Desttencle

Tau nggak sih, ini post sok tegar gimana gitu. Buat gue pengin gigit aspal. Anw, gue nulis post ini di sela-sela waktu libur setelah kelulusan. Sediiiiih banget rasanya. Di saat gue bolak-balik ibadah ke mall, nonton film, beli buku, dan lain-lain, selalu ada waktu di malam hari di mana gue tiba-tiba nge-scroll galeri foto di HP dan flashback ke masa-masa sekolah dulu (yeeeah, kayak udah lama aja lulusnya, barusan aja padahal). Okay, it’s exaggerated. Tapi gue ga boong sumpah. Sedih banget rasanya, nggak ke sekolah lagi tiap pagi, ngga buat PR lagi, anw gue kangen loh buat pr fisika di sekolah tiap pagi. Kangen kebersamaannya maksudnya haha, walaupun itu tetap ngga boleh dicontoh heheh. Jadi, ini postingan buat mengenang masa-masa SMA gue yang asdfghjkl unyuh berat itu yeeeah. Udah kayak anak alay belom gua?

23

History

Desttencle itu nama dari kelas X-D (Sepuluh-D) tahun 2011/2012 SMAN 1 Batam. Nama yang unik, bukan? Gue berani jamin di dunia, cuma ada satu kata Desttencle, yaitu kelas ini. Desttencle merupakan singkatan dari Delta Best Ten Class Ever. Ini kelas yang paling berkesan menurut gue. Kekompakan kami teruji ketika awal masuk sekolah, saat masa MOS (Masa Orientasi Siswa). Hari-hari awal masuk SMA gue diawali di kelas ini. Mulai dari perkenalan satu sama lain, pas kita masih polos banget, polos unyu-unyu gitu dah haha nggala. MOS-nya berjalan lancar, biasa, mulai dari minta tandatangan kakak OSIS, bawa bekal berdasarkan kode, dan sebagainya. It was fun. Sampai suatu saat…

Jadi, di akhir minggu pertama, tepatnya di hari Sabtu, masing-masing kelas sepuluh diminta untuk menampilkan semacam pentas seni kecil, dengan maksud untuk saling mengenal antarkelas. Bisa apa aja, mulai dari nyanyi, dance, dll. Desttencle udah pada siap-siap nih, kita udah latihan dari hari sebelumnya, udah PD banget nget nget mau tampil, dan di atas panggung, rekaman kaset background pengiringnya macet. Panik. Itu satu kata yang muncul. Paniiik banget seriusan. Akhirnya secara spontan, Gilbert sama Risyad mimpin di depan dan kita nyanyi bareng-bareng diiringi gitar. Spontan lho, HAHAHA. Respect ga tuh wkwk. Ga jelek-jelek banget loh, kami PD banget malah nyanyinya, berasa kayak padus di Istana Negara.

School Days

60

Seperti anak normal tapi gila lainnya, keseharian kami dipenuhi dengan berbagai kegilaan. Ini gue kangen banget hari-hari itu. Tugas, anak-anak Desttencle, gue kangen semuanya tentang Desttencle. Kangen ngegosip, kangen bolosnya, kangen candaannya, kangen guru-gurunya, kangen tugas-tugasnya, kangen semuanya. Juga, kami beruntung banget dapat walikelas Mr. Africeli atau biasa disapa Sir. Celi. Pals, Sir. Celi ini orangnya dispilin banget, which is good. Kalau setiap ibadah pagi, terlambat 1 detik aja, lo bakal ngga boleh masuk. Disiplin itu bagus kan, dan gue termasuk orang yang menjunjung tinggi kedispilinan hihiy. Tapi, tetap, gue pernah terlambat ibadah pagi sebelum pelajaran. Ivo is the only one to blame. Gue satu jemputan sama tuh anak, dan dia ngaret jadinya, gue sama dia sampai di sekolah sekitar jam 7:05. Gue masih inget banget itu hari Selasa, dan gue kebagian jadwal piket hari Selasa. Tau ga sih, David, Desi Napouling, Ivo, yang juga piket hari Selasa pada datang telat semuanya hari itu. Alhasil, kelas kotor banget nget nget nget. Lengkap kagak sih, udah terlambat ibadah, ngga piket pula. Hiwww. Abis bro abis. Sir Celi keluar and started his speech from a to z. Gue pengin banget nginjak kaki Ivo saat itu juga. Kalau ngga gara-gara dia, pasti kagak bakal begini jadinya. Alhasil, akhirnya kami disuruh lari keliling lapangan cewek 3 kali putaran dan cowok 5 kali putaran. Gue keringetan kan, tapi Sir Celi kira gue nangis. Gue jadi pengin ketawa pas itu. Gue inget banget kata-kata Sir Celi hari itu. “If you didn’t want to clean the classroom up, BRING YOUR HOUSEKEEPER HERE,” Ngakak. Akhirnya, sampai sekarang, kalau ketemu gue, Sir Celi pasti bilang, “jangan nangis, Reta,” dan gue cuma bisa meringis wkwkw. Masih inget aja Sir Celi.Masih banyak lagi yang lain, tapi gue rasa kagak cukup nih halaman buat nulis semuanya. Here ‘some’ silly photos of us. Flashback, flashback. Kangen banget gue sama kelas ini. Desttencle :’)

