitri Andriani, Riani Fitrhalia

Faizal Ibrahim

Dmitri Andriani, M. Luqman Hidayat, dan Riani Fitrahlia

Reta Riayu Putri, Riani Fitrahlia

Reta Riayu Putri, Riani Fitrahlia

Rama Fitria Revoni, Reta Riayu Putri

Faizal Ibrahim

OMFG Faizal

M. Luqman Hidayat, Riani Fitrahlia

Riani Fitrahlia, M. Luqman Hidayat

Dmitri Andriani

Riani Fitrahlia

Reta Riayu Putri, Dmitri Andriani

Dmitri Andriani, Riani Fitrahlia, M. Luqman Hidayat

Fauzan Permana Noor

Dmitri Andriani

Abid Affandi Wedatama, Reta Riayu Putri

Dmitri Andriani, Faizal Ibrahim

Reta Riayu Putri, Dmitri Andriani, Rama Fitria Revoni, Riani Fitrahlia

Reta Riayu Putri, Dmitri Andriani, Rama Fitria Revoni, Riani Fitrahlia

Faizal Ibrahim

Abid Affandi Wedatama, Reta Riayu Putri, Riani Fitrahlia, Rama Fitria Revoni, Dmitri Andriani, Faizal Ibrahim

Abid Affandi Wedatama, Reta Riayu Putri, Riani Fitrahlia, Rama Fitria Revoni, Dmitri Andriani, Faizal Ibrahim

Abid Affandi Wedatama, Reta Riayu Putri, Riani Fitrahlia, Rama Fitria Revoni, Dmitri Andriani, Faizal Ibrahim

Abid Affandi Wedatama, Reta Riayu Putri, Riani Fitrahlia, Rama Fitria Revoni, Dmitri Andriani, Faizal Ibrahim

IMG_8573

Riani Fitrahlia, Fauzan Permana Noor, Dmitri Andriani

Riani Fitrahlia, Fauzan Permana Noor, Dmitri Andriani

Trip to Sambu

Aloha December! Bonjour. Ok, belated post. Nah! December 1st, 2013 I went to Sambu Island with my bestfriend, Ika. It’s located on the northwestern side of Batam island. We enjoyed every mins of that and got a lot things to do. Ok, my mistake. 1 thing, perhaps, because all we did over there is taking photo. We took photos every sec, alright every min. Silly and kinky rofl I knew. It such a selfie day for us.

Let me tell ya from the beginning. That day…

Ika, temen gue itu sms. Kira-kira isinya gini

‘Ta, belajar biologi bareng yuk’

‘Boleh. Kapan?’

‘Siang ini.’

Ok! Di mana?’

 ‘Pulau Sambu aja. Kita belajar di pantainya’

‘WHATTTT?!! Ayooooooo!’

‘Serius mau? Yaudah nanti aku jemput di rumah jam 2, ya’

‘Ok dahlingggg’

Jam dua pun tiba. Ika menjemputku di rumahku dengan sepeda motornya. Brum brum brum. Kita membelah jalanan kota Batam yang lumayan padat pada siang Minggu itu. Ceritanya, Senin besok, ada ulangan biologi. Jadi, kami berdua mau belajar di pantai, biar konsentrasi gitu ceritanya.

Grengggggg, Ika masih membelah jalanan kota Batam. Ia menyalip siapapun yang ada di depannya. Aku mengeratkan pelukanku. Ngga lucu aja kalau jatoh terus gue ketinggalan di jalan. Ngga lucu aja. Ika, pembalap profesional tingkat RT itu masih terus konsen ke jalan yang ada di depannya. Gue yang dibonceng di belakangnya bernyanyi riang dengan senangnya. Sambu, we are coming!

Sesampainya di pelabuhan Sekupang, Ika memarkirkan motornya. Oom penjaga parkir di situ datang menyapa.

“Mau nyebrang pulau ya, dek?”

“Iya, Om,”

“Hati-hati dek,”

“Kenapa, Om?”

“Mesin boat-nya tenggelam,”

“Hah, serius, Om??”

“Iya, dek,”

“Gimana ini?”

“Duh, kalau mesinnya ngga tenggelam, boat-nya ngga bisa jalan atuh dek. HAHAHAHAHAHHAHAHAHAHAHA”

HA-HA! Lucu, iye lucu. Garing. Masih kagak percaya gue bisa ketipu sama joke garing kayak gitu. Pengin tujes-tujesin oomnya ke lantai. Rggggh! Akhirnya, gue dan Ika membeli 2 tiket dengan tujuan pulau Sambu. Sepanjang perjalanan ke Sambu, gue ga berhenti-berhentinya ngucap dalam hati. Ini boat rada serem terombang-ambing di tengah lautan, miring kanan miring kiri. Tapi, tetep, foto-fotonya ngga ketinggalan. Sesampainya di Sambu pun, kita malah samasekali ngga ada buka buku bio. Malah foto-fotooooo terus sampai unyu.