40

39

46

48

1

2

4   7

8

10

11

12

13

14

17

18

19

21

22

24

25

26

27

31

34

36

41

30

43

44

45

37

29

33

42

32

50

51

52

53

54

55

56

57

62

63

65

66

47

“Today everything exists to end in a photograph” -SS

Ti amo, Desttencle. Always and forever.

Girls’ Day

Friday will always be my favorite day. I could smell the weekend coming. It smells good! And that day, we didn’t have class and got nothing to do but taking photos. Such a great day. Sorry, boys, girls could be crazy tho. So boo-yah! Cut!

1

2

3

4

5

6

7

8

12

13

14

15

24

25

26

27

28

29

30

Random Thoughts

I’d like to write. God! I mean it. It’s because I didn’t write for a long long time, I forgot how to write. And now, I just want to scream like a rocker, I really forgot the way to write. I mean, okay, it’s exaggerated but I really forgot how to write in my way. It’s strange, like a stranger forgot the way to home, huh. It’s like, I have thousand stories I’d like to tell, but I just don’t know where to start. Okay. I’m messed up. No, you don’t need to worry about me. I’m okay. My friends said I just need to take a deep breath -a nice way of saying that I have to go to somewhere to make my mind clear. I went to mall, buying some books, watching some movies at cinema, eating, sleeping, eating, and eating. Hell ya, too much eating. Fyi, I have read The Cuckoo’s Calling, a novel by Robert Galbraith aka J.K. Rowling. WHAT A GREAT CRIME FICTION NOVEL. I might write a review later. And, what’s next, ah ya, I just graduated from high school, of course and freaking excited to go to college. Again, I might write EVERYTHING before and after graduation. It’s like, for now, I just need to find my way to write. Gosh, I really forgot. This is surreal but it’s happening tho. Okay, actually, I really want to write a novel nor short story again but just don’t know what and where to start. I might post some photos, and another list to do. God! I got so much to do. I really need to go to find some inspiration before doing that. Well, I really messed up, think I need CocaCola. So, bye! Xoxo:)

Unrequited Case

large (1)

Everything just stopped. I’m nothing to you after all these years. I tried to ignore it. I kept telling myself to hold it but I just can’t. It feels like a suckerpunch every single time, and I never see it coming. Which makes the friendships that do hold out, the ones that make it through countless breakdowns and breakthroughs and changes and years, so damn important. I was the only one who did it. You’re the one who bring it down again and again.

I don’t want to talk about the things that happened, because that’s just that, it already happened. We can’t change it, we can’t fix it, it’s done, and it’s over. We can’t triumph over this. I cannot even begin to fathom how you can possibly justify… anything… that you’re currently doing or saying or thinking. I’m sorry that I can’t do anything right. I’m sorry that everything I touch lately seems to turn to shit. I’m sorry that I keep making these little mistakes that end up being a big deal. But mostly I’m sorry that I just don’t know how to fix this between us.

I’m turning into this hugely emotional mess over these mistakes I didn’t even know I was making and I’m tired. I don’t know how to stop my opposing-midas touch and I’m oh so tired of being this apparent screw up. It’s hard to admit the fact that you are gone and you’re not coming back. You got a new best friend. I’m just another your old friend. Popularity is everything to you. As you know, I’m just your old friend aka ex friend. We had our ups and downs, but this is the worse its ever gotten. Now, I would give everything I have to erase you from my mind, but I cannot. I like to think I’m stronger because of it, but I don’t know if that’s true. If anything, perhaps I’m just more heartless.

It’s been over a month now, and I’m still trying to figure out how I feel about everything. You’re no longer a part of my life, and that fact does indeed break my heart. I wouldn’t ever tell you that though. Not that I even have the option of being able to tell you anything, but even if I did, I would never.

I learned to put a smile on this face, and deal. Yes. Deal. I deal like a pro, I don’t need a stigma on my ass or back or my arms to tell anyone I am still here. I learned the grimace to make everyone think, hey hi. I don’t know what is wrong with me. I’m just so…tired all the time

Right now, I’m living in my darkest fear. My head hurts. I can’t stop the ringin in my ear. It feels like I’m crying blood instead of tears. All I feel is the pain. I’m dead inside. Dear, you there. It’s been a great 3 years, but it’s time to say goodbye. I never thought it would end like this. I think I have grown a bit as a person. I’m ok, I guess. I don’t care about your new friends, or your popularity. You’ll always be my bestfriend even I’m just an ex-friend to you.

Hours with Syndicate

Happy Hours, ROFL. Kamis, 26 Desember, secara tiba-tiba, Dmitri mengatakan di group Line Syndicate (IPA 5 SMAN 1 Batam), kira-kira isinya begini

We hari ini kita nonton Hours di Blitz Kepri Mall jam 13:40. Dateng ya

Unluckily, banyak yang nggak bisa, saat beberapa orang membalas,

Gabisa we maaf

Aku juga gak bisa we maaf

Nggak bisa juga

Gue jadi ragu mau ikut atau engga. Saat akhirnya, sekitar jam 12.30, barulah gue memutuskan untuk ikut nonton, daripada sendirian di rumah. Dengan segera, gue langsung byar byir byur ke kamar mandi, secara dari tadi seharian samasekali belum mandi. Gue jadi mikir, kalau misalnya Syndicate nggak ngajak jalan, mungkin gue nggak bakalan mandi seharian itu.

Tak lama kemudian, Mamah tercinta pulang dan bertanya keheranan,

“Kamu mau ke mana, Kak? Tumben mandi”

“Mau nonton sama anak kelas, Ma”

“Yaudah hati-hati, ya,”

Tak lama kemudian, Kopong pun tiba di depan rumah. She gemme a drive tho xoxo. Akhirnya, kami berdua segera meluncur ke Kepri Mall. Sesampainya di sana, ternyata yang lain sudah pada masuk ke dalam teater. Kemudian kami berdua langsung memesan tiket film Hours untuk row F seat 8 dan 9, sembari membeli popcorn dan coke, as always.

hours-movie-poster

Sesampainya di dalam, Paul Walker sedang kebingungan dengan pemadaman listrik yang menimpa rumah sakit yang merawat bayinya. Agak absurd sebenernya nonton film yang tokoh utamanya baru saja meninggal kemarin, tapi tak apalah. Mas Paulnya masih teteup ganteng kok di filmnya, walau agak creepy dan sedih juga sebenernya karena dia udah nggak ada. Ya sudahlah. Kamipun akhirnya menonton dengan hikmat.

Gue pun bertanya pada Ani di sela-sela film,

“Ni, anak kelas yang lain pada duduk di mana?”

“Nggak ada, Ret. Cuma deretan ini aja,”

“HAH?! Serius?”

“Iya, cuma kita berlapan aja,”

“Jadi cuma delapan orang aja yang ikut? Yang lainnya ke mana?”

“Pada nggak bisa,”

Film Hours ini pemerannya dikit banget, tapi filmnya lumayan dapetlah makna yang ingin disampaikannya. Tak lain, mengenai pengorbanan dan semangat pantang menyerah. Terbukti saat Paul Walker, yang baru saja ditinggal mati istrinya saat melahirkan bayi mereka, tetap bertahan di rumah sakit tanpa listrik selama 48 jam untuk menjaga bayinya yang masih berada dalam inkubator. Saat itu badai Katrina tengah menerjang wilayah Amerika. Hingga di akhir film, tim rescue akhirnya datang menyelamatkan Paul Walker beserta bayinya. Ngga tau deh itu bayi siapa di film Hours, tapi lucu amet. Seriusan.