2013-12-01 14.51.24

Trip to Sambu Island

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Kantor Syahbandar Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Pulau Sambu

Mesjid Al Muhajirin Pertamina Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Pulau Sambu

Trip to Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Trip to Sambu

Pulau Sambu

2013-12-01 15.25.00

Trip to Sambu

Pulau Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Pantai Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

2013-12-01 15.40.20

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

2013-12-01 16.27.03

Tanpa terasa, jam telah menunjukkan pukul 16.50. Kami bergegas balik ke tepian dermaga untuk balik ke Batam. Gue deg-degan abis. Ternyata boat terakhir yang akan membawa kami pulang ke Batam baru saja pergi. Alhasil, kami berdua pun termangu diam.

“Ret, terus gimana nih?”

“Iya. Padahal kita cuma telat beberapa detik aja,”

“Sekarang kita pulang naik apa dong?”

“Berenang aja yuk,”

“Ret, serius!”

“Iya, mau gimana lagi,”

Kekekeke, guess, enggak kok. Gue sama Ika nggabeneran berenang. Gile aja bro. Kagak mungkinlah. Gue belom minat ikut cast Titanic 2 kok, ngapain nekat berenang segala. ROFL OMFGGGG hahaha. Lucky me and Ika, limabelas menit kemudian, datanglah boat yang menepi.

“Om, ke Batam, ya,” (yehhh, lu kate naik keri Batu Aji)

“Cuma dua orang?!”

“Iya,”

“Kalau dua orang, tiketnya mahal dek,”

“Jangan mahal-mahal la, Om. Kami cuma punya sedikit uang,” (pasang muka sedih)

“Yaudah, ngga usah naik kalau gitu,”

“Om, tapi itu mahal banget, Om,”

“Cari orang dulu yang banyak, baru bisa murah,”

Gue bengong. Ini pulau udah sepi, terus disuruh cari orang dulu, yang sama-sama mau ke Batam, karena kalau cuma dua orang oomnya tak mau anterin. Gimana ceritanyaaaaaaaa. Gue bengong, lagi. Di dalam pikiran gue, ya udahlah, nggak papa. Kalau nggak pulang, jadinya nggak ulangan bio (salah fokus). Luckily (unluckily) tak lama kemudian, datanglah empat orang traveler lainnya yang luckily (unluckily) mau pulang ke Batam juga. Oom sampan yang betingkah tadi menepi lagi melihat setidaknya enam orang yang bakal balik ke Batam. Ia pun memasang muka senang.

“Ayo dek, naik,”

“Berapa jadi ongkosnya, Om?”

“Murah aja kok. Gampang itu,”

Gue bengong lagi. Ini oom lupa minum obat ya tadi pagi? Setelah semuanya naik, boat tersebut pun melaju. Baru beberapa detik boat tersebut membelah lautan, guess what, boat-nya mati. Oomnya menepi lagi.

Gue keringat dingin brooo. Gue menatap oomnya tajam. Apa lagi iniiii. Oh. Ternyata oomnya isi minyak dulu brooo. Gue bengong lagi. Pengin tujes-tujesin oomnya. Beberapa menit kemudian, boat-nya pun akhirnya jalan. Oomnya membelah lautan bak Sinbad di lautan sambil menghisap cerutunya. Sedaaah.

2013-12-01 16.51.40

IMG-20131201-00515

Tak lama kemudian, akhirnya kami tiba di Batam dengan selamat. Gue nyengir lebar akhirnya. Jadi, intinya selama di Sambu, kami nggak ada buka buku bio sedikitpun. Setibanya di Batam, gileeeee brooooh. Lapeeer banget, haus juga. Jam telah menunjukkan pukul 17:40 saat perut gue bernyanyi dengan riangnya. Lalu kami kemudian berinisiatif untuk belajar bareng di rumah Raka, yang kebetulan tidak jauh dari Pelabuhan Sekupang.

Lucky me and Ika, setibanya di rumah Raka, kami langsung disuguhi roti goreng, yang digoreng langsung oleh Raka sendiri (good boy). Alit yang kebetulan juga sedang di rumah Raka geleng-geleng kepala melihat kami yang kelaparan dan kehausan balik dari Sambu.

“Kalian berdua nekat banget sih ke Sambu,”

“Iya, nih. Kalau tadi di laut kalian digigit hiu gimana?”

Gue bengong. ROFL. Alit dan Raka masih heran melihat kami berdua. Gue mah teteup ngunyah, secara laper berat brooo. Setelah kenyang, kami berempat akhirnya belajar bio bareng. Tanpa terasa, jam telah menunjukkan pukul 20.00 saat gue, Ika, dan Alit akhirnya pamit pulang. Nah, gitu bro ceritanya xoxo.

Kinky Night

ROFL

Sabtu, 16 November 2013 itu rasanya tidak ada yang berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Aku tengah menghabiskan sore itu dengan melahap novel The Litigators-nya John Grisham saat tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar. Papa ternyata, yang memberitahukan bahwa temanku sudah menunggu di bawah. Akupun mengerutkan kening. Siapa? pikirku dalam hati. Segera aku berlari menuruni dua anak tangga sekaligus dengan cekatan. Setibanya di bawah, aku mendapati Ika berdiri di sana dengan cengirannya yang khas. Ternyata ia ke rumahku untuk kembali membicarakan rencana yang telah kami susun siang tadi. Ah, hampir saja aku lupa.

Sabtu siang tadi, kami telah menyusun rencana ajaib bin kece untuk pergi keluar berdua malam Minggu ini. Akhirnya, kami memutuskan untuk menonton film. Langsung saja aku mengecek jadwal film hari itu. Akhirnya, kami berdua memutuskan untuk menonton film Carrie, horor klasik yang dibintangi Chloë Moretz. Setelah bersiap-siap untuk pergi, terlintas di benakku betapa super-duper garingnya malam Minggu ini jika hanya nonton berdua saja. Kelihatan banget kan jomblonya. Udah jomblo, ngenes lagi. Pengin rasanya aku menjedutkan kepalaku ke dinding untuk mengingatkan betapa ngenesnya nasib si jomblo akut ini. Oke, setelah kelamaan berpikir, tanpa terasa jam telah menunjukkan pukul 19:15. Lima belas menit lagi filmnya akan dimulai dan kami belum bergerak sedikitpun. Jika Vios bisa terbang sekalipun rasanya tak akan sempat untuk mengantarkan kami ke Bisokop XXI di Mega Mall dalam waktu 15 menit.

Aku membenamkan mukaku di tumpukan bantal yang ada di kamarku. Sedangkan Ika berusaha menghubungi siapapun yang bersedia menemani kami berdua nonton di malam Minggu itu. Kami mencoba menghubungi Ivo, tapi saat itu ia sedang tidak bisa keluar karena sedang berusaha mejadi anak yang baik dengan dalih menjaga Mamanya di rumah. Tak putus asa, kami mencoba mengajak Rio, yang langsung menyetujui untuk ikut menonton. Sebelumnya, kami juga menghubungi Luqman, yang juga bersedia untuk ikut menonton dengan kami, para jomblo tersedih di dunia. Rio menjemputku dan Ika di rumahku. Setelahnya, kita langsung bergegas meluncur ke Mega Mall. Di perjalanan, Rio menyanyakan alasan kami mengapa mengajaknya nonton secara tiba-tiba.

“Bosan di rumah”, jawabku dan Ika kompak.

“Memang kenapa? Ada acara?” tanyaku balik.

“Nggak kok. Aku juga bosan di rumah”, jawabnya.

Sepanjang perjalanan, Rio mencoba menyalip siapapun yang ada di depannya. Seriusan, Rio nyetirnya udah mirip kayak di Need For Speed, sampai Ika harus mengingatkan, “Rio, hati-hati. Lo bawa dua cewek cantik nih, bro.” Dengan gaya andalannya, Rio hanya bisa nyengir sambil mingkem, oke, bayangin sendiri aja ya, nyengir sambil mingkem itu gimana.

Escape Plan (film)