Tanpa terasa, film berdurasi kurang dari dua jam itu usai. Apapun hasilnya, bagus ataupun buruk, kita akan selamanya selalu mengenang Hours sebagai film terkahir Paul Walker. Seperti yang kita tahu, aktor tampan pemeran polisi rahasia Brian O’connor dalam franchise aksi populer Fast & Furious ini tewas mengenaskan dalam kecelakaan lalu lintas tragis di awal Desember lalu. Sebuah berita sedih nan mengejutkan yang meninggalkan duka mendalam buat semua orang, tetapi ironisnya, secara tidak langsung juga menjadi sebuah marketing bagus buat Hours, sebuah drama thriller kecil berbudget minim yang mungkin berpotensi lebih banyak dilewatkannya jika saja Walker masih hidup.

Jam masih menunjukkan pukul empat kurang saat kami akhirnya keluar dari bioskop. Kami berdelapan, gue, Voni, Riani, Dmitri, Abid, Faizal, Luqman, dan Fauzan kehabisan ide mau ke mana selanjutnya. Hingga akhirnya kamipun sepakat ke Ocarina. Karena bingung mau ngapain, akhirnya kami berdelapan foto-foto sesekali diiringi celetukan Faizal yang selalu bikin kami sakit perut. We all died laughing. It’s fun. Tons of laughing. Love these guys.

Syndicate SMAN 1 Batam

M. Luqman Hidayat

Faizal Ibrahim

Riani Fitrahlia

M. Luqman Hidayat

SMAN 1 Batam

Dmitri Andriani, Riani Fitrhalia

Faizal Ibrahim

Dmitri Andriani, M. Luqman Hidayat, dan Riani Fitrahlia

Reta Riayu Putri, Riani Fitrahlia

Reta Riayu Putri, Riani Fitrahlia

Rama Fitria Revoni, Reta Riayu Putri

Faizal Ibrahim

OMFG Faizal

M. Luqman Hidayat, Riani Fitrahlia

Riani Fitrahlia, M. Luqman Hidayat

Dmitri Andriani

Riani Fitrahlia

Reta Riayu Putri, Dmitri Andriani

Dmitri Andriani, Riani Fitrahlia, M. Luqman Hidayat

Fauzan Permana Noor

Dmitri Andriani

Abid Affandi Wedatama, Reta Riayu Putri

Dmitri Andriani, Faizal Ibrahim

Reta Riayu Putri, Dmitri Andriani, Rama Fitria Revoni, Riani Fitrahlia

Reta Riayu Putri, Dmitri Andriani, Rama Fitria Revoni, Riani Fitrahlia

Faizal Ibrahim

Abid Affandi Wedatama, Reta Riayu Putri, Riani Fitrahlia, Rama Fitria Revoni, Dmitri Andriani, Faizal Ibrahim

Abid Affandi Wedatama, Reta Riayu Putri, Riani Fitrahlia, Rama Fitria Revoni, Dmitri Andriani, Faizal Ibrahim

Abid Affandi Wedatama, Reta Riayu Putri, Riani Fitrahlia, Rama Fitria Revoni, Dmitri Andriani, Faizal Ibrahim

Abid Affandi Wedatama, Reta Riayu Putri, Riani Fitrahlia, Rama Fitria Revoni, Dmitri Andriani, Faizal Ibrahim

IMG_8573

Riani Fitrahlia, Fauzan Permana Noor, Dmitri Andriani

Riani Fitrahlia, Fauzan Permana Noor, Dmitri Andriani

Trip to Sambu

Aloha December! Bonjour. Ok, belated post. Nah! December 1st, 2013 I went to Sambu Island with my bestfriend, Ika. It’s located on the northwestern side of Batam island. We enjoyed every mins of that and got a lot things to do. Ok, my mistake. 1 thing, perhaps, because all we did over there is taking photo. We took photos every sec, alright every min. Silly and kinky rofl I knew. It such a selfie day for us.

Let me tell ya from the beginning. That day…

Ika, temen gue itu sms. Kira-kira isinya gini

‘Ta, belajar biologi bareng yuk’

‘Boleh. Kapan?’

‘Siang ini.’

Ok! Di mana?’

 ‘Pulau Sambu aja. Kita belajar di pantainya’

‘WHATTTT?!! Ayooooooo!’

‘Serius mau? Yaudah nanti aku jemput di rumah jam 2, ya’

‘Ok dahlingggg’

Jam dua pun tiba. Ika menjemputku di rumahku dengan sepeda motornya. Brum brum brum. Kita membelah jalanan kota Batam yang lumayan padat pada siang Minggu itu. Ceritanya, Senin besok, ada ulangan biologi. Jadi, kami berdua mau belajar di pantai, biar konsentrasi gitu ceritanya.

Grengggggg, Ika masih membelah jalanan kota Batam. Ia menyalip siapapun yang ada di depannya. Aku mengeratkan pelukanku. Ngga lucu aja kalau jatoh terus gue ketinggalan di jalan. Ngga lucu aja. Ika, pembalap profesional tingkat RT itu masih terus konsen ke jalan yang ada di depannya. Gue yang dibonceng di belakangnya bernyanyi riang dengan senangnya. Sambu, we are coming!

Sesampainya di pelabuhan Sekupang, Ika memarkirkan motornya. Oom penjaga parkir di situ datang menyapa.

“Mau nyebrang pulau ya, dek?”

“Iya, Om,”

“Hati-hati dek,”

“Kenapa, Om?”

“Mesin boat-nya tenggelam,”

“Hah, serius, Om??”

“Iya, dek,”

“Gimana ini?”

“Duh, kalau mesinnya ngga tenggelam, boat-nya ngga bisa jalan atuh dek. HAHAHAHAHAHHAHAHAHAHAHA”

HA-HA! Lucu, iye lucu. Garing. Masih kagak percaya gue bisa ketipu sama joke garing kayak gitu. Pengin tujes-tujesin oomnya ke lantai. Rggggh! Akhirnya, gue dan Ika membeli 2 tiket dengan tujuan pulau Sambu. Sepanjang perjalanan ke Sambu, gue ga berhenti-berhentinya ngucap dalam hati. Ini boat rada serem terombang-ambing di tengah lautan, miring kanan miring kiri. Tapi, tetep, foto-fotonya ngga ketinggalan. Sesampainya di Sambu pun, kita malah samasekali ngga ada buka buku bio. Malah foto-fotooooo terus sampai unyu.

2013-12-01 14.51.24

Trip to Sambu Island

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Kantor Syahbandar Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Pulau Sambu

Mesjid Al Muhajirin Pertamina Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Pulau Sambu

Trip to Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Pulau Sambu

Trip to Sambu

Pulau Sambu

2013-12-01 15.25.00

Trip to Sambu

Pulau Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Pantai Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

2013-12-01 15.40.20

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

Trip to Sambu

2013-12-01 16.27.03

Tanpa terasa, jam telah menunjukkan pukul 16.50. Kami bergegas balik ke tepian dermaga untuk balik ke Batam. Gue deg-degan abis. Ternyata boat terakhir yang akan membawa kami pulang ke Batam baru saja pergi. Alhasil, kami berdua pun termangu diam.

“Ret, terus gimana nih?”

“Iya. Padahal kita cuma telat beberapa detik aja,”

“Sekarang kita pulang naik apa dong?”

“Berenang aja yuk,”

“Ret, serius!”

“Iya, mau gimana lagi,”

Kekekeke, guess, enggak kok. Gue sama Ika nggabeneran berenang. Gile aja bro. Kagak mungkinlah. Gue belom minat ikut cast Titanic 2 kok, ngapain nekat berenang segala. ROFL OMFGGGG hahaha. Lucky me and Ika, limabelas menit kemudian, datanglah boat yang menepi.

“Om, ke Batam, ya,” (yehhh, lu kate naik keri Batu Aji)

“Cuma dua orang?!”

“Iya,”

“Kalau dua orang, tiketnya mahal dek,”

“Jangan mahal-mahal la, Om. Kami cuma punya sedikit uang,” (pasang muka sedih)

“Yaudah, ngga usah naik kalau gitu,”

“Om, tapi itu mahal banget, Om,”

“Cari orang dulu yang banyak, baru bisa murah,”

Gue bengong. Ini pulau udah sepi, terus disuruh cari orang dulu, yang sama-sama mau ke Batam, karena kalau cuma dua orang oomnya tak mau anterin. Gimana ceritanyaaaaaaaa. Gue bengong, lagi. Di dalam pikiran gue, ya udahlah, nggak papa. Kalau nggak pulang, jadinya nggak ulangan bio (salah fokus). Luckily (unluckily) tak lama kemudian, datanglah empat orang traveler lainnya yang luckily (unluckily) mau pulang ke Batam juga. Oom sampan yang betingkah tadi menepi lagi melihat setidaknya enam orang yang bakal balik ke Batam. Ia pun memasang muka senang.

“Ayo dek, naik,”

“Berapa jadi ongkosnya, Om?”

“Murah aja kok. Gampang itu,”

Gue bengong lagi. Ini oom lupa minum obat ya tadi pagi? Setelah semuanya naik, boat tersebut pun melaju. Baru beberapa detik boat tersebut membelah lautan, guess what, boat-nya mati. Oomnya menepi lagi.