Jam telah menunjukkan pukul 19:30 ketika aku, Rio, dan Ika masih berjibaku untuk keluar dari kemacetan yang memenuhi jalan menuju Mega Mall. Aku menatap pasrah jam yang semakin cepat berlalu. 30 menit kemudian, aku, Rio, dan Ika sampai di Mega Mall, dan Rio akhirnya dapat memarkirkan mobilnya setelah keliling mencari lahan parkir yang kosong, mengingat ramainya Mega Mall pada malam itu. Setibanya di dalam bioskop, Luqman, telah menunggu kami di sana. Bisa ditebak, kami terlambat hampir satu jam. Rasanya sia-sia jika memaksakan untuk tetap menonton Carrie. Akhirnya, kami memutuskan untuk menonton film Escape Plan yang jam tayangnya 21:35. Jam masih menunjukkan pukul setengah sembilan yang mana artinya, kami masih harus menunggu satu jam lagi. Akhirnya, kami memutuskan untuk ke toko buku Karisma sekadar melihat-lihat, daripada mati gaya nggak tahu harus ngapain. Tak lama kemudian, Rio berkata jika ia ingin ke Hypermart untuk membeli beberapa camilan. Kemudian, kami bergegas ke Hypermart. Ceritanya, para jomblo akut ini membeli banyak cokelat dan minuman bersoda serta makanan ringan lainnya. Alhasil, camilan kami berempat, aku, Rio, Ika, dan Luqman sepanjang film bukanlah popcorn melainkan cokelat Cadbury, Pocky, Lays, Milo, dan Cocacola zero.

Cocacola zero and Cadbury

Kami mengikuti setiap alur film dengan cermat sambil sesekali tertawa atau sekadar mengomentari suatu hal yang ada di suatu scene. Di tengah-tengah film, mamaku menelepon. Jujur saja, malas sangat rasanya nak jawab telepon di dalam bioskop. Tapi, akhirnya, telepon Mama yang kesekian kali itu kuangkat, namun aku memilih tidak berbicara sepatah katapun hehe. Dalam hati, ini nyokap mau ngomong apa sih? Tak lama, sambungan terputus. Mungkin bukan terputus, tapi diputus kali, ya. Secara, sambungan telepon antar beda operator kan mahal banget. Maaf, Ma. Nggak bermaksud hehe. Tak lama kemudian, sebuah pesan dari Mama masuk ke HP-ku, yang kurang lebih isinya berbunyi:

“Kak, jangan ketiduran, ya.

Nanti ditinggal temannya”

Aku menahan ketawa ketika membaca pesan Mama di tengah-tengah film. Ini emak gue lucu banget ya. Kirain nelepon tadi mau bilang apa, ternyata oh ternyata. Tapi, nggak heran juga sih, mengingat sebelumnya, ketika menonton film midnight tepat jam 12 malam di bioskop, aku hanya menonton sekitar 10 menit di awal, karena sisanya aku hanya tidur. Parah banget kan, ya. Jadi mengingat hal itu, rasanya wajar jika Mama mengingatkan seperti itu.

Tanpa terasa film pun usai. Sylvester Stallone menunjukkan kemampuan aktingnya secara total di film Escape Plan yang kami tonton. Jam telah menunjukkan pukul setengah dua belas malam ketika kami keluar dari bioskop. Perutku berbunyi nyaring bagaikan terompet marcing band di Istana Negara. Lapar tengah malam menyergapku. Seriusan, ini perut nggak bisa diajak kompromi banget dah. Cadbury yang sepanjang film tadi kumakan rasanya tak cukup untuk mengganjal perutku. Luqman kemudian bertanya mengenai destinasi selanjutnya.

“Mau ke mana lagi nih?” tanya Luqman.

“Terserah” jawab Rio.

“Jam berapa sih memang?” tanya Ika.

“Jam setengah dua belas” jawabku.

“McD’s aja yuk”, usulku berikutnya.

“Lapar”, aku menambahkan dengan menunjukkan puppy’s eyes terbaikku.

Akhirnya Rio, Ika dan Luqman langsung menyetujui usulku. Kami berempat kemudian bergegas ke McD’s menggunakan mobil Luqman, sementara mobil Rio tetap ditinggal di parkiran atas Mega Mall. Tak butuh waktu lama untuk menembus jalanan yang dapat dikatakan lengang di dini hari itu. Tak lama kemudian, tibalah kami di McD’s. Namun, karena penuhnya parkiran, lagi dan lagi, akhirnya kami terpaksa memarkirkan mobil di seberang  jalan yang cukup jauh dari McD’s. Hal itu sayangnya tak menyurutkan semangat kami, khususnya aku untuk menyerbu McD’s.

Rio dan Luqman memesan Happy Meal burger dan french fries, sementara aku dan Ika memilih memesan porsi besar Panas Spesial. Rio menatapku heran ketika melihat pesananku sembari menanyakan pertanyaan terjujur yang pernah kudengar,

“Nggak takut gendut, Ret?” tanyanya polos. Aku kemudian memerhatikan makanan yang kupesan. Lalu aku bertanya balik,

“Memang aku gendut, ya?” tanyaku balik.

“Enggak kok, kurus”, jawabnya yang membuat hati ini seketika menjadi tenang. Lu kate bro.