Gue keringat dingin brooo. Gue menatap oomnya tajam. Apa lagi iniiii. Oh. Ternyata oomnya isi minyak dulu brooo. Gue bengong lagi. Pengin tujes-tujesin oomnya. Beberapa menit kemudian, boat-nya pun akhirnya jalan. Oomnya membelah lautan bak Sinbad di lautan sambil menghisap cerutunya. Sedaaah.

2013-12-01 16.51.40

IMG-20131201-00515

Tak lama kemudian, akhirnya kami tiba di Batam dengan selamat. Gue nyengir lebar akhirnya. Jadi, intinya selama di Sambu, kami nggak ada buka buku bio sedikitpun. Setibanya di Batam, gileeeee brooooh. Lapeeer banget, haus juga. Jam telah menunjukkan pukul 17:40 saat perut gue bernyanyi dengan riangnya. Lalu kami kemudian berinisiatif untuk belajar bareng di rumah Raka, yang kebetulan tidak jauh dari Pelabuhan Sekupang.

Lucky me and Ika, setibanya di rumah Raka, kami langsung disuguhi roti goreng, yang digoreng langsung oleh Raka sendiri (good boy). Alit yang kebetulan juga sedang di rumah Raka geleng-geleng kepala melihat kami yang kelaparan dan kehausan balik dari Sambu.

“Kalian berdua nekat banget sih ke Sambu,”

“Iya, nih. Kalau tadi di laut kalian digigit hiu gimana?”

Gue bengong. ROFL. Alit dan Raka masih heran melihat kami berdua. Gue mah teteup ngunyah, secara laper berat brooo. Setelah kenyang, kami berempat akhirnya belajar bio bareng. Tanpa terasa, jam telah menunjukkan pukul 20.00 saat gue, Ika, dan Alit akhirnya pamit pulang. Nah, gitu bro ceritanya xoxo.

Kinky Night

ROFL

Sabtu, 16 November 2013 itu rasanya tidak ada yang berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Aku tengah menghabiskan sore itu dengan melahap novel The Litigators-nya John Grisham saat tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar. Papa ternyata, yang memberitahukan bahwa temanku sudah menunggu di bawah. Akupun mengerutkan kening. Siapa? pikirku dalam hati. Segera aku berlari menuruni dua anak tangga sekaligus dengan cekatan. Setibanya di bawah, aku mendapati Ika berdiri di sana dengan cengirannya yang khas. Ternyata ia ke rumahku untuk kembali membicarakan rencana yang telah kami susun siang tadi. Ah, hampir saja aku lupa.

Sabtu siang tadi, kami telah menyusun rencana ajaib bin kece untuk pergi keluar berdua malam Minggu ini. Akhirnya, kami memutuskan untuk menonton film. Langsung saja aku mengecek jadwal film hari itu. Akhirnya, kami berdua memutuskan untuk menonton film Carrie, horor klasik yang dibintangi Chloë Moretz. Setelah bersiap-siap untuk pergi, terlintas di benakku betapa super-duper garingnya malam Minggu ini jika hanya nonton berdua saja. Kelihatan banget kan jomblonya. Udah jomblo, ngenes lagi. Pengin rasanya aku menjedutkan kepalaku ke dinding untuk mengingatkan betapa ngenesnya nasib si jomblo akut ini. Oke, setelah kelamaan berpikir, tanpa terasa jam telah menunjukkan pukul 19:15. Lima belas menit lagi filmnya akan dimulai dan kami belum bergerak sedikitpun. Jika Vios bisa terbang sekalipun rasanya tak akan sempat untuk mengantarkan kami ke Bisokop XXI di Mega Mall dalam waktu 15 menit.

Aku membenamkan mukaku di tumpukan bantal yang ada di kamarku. Sedangkan Ika berusaha menghubungi siapapun yang bersedia menemani kami berdua nonton di malam Minggu itu. Kami mencoba menghubungi Ivo, tapi saat itu ia sedang tidak bisa keluar karena sedang berusaha mejadi anak yang baik dengan dalih menjaga Mamanya di rumah. Tak putus asa, kami mencoba mengajak Rio, yang langsung menyetujui untuk ikut menonton. Sebelumnya, kami juga menghubungi Luqman, yang juga bersedia untuk ikut menonton dengan kami, para jomblo tersedih di dunia. Rio menjemputku dan Ika di rumahku. Setelahnya, kita langsung bergegas meluncur ke Mega Mall. Di perjalanan, Rio menyanyakan alasan kami mengapa mengajaknya nonton secara tiba-tiba.