Tapi, memang namanya lapar mata, alhasil, aku tidak dapat menghabiskan makananku yang masih banyak. Rio menatapku kasihan.

“Kubantu ya”, ujar Rio.

McDonald's

Saking kompaknya, Ika pun juga tidak dapat menghabiskan makanannya. Kami berdua seketika menjadi kenyang. Jadilah, Rio dan Luqman membantu aku dan Ika menghabiskan Panas Spesial yang tidak sanggup kami habiskan itu. Aku memerhatikan bule paruh baya di sampingku yang tengah menggigit burger-nya dengan lahap sementara menunggu Rio menghabiskan Panas Spesialku. Oke, ini agak ajaib bin ngakak. Ini double date tergagal yang pernah ada kan, ya. Ketika empat jombo berkumpul menghabiskan Sabtu malam dengan menonton film yang dilanjutkan dengan sarapan dini hari di McD’s. Duh, udah jomblo, ngenes lagi (jedutin kepala ke dinding). Jam tanpa terasa telah menunjukkan pukul satu pagi, ketika kami masih duduk di McD’s bercerita tentang apa saja. Dasar bocah random. Hingga akhirnya, aku berdiri dan memutuskan untuk memesan McFlurry. Rio, lagi-lagi menatapku heran sembari bertanya untuk kesekian kalinya,

“Nggak takut gendut, Ret?” Ih, nih akan pengin aku tujes-tujesin ke lantai. Pertanyaannya itu loooh, minta dikekep banget kan. Seketika aku mengurungkan niatku. Lalu ia kemudian memberikan cengiran terbaiknya dengan memamerkan deretan giginya,

“Nggak kok nggak gendut. Beli aja gih sana”, ujarnya polos. Seketika aku kembali berdiri dan tanpa ragu lagi membeli McFlurry. Sekitar pukul jam setengah dua pagi, akhirnya kami memutuskan untuk kembali lagi ke Mega Mall, mengambil mobil Rio yang masih terparkir di atas sana.

Di perjalanan, Rio menatapku yang masih melahap McFlurry dengan pandangan takjub.

“Kenapa?” tanyaku yang mulai jengah dilihatin begitu.

“Mau?” tawarku.

“Enggak. Udah kenyang”, jawabnya sambil memamerkan deretan giginya dan menatapku maklum. Akhirnya, kami harus berpisah setelah itu dengan Luqman sementara Rio mengantarkan aku dan Ika pulang, di mana Ika akhirnya memutuskan untuk setuju menginap di rumahku. Jadi, itulah akhir kisah jomblo ngenes yang menghabiskan malam Sabtunya hingga Minggu dini hari. Asli jomblo kok. Sedikit ngenes, tapi keren kan, ya.

Syndicate on Vacation

Sabtu, 6 Juli 2013

Hurray—Syndicate on vacation. Sabtu, 5 Juli 2013 lalu akhirnya Syndicate (IPA 5) SMAN 1 Batam merayakan kenaikan kelas atau pergantian title kelas dari kelas XI-IPA 5 menjadi XII-IPA 5 yehaha. Setelah melalui diskusi panjang dari hari ke hari—ceritanye, akhirnya kami pun memutuskan untuk menghabiskan Sabtu-Minggu yang magnificent itu di tempat yang cozy, yaitu The Acacia Hotel, Sekupang, Batam—nyang kagak jauh dari sekolah ntu wahaha. Thanks for those amazing 2 days, guys. I love you.

The Acacia Hotel

The Acacia Hotel Batam

The Acacia Hotel Batam

The Acacia Hotel Batam

The Acacia Hotel Batam

The Acacia Hotel Batam

The Acacia Hotel Batam

Jam menunjukkan pukul dua siang saat anak Sydnicate yang lain belum pada datang. Alhasil, baru hanya ada kita berlima, Gilang, Haiqal, Ika, Mila, dan gue tentunya. Selama menunggu yang lain, kita langsung curi-curi waktu untuk foto, ceritanya, photo shoot dulu gitu. Iya, gitu.