“Bosan di rumah”, jawabku dan Ika kompak.

“Memang kenapa? Ada acara?” tanyaku balik.

“Nggak kok. Aku juga bosan di rumah”, jawabnya.

Sepanjang perjalanan, Rio mencoba menyalip siapapun yang ada di depannya. Seriusan, Rio nyetirnya udah mirip kayak di Need For Speed, sampai Ika harus mengingatkan, “Rio, hati-hati. Lo bawa dua cewek cantik nih, bro.” Dengan gaya andalannya, Rio hanya bisa nyengir sambil mingkem, oke, bayangin sendiri aja ya, nyengir sambil mingkem itu gimana.

Escape Plan (film)

Jam telah menunjukkan pukul 19:30 ketika aku, Rio, dan Ika masih berjibaku untuk keluar dari kemacetan yang memenuhi jalan menuju Mega Mall. Aku menatap pasrah jam yang semakin cepat berlalu. 30 menit kemudian, aku, Rio, dan Ika sampai di Mega Mall, dan Rio akhirnya dapat memarkirkan mobilnya setelah keliling mencari lahan parkir yang kosong, mengingat ramainya Mega Mall pada malam itu. Setibanya di dalam bioskop, Luqman, telah menunggu kami di sana. Bisa ditebak, kami terlambat hampir satu jam. Rasanya sia-sia jika memaksakan untuk tetap menonton Carrie. Akhirnya, kami memutuskan untuk menonton film Escape Plan yang jam tayangnya 21:35. Jam masih menunjukkan pukul setengah sembilan yang mana artinya, kami masih harus menunggu satu jam lagi. Akhirnya, kami memutuskan untuk ke toko buku Karisma sekadar melihat-lihat, daripada mati gaya nggak tahu harus ngapain. Tak lama kemudian, Rio berkata jika ia ingin ke Hypermart untuk membeli beberapa camilan. Kemudian, kami bergegas ke Hypermart. Ceritanya, para jomblo akut ini membeli banyak cokelat dan minuman bersoda serta makanan ringan lainnya. Alhasil, camilan kami berempat, aku, Rio, Ika, dan Luqman sepanjang film bukanlah popcorn melainkan cokelat Cadbury, Pocky, Lays, Milo, dan Cocacola zero.

Cocacola zero and Cadbury

Kami mengikuti setiap alur film dengan cermat sambil sesekali tertawa atau sekadar mengomentari suatu hal yang ada di suatu scene. Di tengah-tengah film, mamaku menelepon. Jujur saja, malas sangat rasanya nak jawab telepon di dalam bioskop. Tapi, akhirnya, telepon Mama yang kesekian kali itu kuangkat, namun aku memilih tidak berbicara sepatah katapun hehe. Dalam hati, ini nyokap mau ngomong apa sih? Tak lama, sambungan terputus. Mungkin bukan terputus, tapi diputus kali, ya. Secara, sambungan telepon antar beda operator kan mahal banget. Maaf, Ma. Nggak bermaksud hehe. Tak lama kemudian, sebuah pesan dari Mama masuk ke HP-ku, yang kurang lebih isinya berbunyi:

“Kak, jangan ketiduran, ya.

Nanti ditinggal temannya”

Aku menahan ketawa ketika membaca pesan Mama di tengah-tengah film. Ini emak gue lucu banget ya. Kirain nelepon tadi mau bilang apa, ternyata oh ternyata. Tapi, nggak heran juga sih, mengingat sebelumnya, ketika menonton film midnight tepat jam 12 malam di bioskop, aku hanya menonton sekitar 10 menit di awal, karena sisanya aku hanya tidur. Parah banget kan, ya. Jadi mengingat hal itu, rasanya wajar jika Mama mengingatkan seperti itu.

Tanpa terasa film pun usai. Sylvester Stallone menunjukkan kemampuan aktingnya secara total di film Escape Plan yang kami tonton. Jam telah menunjukkan pukul setengah dua belas malam ketika kami keluar dari bioskop. Perutku berbunyi nyaring bagaikan terompet marcing band di Istana Negara. Lapar tengah malam menyergapku. Seriusan, ini perut nggak bisa diajak kompromi banget dah. Cadbury yang sepanjang film tadi kumakan rasanya tak cukup untuk mengganjal perutku. Luqman kemudian bertanya mengenai destinasi selanjutnya.

“Mau ke mana lagi nih?” tanya Luqman.

“Terserah” jawab Rio.

“Jam berapa sih memang?” tanya Ika.

“Jam setengah dua belas” jawabku.

“McD’s aja yuk”, usulku berikutnya.

“Lapar”, aku menambahkan dengan menunjukkan puppy’s eyes terbaikku.

Akhirnya Rio, Ika dan Luqman langsung menyetujui usulku. Kami berempat kemudian bergegas ke McD’s menggunakan mobil Luqman, sementara mobil Rio tetap ditinggal di parkiran atas Mega Mall. Tak butuh waktu lama untuk menembus jalanan yang dapat dikatakan lengang di dini hari itu. Tak lama kemudian, tibalah kami di McD’s. Namun, karena penuhnya parkiran, lagi dan lagi, akhirnya kami terpaksa memarkirkan mobil di seberang  jalan yang cukup jauh dari McD’s. Hal itu sayangnya tak menyurutkan semangat kami, khususnya aku untuk menyerbu McD’s.

Rio dan Luqman memesan Happy Meal burger dan french fries, sementara aku dan Ika memilih memesan porsi besar Panas Spesial. Rio menatapku heran ketika melihat pesananku sembari menanyakan pertanyaan terjujur yang pernah kudengar,

“Nggak takut gendut, Ret?” tanyanya polos. Aku kemudian memerhatikan makanan yang kupesan. Lalu aku bertanya balik,

“Memang aku gendut, ya?” tanyaku balik.

“Enggak kok, kurus”, jawabnya yang membuat hati ini seketika menjadi tenang. Lu kate bro.

Tapi, memang namanya lapar mata, alhasil, aku tidak dapat menghabiskan makananku yang masih banyak. Rio menatapku kasihan.

“Kubantu ya”, ujar Rio.

McDonald's

Saking kompaknya, Ika pun juga tidak dapat menghabiskan makanannya. Kami berdua seketika menjadi kenyang. Jadilah, Rio dan Luqman membantu aku dan Ika menghabiskan Panas Spesial yang tidak sanggup kami habiskan itu. Aku memerhatikan bule paruh baya di sampingku yang tengah menggigit burger-nya dengan lahap sementara menunggu Rio menghabiskan Panas Spesialku. Oke, ini agak ajaib bin ngakak. Ini double date tergagal yang pernah ada kan, ya. Ketika empat jombo berkumpul menghabiskan Sabtu malam dengan menonton film yang dilanjutkan dengan sarapan dini hari di McD’s. Duh, udah jomblo, ngenes lagi (jedutin kepala ke dinding). Jam tanpa terasa telah menunjukkan pukul satu pagi, ketika kami masih duduk di McD’s bercerita tentang apa saja. Dasar bocah random. Hingga akhirnya, aku berdiri dan memutuskan untuk memesan McFlurry. Rio, lagi-lagi menatapku heran sembari bertanya untuk kesekian kalinya,

“Nggak takut gendut, Ret?” Ih, nih akan pengin aku tujes-tujesin ke lantai. Pertanyaannya itu loooh, minta dikekep banget kan. Seketika aku mengurungkan niatku. Lalu ia kemudian memberikan cengiran terbaiknya dengan memamerkan deretan giginya,

“Nggak kok nggak gendut. Beli aja gih sana”, ujarnya polos. Seketika aku kembali berdiri dan tanpa ragu lagi membeli McFlurry. Sekitar pukul jam setengah dua pagi, akhirnya kami memutuskan untuk kembali lagi ke Mega Mall, mengambil mobil Rio yang masih terparkir di atas sana.

Di perjalanan, Rio menatapku yang masih melahap McFlurry dengan pandangan takjub.

“Kenapa?” tanyaku yang mulai jengah dilihatin begitu.

“Mau?” tawarku.

“Enggak. Udah kenyang”, jawabnya sambil memamerkan deretan giginya dan menatapku maklum. Akhirnya, kami harus berpisah setelah itu dengan Luqman sementara Rio mengantarkan aku dan Ika pulang, di mana Ika akhirnya memutuskan untuk setuju menginap di rumahku. Jadi, itulah akhir kisah jomblo ngenes yang menghabiskan malam Sabtunya hingga Minggu dini hari. Asli jomblo kok. Sedikit ngenes, tapi keren kan, ya.