Reta Riayu Putri, Gilang Delana Putri, Ika Putri Syawaliani, Millla Baarik Iman Sari - SMAN 1 BATAM

First photo shoot

Haiqal Muhammad, Reta Riayu Putri, Ika Putri Syawaliani

with Ika & Haiqal

Ika Putri Syawaliani

Ika Putri Syawaliani, Mila Baarik Iman Sari

Gilang Delana Putri

Ika Putri Syawaliani, Reta Riayu Putri, Mila Baarik Iman Sari, Gilang Delana Putri

Gilang Delana Putri, Haiqal Muhammad

Happy family

Tak lama kemudian, sekitar setengah jam-an, baru deh rombongan yang lain pada muncul. Diiringi dengan adegan rebutan kamar, dan lain-lainnya, akhirnya para Syndicate, meletakkan tasnya asal. Ceritanya, kami, yang cewe, ingin menempati kamar yang diklaim para cowo sebagai miliknya duluan. Kita yang cewe rada jealous, sama kamar cowo yang terdiri dari king bed and still have no idea why, kayaknya kamar cowo itu lebih adem, lega, besar. Padahal sekilas, hampir sama dan setipe dengan kamar yang ditempati para cewe. Weird, kan. Tapi, beginilah kami, rofl. Selanjutnya, sembari menunggu swimming part jam 4 sore, kami menghabiskan waktu dengan pelbagai kegiatan, di antaranya, main kartu, nonton film, dan lempar-lemparan kulit kacang (yang terkahir ini beneran awkward, kan ya). Akhirnya, sekitar jam empat lewat, barulah para Syndicate turun ke swimming pool, buat berenang. So, here we go!

Hania Rizkieta Hazah, Chantika Karina

Hania Rizkieta Hazah, Chantika Karina, Rakadrian Nugraha

Rio Rinaldi, Abid Affandi Wedatama

Chantika Karina, Rama Fitria Revoni

Hania Rizkieta Hazah, Chantika Karina, Rama Fitria Revoni

Mila Baarik Iman Sari, Hania Rizkieta Hazah, Chantika Karina, Rama Fitria Revoni

Mila Baarik Iman Sari, Aulia Riski Molanda

Mila Baarik Iman Sari

Mila Baarik Iman Sari, Chantika Karina, Hania Rizkieta Hazah, Aulia Riski Molanda, Rama Fitria Revoni

Aulia Riski Molanda, Chantika Karina, Rama Fitria Revoni, Mila Baarik Iman Sari

Rofl

Mila Baarik Iman Sari, Aulia Riski Molanda, Chantika Karina, Rama Fitria Revoni, Hania Rizkieta Hazah

Jeremy Woosnam Prasetyo

Lonely boy

Gilang Delana Putri

Swimming

Part 1

IMG_9783

IMG_9785

IMG_9789

IMG_9794

Alit Dian Saepudin, Rakadrian Nugraha

Alit Dian Saepudin, Rakadrian Nugraha

I’m sexy and I know it

Rakadrian Nugraha

WHAT?!

Pieter Mario, Alit Dian Saepudin, Rakadrian Nugraha

IMG_9812

IMG_9818

Rakadrian Nugraha

Calvin Klein wannabe

Abid Affadi Wedatama

IMG_9838  IMG_9839

IMG_9840  IMG_9842

IMG_9843  IMG_9845

IMG_9846

Pieter Mario   Fauzan Permana Noor

Fauzan Permana Noor

Ivo Mario Purba

Running Man

Haiqal Muhammad

Yeah, man!

Abid Affandi Wedatama

Haiqal Muhammad   Rakadrian Nugraha

Ika Putri Syawaliani

Chantika Karina, Fauzan Permana Noor

Chantika Karina, Fauzan Permana Noor

Abid Affandi Wedatama

Haiqal Muhammad, Fauzan Permana Noor

Alit Dian Saepudin, Chantika Kariana, Haiqal Muhammad, Fauzan Permana Noor, Pieter Mario, Abid Affandi Wedatama

Chantika Karina

Dududufufu

IMG_9950

IMG_9951

Alit Dian Saepudin, Fauzan Permana Noor, Rakadrian Nugraha, Pieter Mario, Rio Rinaldi, Abid Affandi Wedatama, Haiqal Muhammad

IMG_9956

IMG_9957

M. Luqman Hidayat, Faizal Ibrahim, Rakadrian Nugraha

Marimar (telenovela) photo shoot

Ivo Mario Purba

Rakadrian Nugraha

Fauzan Permana Noor

IMG_9960

IMG_9963

IMG_9975

IMG_9977

IMG_9978

After

Rio Rinaldi

M. Luqman Hidayat

Baby photo shoot

Ivo Mario Purba

Hania Rizkieta Hazah, Ika Putri Syawaliani, Reta Riayu Putri

with Ika & Hania

Hania Rizkieta Hazah, Ika Putri Syawaliani, Reta Riayu Putri

Hania Rizkieta Hazah, Reta Riayu Putri, Ika Putri Syawaliani

Hania Rizkieta Hazah, Reta Riayu Putri, Ika Putri Syawaliani

Ika Putri Syawaliani, Reta Riayu Putri, M. Luqman Hidayat

with Ika & Luqman

BBQ PARTY

Malamnya, yang juga bertepatan dengan malam Minggu, kita memilih barbeque-an dengan bahan yang sudah disediakan. Jarang-jarang nih, bisa malam Minggu-an tanpa membedakan sekat-sekat jomblo dan yang tidak, lol. Bahan-bahan yang kita bakar sih masih yang normal-normal kok. Mulai dari ayam, sotong, hingga sosis. Setidaknya, kami belum berniat membakar yang lain, rumah, perhaps. Setelah barbeque-an, sekitar jam sebelas, kita naik ke kamar, tapi bukan ke kamar masing-masing, secara saat itu yang sedang dijadikan markas besarnya adalah main room-nya cewe. Mulai dari jam sebelesan hingga duabelas, kita sibuk cerita horror dengan lampu kamar yang dimatikan. Sebagian dari kita bercerita secara bergantian tentang kejadian horror, yang pernah mereka alami, which is, belum tentu 100 % kebenarannya menurut gue. Muka gue sih beneran flat abis. Well, rada takut dikit sih, ya. But, believe it or not, dalam hati gue masih sempat nge-request, kalaupun ntar ada hantu yang muncul di itu kamar, gue berharap itu hantunya Michael Jackson. Biar kece aja gitu ceritanya, lol. So, sekitar satu jam kemudian, kita akhirnya ganti topik. Kali ini lampu kamarnya telah dinyalakan. Ceritanya berganti menjadi topik seputar kelas. Sharing anything, selama satu tahun belakangan ini, hal-hal yang terjadi di kelas, dan semua-semuanya. Jadi gitu dah kira-kira. Selesainya sekitar jam dua-an. Nah, jam dua itupun, sebagian anak cowo masih tetep di kamar cewe, belum mau bergerak ke kamarnya. Setelah dipaksa, barulah akhirnya mereka kembali ke kamarnya masing-masing dengan membawa hasil jajahan berupa snack dari kamar cewe. Akhirnya, kami yang cewe, yang terdiri dari 8 kalau ngga salah, tidur dalam satu kamar yang tadi dijadikan markas oleh Syndicate untuk sharing  satu sama lain. We had a great night, ya know. Saat sebagian mulai terlelap, gue sama Hania dan Chika, masih belum bisa tidur. Alhasil, kita memutuskan untuk nonton film Mr. & Mrs. Smith yang dibintangi oleh Brad Pitt dan Angelina Jolie. Gue ngga tau lagi gimana kelanjutannya, karena kayaknya gue udah tepar ngga sadarkan diri sebelum filmnya habis, rofl!

Rakadrian Nugraha, Abid Affandi Wedatama

Haiqal Muhammad

Fauzan Permana Noor, M. Luqman Hidayat

IMG_0098

IMG_0101

IMG_0103

Ika Putri Syawaliani   Ika Putri Syawaliani

Alit Dian Saepudin, Reta Riayu Putri

with Alit

Fauzan Permana Noor, Jeremy Woosnam Prasetyo

Rakadrian Nugraha

Gilang Delana Putri, Rakadrian Nugraha

IMG_0128

IMG_0130

IMG_0131

IMG_0133

IMG_0136

Rio Rinaldi

M. Luqman Hidayat

Haiqal Muhammad, M. Luqman Hidayat

Ika Putri Syawaliani

IMG_0146

Fauzan Permana Noor

Fauzan Permana Noor

Rock, man!

IMG_0158

Pieter Mario

Fiha Ruzieqna

Rio Rinaldi

Haiqal Muhammad, Abid Affandi Wedatama

Gilang Delana Putri

Reta Riayu Putri, Gilang Delana Putri

Faizal Ibrahim, M. Luqman Hidayat, Hania Rizkieta Hazah

Reta Riayu Putri, Fiha Ruzieqna

with Fiha

IMG_0178

Hot-chicks

Hot-chicks

Ika Putri Syawaliani, Mila Baarik Iman Sari, Haiqal Muhammad

M. Luqman Hidayat, Hania Rizkieta Hazah

Fauzan Permana Noor

Swimming

Part 2

Minggu, 7 Juli 2013

Nah, ini dia. Keesokan paginya lagi, setelah bangun tidur, kita mulai berenang lagi. Sebenernya, kemarin malam kita juga udah berencana berenang lagi (kita di sini maksudnya, gue, Fiha, Ivo, Rio, etc) tengah malam kemarin. Tapi karena ngga memungkinkan, pupuslah rencana itu. Rada creepy juga kalau harus berenang di tengah malam gitu. Awalnya sih, tingkat keberanian gue ngalah-ngalahin James Bond yang ngejar musuhnya, Silva di tengah keramaian kota London, tapi setelah mendengar cerita horror lainnya dari Pieter, wah nyali gue jadinya entah menguap ke mana. Akhirnya, pagi keesokannya, kita bangun jam 6, lebih pagi dari anak cowo yang masih pada tidur. Alhasil, pagi-pagi itu, gue, Ika, Fiha, dan Gilang memutuskan berenang lagi. Tak lama, saat jam breakfast, rata-rata semuanya telah bangun, saat mamanya Raka, sangat berbaik hati membawakan kami sarapan. Dari hotelnya dapat sih, tapi ngga sreg aja rasanya. Jadilah kami menyantap sarapan yang dibawakan mamanya Raka dengan lahapnya. Ini beneran dari dalam lubuk hati Syndicate ingin mengucapkan, “Makasih banyak, taaaaan!” (senyum-lebar). Usai sarapan, anggota Syndicate lainnya, juga ikutan berenang. Tanpa terasa, kita berenang hingga pukul 11 siang, di mana, tak lama kemudian, kita udah harus check-out dari hotelnya sekitar pukul 12. Rada sedih sih.  Mereka bilang, ntar pas kelas tiga, kita harus nginap 3 hari 2 malam, ada juga yang bilang, ntar kita kelas tiga, ke Bali, dan yang lain berharap dalam hati semoga liburan kelas tiga nanti lebih seru dari sebelumnya. Semoga kesampaian ya guys. Thanks for those amazing 2 days. Love you so much!

IMG_0307

IMG_0308

M. Luqman Hidayat

Alit Dian Saepudin

IMG_0314

Gilang Delana Putri, Fiha Ruzieqna

Haiqal Muhammad

IMG_0320

Reta Riayu Putri, Hania Rizkieta Hazah

IMG_0329

Reta Riayu Putri, Hania Rizkieta Hazah, Ika Putri Syawaliani

IMG_0334

IMG_0336

Reta Riayu Putri, Gilang Delana Putri

IMG_0346

Rakadrian Nugraha

Rakadrian Nugraha, Haiqal Muhammad

Haiqal Muhammad

Alit Dian Saepudin, M. Luqman Hidayat

Alit Dian Saepudin, M. Luqman Hidayat

IMG_0402

Haiqal Muhammad, Chantika Karina, Fiha Ruzieqna

Haiqal Muhammad, Chantika Karina, Fiha Ruzieqna

IMG_0408

Haiqal Muhammad, Chantika Karina

Bento Syndicate (XI-IPA 5) SMAN 1 BATAM

Selasa, 14 Mei 2013

Syndicate atau kelas XI-IPA 5 SMAN 1 BATAM membawa bento secara bersama-sama dalam pelajaran Bahasa Jepang bersama Sensei Mira Dwi Novrianty, S.Pd. Bento sendiri adalah lunch box yang dihias dengan menarik dalam budaya Jepang. Khasnya, bento atau lunch box itu dihiasi oleh nori (rumput laut kering) yang berwarna hijau kehitam-hitaman.

box

My fucking angry bird oops

Bento

Chantika Karina’s

Bento

Dmitri Andriani’s

Bento

Dwi Putri Julianti’s

Bento

Gilang DelanaPutri’s

Bento

Mila Baarik Iman Sari’s

Bento

Riani Fitrahlia’s

Bento

M. Luqman Hidayat’s

Bento

Haiqal Muhammad’s

Bento

Abid Affandi’s

Bento

Rakadrian Nugraha’s

Bento

Fulristami Zaenab’s

Bento

Hania Rizkieta Hazah’s

Bento

Ika Putri Syawaliani’s

Bento

Rama Fitria Revoni’s

Bento

Andika Dwi Rianita’s

Bento

Dicky’s

Bento

Rofidah Umniyati Hs’

Bento

Peyaaas’

Bento

Prama Ikhsan Anggara’s

Bento

Aulia Riski Molanda’s

Bento

Suci Womantri’s

Bento

Dela Rizkyani’s

Bento

Fiha Ruzieqna’s

Bento

Tresnawati Dyah’s

Bento

Ocatavian Sahat’s

Bento

Fauzan Permana Noor’s

Bento

Rio Rinaldi’s

 

Bento

Faizal Ibrahim’s

 

Bento

Alit Dian Saepudin’s

 

Bento

Devita Rosalina’s

 

Bento

Pieter Mario’s

 

Bento

Edi’s

 

Bento

Ivo Mario’s